Laporan Wartawan TribunJatim.com, Willy Abraham
TRIBUNJATIM.COM, GRESIK - Bentuk kepedulian PT Freeport Indonesia (PTFI) dalam menjaga kelestarian lingkungan ditunjukkan melalui kegiatan penanaman mangrove di Dusun Nambi, Desa Karangrejo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Kegiatan penanaman mangrove ini juga dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.
Baca juga: Gus Obi Bantah Adukan Plt Bupati Tulungagung Soal Penipuan Titik SPPG hingga Rugi Rp950 Juta
Kegiatan yang mengusung tema 'Be the Solution, Not the Pollution: Recycle and Conserve' ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan PTFI dalam mendukung aksi iklim dan konservasi lingkungan pesisir.
Total target adalah 50.000 bibit mangrove yang tersebar di desa-desa sekitar area operasi Smelter PTFI.
Vice President External Affairs Smelter PTFI, Erika Silva mengatakan, penanaman mangrove bagian dari komitmen perusahaan yang telah dimulai sejak tahun 2025.
"Kegiatan ini merupakan program PT Freeport Indonesia yang mengajak para relawan dari berbagai kelompok usia dan berasal dari berbagai latar belakang untuk bergotong royong menanam mangrove," ujar Erika setelah penanaman mangrove yang berlangsung Sabtu, 6 Juni 2026.
Menurut Erika, mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Pertama, mangrove berfungsi sebagai pelindung pantai dari abrasi dan gelombang besar.
Kedua, mangrove merupakan penyerap karbon yang sangat efektif.
Selain itu, mangrove juga menjadi habitat bagi berbagai biota laut yang menopang kehidupan masyarakat pesisir.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik, Sri Subaidah, mengapresiasi langkah nyata yang dilakukan PTFI dalam mendukung pelestarian lingkungan.
Menurutnya, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia harus menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dalam menghadapi krisis iklim yang saat ini terjadi secara global.
"Kami sangat menyambut baik langkah dari PTFI. Pelestarian mangrove dengan konsep silvofishery ini memberikan dampak langsung, tidak hanya bagi perlindungan lingkungan dari dampak perubahan iklim, tetapi juga menjaga produktivitas komoditas perikanan tambak warga," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik, Sri Subaidah.
Menurutnya, Sinergi seperti inilah yang dibutuhkan ke depan.
Sebagai kawasan industri, lanjut Sri, Kabupaten Gresik membutuhkan lebih banyak ruang hijau dan kawasan konservasi seperti hutan mangrove.
Ia berharap, langkah yang dilakukan PTFI dapat menjadi inspirasi bagi perusahaan-perusahaan lain yang beroperasi di Gresik.
Kepala Desa Karangrejo, M Miftahul Ilmi, menyampaikan apresiasinya atas perhatian yang diberikan PTFI kepada masyarakat pesisir di wilayahnya.
Menurutnya, sejak kehadiran smelter PTFI di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) Gresik, perusahaan tersebut aktif membantu masyarakat sekitar melalui berbagai program lingkungan.
"Baru kali ini Desa Karangrejo dikunjungi banyak tokoh dan pihak yang peduli terhadap lingkungan. Kami berterima kasih kepada PTFI yang sejak awal hadir di Gresik telah memberikan perhatian kepada desa kami," katanya.
"Mangrove memberikan manfaat besar bagi tambak masyarakat. Air menjadi lebih stabil dan kualitas lingkungan tambak meningkat sehingga pertumbuhan ikan dan udang menjadi lebih baik," ujarnya.
Miftahul berharap, program konservasi mangrove yang dijalankan PTFI dapat terus berlanjut karena memberikan dampak nyata bagi lingkungan pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.