TRIBUNNEWS.COM - Kecelakaan yang melibatkan kereta api antarkota dan KRL di perlintasan sebidang dekat Stasiun Bekasi Timur beberapa waktu lalu masih menyisakan duka sekaligus tanda tanya.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa keselamatan di perlintasan kereta api bukanlah tanggung jawab satu pihak semata, melainkan membutuhkan keterlibatan banyak pemangku kepentingan.
Lokasi kejadian sendiri dikenal sebagai salah satu jalur yang cukup sibuk. Setiap hari, kendaraan roda dua, roda empat, hingga pejalan kaki melintasi kawasan tersebut bersamaan dengan tingginya frekuensi perjalanan kereta api.
Aktivitas yang padat membuat aspek keselamatan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Insiden tragis ini kemudian memunculkan berbagai diskusi di tengah masyarakat.
Sebagian menyoroti perilaku pengguna jalan, sementara yang lain mempertanyakan kondisi infrastruktur keselamatan yang tersedia di lokasi kejadian.
Namun, pakar perkeretaapian UMY Prof. Ir. Sri Atmaja Putra Jatining Nugraha Nasir Rosyidi menyatakan bahwa menggali akar masalah secara objektif lebih penting ketimbang mencari siapa yang harus disalahkan.
"Hal ini penting agar seluruh pemangku kepentingan dapat melakukan perbaikan demi mencegah kejadian serupa di masa depan," ucap Sri Atmaja, mengutip laman resmi UMY, Minggu (4/5/2026).
Guru Besar Teknik Sipil UMY itu menekankan keselamatan sebagai kombinasi elemen teknologi, manajemen, serta faktor manusia. Maka itu, kesadaran kolektif dari masyarakat juga menjadi fondasi utama dalam menciptakan sistem transportasi publik yang aman.
"Oleh karena itu, seluruh pihak mulai dari operator, regulator, hingga masyarakat harus memiliki kesadaran risiko yang tinggi. Jika budaya keselamatan sudah tertanam, maka sistem akan berjalan lebih efektif. Targetnya jelas: Zero Accident!" tuturnya.
Baca juga: Berkaca Tragedi Stasiun Bekasi Timur, Pemerintah Diminta Evaluasi Sistem Keselamatan Transportasi
Salah satu fakta yang menjadi perhatian publik adalah kondisi perlintasan sebidang JPL 86 di dekat Stasiun Bekasi Timur yang diketahui belum memiliki palang pintu sebelum kecelakaan terjadi.
Padahal, keberadaan palang pintu merupakan salah satu perangkat penting untuk membantu meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan saat kereta akan melintas. Meski bukan satu-satunya faktor penentu keselamatan, keberadaan fasilitas tersebut dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan bagi masyarakat.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Perhubungan diketahui telah mengajukan permohonan pembangunan palang pintu di lokasi tersebut sebanyak dua kali sejak tahun 2022. Fakta ini menunjukkan bahwa kebutuhan peningkatan keselamatan di titik tersebut sebenarnya telah menjadi perhatian sejak beberapa tahun lalu.
Tak lama setelah kecelakaan, dari laporan TribunBekasi.com, palang pintu otomatis akhirnya dipasang di perlintasan sebidang Jalan Ampera, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Rabu (13/5/2026). Langkah tersebut menjadi respons cepat untuk meningkatkan aspek keselamatan sembari menunggu solusi yang lebih permanen.
"Kemarin, Selasa (12/5/2026) baru terpasang kayanya, soalnya saya kemarin lewat udah ada," kata Saiful Ikram selaku pengendara motor yang kerap melintasi lokasi, Rabu (13/5/2026).
Saiful berharap pemasangan serupa juga dapat diterapkan di perlintasan sebidang Jalan Bulak Kapal, Kecamatan Bekasi Timur. Sebab menurutnya, intensitas kendaraan justru lebih tinggi di Jalan Bulak Kapal, jika dibandingkan Ampera.
"Bagus ada palang otomatis ini, tapi saya harap di Bulak Kapal juga ada, soalnya aktivitas lalu lalang kendaraan lebih banyak di sana juga," tutupnya.
Namun demikian, banyak pihak menilai pemasangan palang pintu saja belum cukup. Mengingat tingginya volume kendaraan dan frekuensi perjalanan kereta api, diperlukan solusi jangka panjang yang mampu menghilangkan potensi konflik antara pengguna jalan dan perjalanan kereta.
Dalam berbagai kesempatan, solusi berupa pembangunan perlintasan tidak sebidang seperti flyover dan underpass mulai sering disebut sebagai langkah paling efektif untuk meningkatkan keselamatan lalu lintas.
Berbeda dengan perlintasan sebidang yang mempertemukan kendaraan dan kereta api pada titik yang sama, infrastruktur tidak sebidang mampu memisahkan keduanya secara fisik. Dengan demikian, risiko kecelakaan dapat ditekan secara signifikan.
Pakar transportasi ITS Prof Ir Hera Widyastuti MT PhD juga menyoroti kelemahan perlintasan sebidang yang sangat bergantung dengan palang pintu dan kepatuhan manusia. Sementara kereta api masuk dalam kategori heavy train dapat melaju hingga 110 kilometer per jam dan tidak dapat berhenti secara mendadak.
Maka itu, Hera menekankan bahwa perlintasan tidak sebidang merupakan solusi teknis paling efektif untuk meminimalisir risiko kecelakaan di jalur kereta. Ia berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan infrastruktur perlintasan tidak sebidang.
“Jika kita ingin menghindari benturan langsung, maka perlintasan tidak sebidang adalah jawaban utamanya,” ucap Hera dikutip dari laman resmi ITS.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi juga menyadari bahwa palang pintu saja tidak efektif. Maka itu, Pemkot Bekasi merencanakan menutup perlintasan sebidang kereta di sejumlah wilayah.
Namun, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto mengatakan, penutupan akan dilakukan usai pemerintah rampung membuat flyover di Bulak Kapal. Ia menjelaskan, penutupan akses usai hadirnya flyover diputuskan usai mempertimbangkan sejumlah aspek.
"Kami tutup permanen Ampera dan Bulak Kapal. Tapi tentu diawali dengan pembangunan flyover di Bulak Kapal. Pertimbangan karena kami tahu distribusi untuk jalan sangat berbatas. Semua nanti akan bergantung, mereka lewatnya ke Jalan Nonon Sonthanie yang ada di RS Bella, itu tentu akan membuat crowded, macet dan lain sebagainya, menambah beban warga masyarakat," kata Tri saat dikonfirmasi TribunBekasi.com.
Di sisi lain, Pemkot Bekasi pun telah melangsungkan pembebasan lahan dengan mengeluarkan anggaran sebesar Rp116 miliar guna pembangunan flyover sesuai arahan Presiden Prabowo. Pembebasan lahan pun dipastikan Wali Kota Bekasi Tri akan rampung dalam waktu dekat.
Pembangunan infrastruktur semacam ini memang membutuhkan waktu, koordinasi lintas lembaga, serta investasi yang tidak sedikit. Namun jika melihat dampak yang dapat ditimbulkan oleh sebuah kecelakaan, pembenahan infrastruktur keselamatan seharusnya menjadi prioritas bersama.
Tragedi Bekasi Timur menunjukkan bahwa keselamatan transportasi tidak bisa hanya mengandalkan kedisiplinan pengguna jalan atau prosedur operasional semata. Dukungan infrastruktur yang memadai juga menjadi bagian penting dalam menciptakan sistem transportasi yang lebih aman.
Baca juga: Ketua KNKT: Tuntaskan Investigasi Kecelakaan Kereta Bekasi Timur Butuh 2 Bulan
Di tengah berbagai spekulasi yang berkembang pasca-tragedi Bekasi Timur, proses investigasi yang dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menjadi salah satu hal yang paling dinantikan. Sebab, hasil investigasi diharapkan mampu memberikan gambaran menyeluruh mengenai rangkaian kejadian yang terjadi pada malam nahas tersebut.
KNKT diketahui telah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap berbagai aspek teknis, termasuk sistem persinyalan kereta api. Pengujian dilakukan untuk memastikan bagaimana fungsi dan respons sistem bekerja saat peristiwa terjadi, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin berkontribusi terhadap kecelakaan.
Hasil investigasi tersebut dapat membantu seluruh pihak memahami peristiwa secara objektif berdasarkan data dan fakta di lapangan.
Terlebih, aparat kepolisian juga telah menjelaskan bahwa penanganan insiden kendaraan yang tertemper kereta sebelumnya merupakan perkara yang berbeda dengan kecelakaan kereta yang kemudian terjadi di kawasan Bekasi Timur.
Karena itu, berbagai pihak kini menunggu hasil akhir investigasi KNKT yang diharapkan mampu mengungkap akar persoalan secara komprehensif. Temuan tersebut nantinya tidak hanya berguna untuk menjelaskan kronologi kejadian, tetapi juga menjadi dasar bagi regulator, operator transportasi, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun langkah-langkah perbaikan.
Di sisi lain, Tragedi Bekasi Timur telah menjadi pengingat bahwa keselamatan transportasi membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Infrastruktur yang memadai, sistem operasional