TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Bagi Azis Abdullah Bajasud, kehilangan kemampuan fisik bukanlah akhir dari perjalanan.
Justru dari pengalaman hidup sebagai penyandang disabilitas itulah ia memahami satu hal: yang paling dibutuhkan bukan sekadar bantuan, melainkan kesempatan.
Keyakinan itu yang kemudian melahirkan Komunitas Difabel Mandiri (KDM) pada 2017.
Bermula dari obrolan dengan beberapa penyandang disabilitas yang sama-sama berusaha bertahan lewat usaha kecil, Azis melihat persoalan mereka hampir serupa.
Banyak yang memiliki keterampilan, tetapi kesulitan menjual hasil karya.
Tidak sedikit pula yang akhirnya hanya menunggu bantuan sosial karena tak memiliki akses pekerjaan.
"Saya ingin mengubah cara pandang itu. Difabel juga bisa bikin usaha, bisa menciptakan pekerjaan, bukan hanya menerima bantuan," tuturnya.
Dari semangat tersebut, KDM perlahan tumbuh menjadi ruang saling menguatkan. Jika ada satu anggota memperoleh pesanan dalam jumlah besar, anggota lain ikut membantu mengerjakan.
Ketika ada informasi pameran atau pelatihan, semuanya saling berbagi kabar. Tidak ada persaingan di antara mereka, yang ada justru gotong royong agar semua bisa bertahan.
Baca juga: Resmi Berubah, Daftar Harga Bahan Bakar Minyak BBM Terbaru Sabtu 27 Juni 2026, Turun Rp3.000
Kini komunitas itu menaungi sekitar 35 anggota dari Kota Semarang dan Kabupaten Semarang. Bidang usahanya pun beragam, mulai dari kuliner, kerajinan kayu, konveksi, elektronika, hingga produk berbahan limbah.
Masing-masing memiliki cerita perjuangan sendiri, tetapi dipersatukan oleh tujuan yang sama: hidup mandiri melalui usaha.
Azis pun menjadi contoh bahwa keterbatasan tidak menghalangi seseorang untuk terus berinovasi.
Berawal dari usaha optik, ia kemudian mengembangkan kacamata berbahan limbah kayu yang pernah dipamerkan di berbagai ajang nasional.
Produknya bahkan sempat dibeli Presiden RI ke-7 Joko Widodo dalam pameran UMKM di Jakarta Convention Center.
Pengalaman itu membuka jalan bagi Azis untuk semakin sering mengikuti pameran dan membangun jejaring usaha.
Namun, setiap pencapaian itu tidak pernah ia nikmati sendiri.
Baginya, keberhasilan baru berarti ketika mampu mengangkat teman-teman difabel lainnya.
Karena itulah, KDM tidak pernah menjadikan bantuan modal sebagai tujuan utama.Yang lebih mereka butuhkan adalah akses pasar.
Sebab, tanpa pembeli, mesin produksi akan berhenti, keterampilan tidak terpakai, dan harapan untuk hidup mandiri perlahan memudar.
"Kalau hanya diberi modal, suatu saat habis. Tapi kalau dibantu pasarnya, kami bisa terus bekerja. Teman-teman juga punya penghasilan," kata Azis.
Harapan berikutnya pun sederhana.
Ia ingin Kota Semarang memiliki ruang khusus bagi UMKM difabel untuk memasarkan produknya secara berkelanjutan, seperti sentra UMKM di sejumlah kota lain.
Bukan bangunan megah yang ia bayangkan.
Azis hanya berharap ada satu sudut di Kota Semarang yang bisa menjadi etalase tetap bagi karya-karya penyandang disabilitas.
Sebuah shelter sederhana yang membuat masyarakat mudah menemukan produk mereka tanpa harus menunggu pameran datang.
"Harapannya produk kami bisa masuk di Kota lama sebagai shelter, jadi produk teman-teman bisa dipamerkan di situ," ujarnya.
Selama ini, menurutnya, sebagian besar pelaku UMKM difabel hanya mengandalkan bazar atau pameran yang sifatnya sementara.
Setelah kegiatan selesai, mereka kembali berjualan sendiri-sendiri dengan pasar yang terbatas.
"Kalau ada tempat memajang produk tetap, kami siap bayar retribusi. Yang penting ada tempat untuk jualan dan orang tahu harus mencari produk kami ke mana," ujarnya.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Selama mendampingi anggota KDM, Azis melihat persoalan yang dihadapi hampir selalu sama.
Banyak di antara mereka memiliki keterampilan, mampu menghasilkan produk yang layak dijual, tetapi kesulitan mempertemukannya dengan pembeli.
Karena itu, setiap kali ada anggota yang memperoleh pesanan dalam jumlah besar, pekerjaan dibagi kepada anggota lain.
Ada yang mengerjakan proses produksi, ada yang membantu pengemasan, ada pula yang mengurus pengiriman.
Dengan cara itu bukan hanya mempercepat pekerjaan, tetapi juga memastikan lebih banyak anggota memperoleh penghasilan.
"Kalau saya dapat order, saya tidak mungkin mengerjakan sendiri. Teman-teman saya ajak semua supaya mereka juga dapat pemasukan," katanya.
Semangat berbagi itulah yang membuat KDM tetap bertahan hingga kini.
Di tengah naik-turunnya usaha, mereka terus mencoba berbagai peluang.
Selain mengembangkan kacamata berbahan limbah kayu dan briket arang, Azis kini bereksperimen mengolah tutup botol plastik menjadi papan daur ulang yang dapat diolah menjadi meja, kursi, hingga produk dekorasi.
Ide itu ia bawa sepulang mengikuti pameran di Bali. Di sana, ia melihat limbah plastik bukan lagi dipandang sebagai sampah, melainkan bahan baku industri kreatif yang memiliki nilai jual tinggi.
"Saya pikir, kalau daerah lain bisa, kenapa Semarang tidak?" ujarnya.
Meski berbagai inovasi terus dilakukan, Azis menyadari satu hal yang belum berubah: perjuangan pelaku UMKM difabel akan selalu membutuhkan ruang untuk bertumbuh.
Bukan belas kasihan, melainkan kesempatan untuk menunjukkan bahwa karya mereka mampu bersaing. (Rezanda Akbar)