TRIBUNJATENG.COM, BATANG – Fenomena meningkatnya kasus perundungan (bullying), kecemasan, hingga depresi pada kalangan pelajar mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang memasukkan edukasi kesehatan jiwa sebagai salah satu materi dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa SMP dan SMA/SMK pada tahun ajaran baru 2026, dengan melibatkan tenaga kesehatan dari puskesmas sebagai narasumber di sekolah-sekolah.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Ida Susilaksmi, mengatakan puskesmas di seluruh wilayah Batang telah disiapkan untuk mendukung kegiatan MPLS melalui penyuluhan berbagai isu kesehatan yang relevan bagi remaja.
"Kalau misalnya ada kegiatan itu, nanti minta ke puskesmas wilayah setempat untuk menjadi narasumber," kata Ida Susilaksmi kepada Tribunjateng, Jumat (26/6/2026).
Selain materi kesehatan fisik seperti Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), kesehatan reproduksi, Kawasan Tanpa Rokok (KTR), dan pencegahan anemia pada remaja putri, Dinkes juga memberikan perhatian khusus pada kesehatan mental pelajar.
Menurut Ida, persoalan psikologis yang kini banyak muncul di lingkungan sekolah tidak hanya berasal dari tindakan perundungan secara langsung, tetapi juga dari tekanan sosial yang dirasakan siswa saat berinteraksi dengan teman sebaya yang memiliki latar belakang ekonomi dan sosial yang beragam.
"Masalah-masalah siswa kan bullying. Terus tadi, anak yang misalnya lingkungannya, karena sekarang ini kan pakainya zonasi, jadi variasi kelas sosialnya juga kan tinggi.
Jadi kan ada anak yang kadang merasa tidak bisa mengimbangi teman-temannya," ujarnya.
Baca juga: BK DPRD Kota Semarang Belum Bisa Proses Dugaan Anggota Digrebeg Istri di Tempat Pijat Plus-plus
Ia menambahkan, kondisi tersebut sering kali membuat sebagian siswa merasa rendah diri dan tertekan meskipun tidak mengalami perundungan secara langsung dari teman - temannya.
"Itu juga jadi merasa, dia terbully dengan sendirinya, bukan dibully orang lain," jelasnya.
Untuk mendeteksi potensi gangguan kesehatan mental sejak dini, Dinkes akan melibatkan petugas kesehatan jiwa dari puskesmas untuk memberikan edukasi sekaligus melakukan skrining awal kepada para siswa menggunakan instrumen ceklis yang telah disiapkan.
"Terkait kesehatan jiwa nanti ada petugas dari puskesmas yang memang menangani kesehatan jiwa, memberikan edukasi secara umum sekaligus melakukan skrining awal," jelasnya.
Sementara itu, materi pencegahan penyalahgunaan narkoba dalam MPLS akan dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan kepolisian.
Namun apabila belum terjangkau oleh program BNN, tenaga kesehatan dari puskesmas akan mengisi materi tersebut.
"Kadang kalau misalnya itu ya dari puskesmasnya sendiri yang menyampaikan. Kan di puskesmas juga ada dokter, ada perawat, ada orang-orang yang memang sudah mengerti terkait dengan itu," tutupnya. (Ito)