Toko Merah di Batavia, Berubah Warna saat Jadi Toko Pedagang Tionghoa
Moh. Habib Asyhad June 27, 2026 12:34 PM

Toko Merah di Kota Tua Batavia dulu berwarna putih -- seperti bangunan-bangunan peninggalan Belanda pada umumnya. Konon berubah warna saat jadi toko milik pengusaha Tionghoa.

Tayang pertama di Majalah Intisari edisi Juni 1982 dengan judul "Dari Abad ke-17 Tetapi Tetap Bergaya"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Bangunan itu lazim disebut “Toko Merah”. Letaknya di Jl. Kali Besar Jakarta Kota.

Gedung ini, andaikata manusia, akan kita samakan dengan nenek yang dandanannya agak “norak”. Dari jauh sudah kelihatan, karena mukanya dipoles seperti bata merah darah. Apakah hal ini sesuai dengan aslinya, itu soal lain.

Namun bahwa Jakarta masih punya gedung demikian tua yang masih terawat baik seperti gedung ini, memang pantas dibanggakan.

Dari rumah-rumah Belanda peninggalan abad ke-18, rumah ini termasuk salah satu yang paling utuh dan yang paling terpelihara. Paling tidak yang ada di dalam tembok kota asli Batavia.

Dengan kota asli Batavia yang dimaksud adalah kota yang dilingkungi tembok kota dan parit pertahanan, yang di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa (Pasar Ikan), di sebelah timur parit luar kota ditarik hampir lurus dari laut ke arah selatan sampai di tempat yang sekarang menjadi Jalan Lada sampai sekitar Stasiun Kota lalu membelok ke arah barat sampai sekitar Roa Malaka Selatan untuk berbelok ke arah utara sekitar Jalan Pejagalan dan terus sampai ke laut.

Itulah kota yang dibangun Belanda menurut model kota di negerinya sendiri.

Jalan Pintu Besar Selatan yang dulunya bernama Buiten Nieuwpoortstraat sudah terletak di luar tembok kota (buiten = luar; nieuwpoort = gerbang baru). Jika kini jalan itu sudah penuh dengan bangunan bertingkat modern, dulu ia adalah daerah pemukiman terkemuka.

Dalam perkembangan kemudian, kota meluas ke arah barat dan timur, tetapi lebih-lebih ke arah selatan. Perkembangan ke arah ini terjadi sepanjang parit yang mereka beri nama Molenvliet.

Dalam abad ke-18 pada kedua tepi Molenvliet itu timbul rumah-rumah tinggal yang megah dengan halaman luas serta terpelihara baik. Yang kini masih tinggal hanyalah satu, yakni rumah Reinier de Klerk yang kini menjadi kantor Arsip Nasional Jalan Gajah Mada 111.

Antara rumah-rumah Belanda abad ke-18 yang dibangun di dalam kota Batavia (artinya dalam lingkungan tembok kota yang disebutkan di atas) dengan yang berada di luarnya terdapat perbedaan yang besar. Yang pertama paling dekat dengan contoh aslinya dan memakai sistem dan susunan sama dengan rumah Belanda di negerinya sendiri.

Sedang yang dibangun di luar tembok kota sedang dalam proses menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Penyesuaian ini kelak mencapai puncaknya pada rumah-rumah besar di Weltevreden, ketika orang Belanda sudah insyaf benar bahwa rumah yang sehat dan nyaman didiami adalah yang disesuaikan dengan alam lingkungannya dan mereka menerima pengaruh rumah Indonesia serta gaya bangunan Iain-lain.

Pada mulanya ketika mendirikan kota Batavia, orang Belanda bermaksud hendak memindahkan bulat-bulat sebuah kota Belanda lengkap dengan rumah-rumahnya, jalan-jalannya yang lurus bersiku-siku, parit-parit kota dengan jembatannya ke kota baru ini.

Seperti juga di negeri asalnya, rumah-rumah di dalam kota dibuat bertingkat dan berhimpitan tanpa halaman depan maupun samping. Bubungan atapnya selalu sejajar dengan tampak depan rumah.

Atap rumah berikut langit-langitnya tidak berhenti pada dinding depan tetapi diteruskan menjorok ke depan sehingga merupakan pelindung terhadap hujan dan panas.

Ciri lainnya ialah bentuk atapnya yang menjulang curam ke atas. Maksudnya untuk menahan panas matahari sebanyak mungkin di ruang atas.

Pada kedua puncak hubungan atap ada semacam tonggak batu yang sebenarnya sebuah cerobong asap buntu. Kemudian berkembang menjadi hiasan puncak bubungan yang masih sering didapati pada rumah-rumah yang dibangunkan dalam abad ke-19.

Wajah depan rumah Belanda itu tampak sangat kaku dan polos: tembok yang dikapur putih dengan kusen-kusen yang dicat hijau. Kesederhanaan ini terlihat juga pada gedung Balai Kota (kini Museum Jakarta di Taman Fatahillah) yang dibangun pada masa kejayaan Kompeni.

Hiasan yang utama sebuah rumah adalah pintu masuk yang sering dibingkai dengan kusen batu yang megah berhias. Ambang pintu terbuat dari batu alam yang didatangkan dari Koromandel (India Selatan).

Pintu masuk biasanya berukuran besar dan mengesankan. Seringkali dihias panel-panel yang dikerjakan dengan bagus, tempat lubang kunci berhias (mode ini sekarang dihidupkan kembali di rumah sebagian orang kaya) dan pegangan penarik pintu.

Kadang-kadang kusen terbuat dari batu berpahat ini sampai mencapai langit-langit rumah.

Agaknya mula-mula pintu masuk itu terdiri atas dua bagian atas dan bawah. Sekitar permulaan abad ke-18 jendela besar di atas pintu masuk (bovenlicht) itu masih belum menjadi mode.

Pada rumah-rumah tua yang masih ada sekarang, jendela di atas pintu masuk ini selalu ada. Bentuknya yang paling sederhana ialah sebuah kusen terbuka persegi dengan terali kayu tegak sebagai pelindung terhadap pencuri.

Pada masa-masa kemudian jendela ini dihiasi dengan ukiran kayu, yang kadang-kadang menutupi keseluruhannya. Contohnya dapat dilihat pada pintu masuk rumah di Kali Besar Barat yang kini menjadi gedung The Chartered Bank.

Ukiran aslinya bukan dari rumah ini, tetapi dipasangkan kemudian sesudah pemugarannya. Pada foto yang dibuat sebelum tahun 1923, jendela di atas pintu masuk hanya jendela persegi dengan kaca persegi kecil-kecil, seperti yang menghias jendela-jendela lainnya.

Kedua singa batu yang ditaruhkan di kiri dan kanan pintu masuk merupakan tambahan baru, begitu pula kedua lampu pada pintu. Selain itu tentunya di dalam diadakan perubahan-perubahan, untuk menjadikan gedung tua ini cukup pantas untuk dijadikan kantor sebuah bank, tetapi tampaknya pemiliknya memang berusaha untuk mempertahankan dan memelihara apa yang masih ada.

Sebuah tangga yang berasal dari rumah ini dipindahkan ke rumah kecil di sebelah kanannya, yang pernah dipakai untuk kantor asuransi P.T. Ramayana.

Masalah yang cukup gawat pada rumah model Belanda ialah penerangan dan peredaran udara. Keduanya hanya bisa masuk secara terbatas sekali.

Akibat cara membangun berhimpitan sehingga antara rumah tetangga hanya dipisahkan oleh tembok bersama, maka tak mungkin untuk membuat jendela samping. Udara dan cahaya hanya bisa masuk dari depan dan belakang.

Udara hanya bisa masuk jika pintu atau jendela dibuka. Kalau pintu ditutup, tinggal jendela persegi di atas pintu yang berfungsi, sebagai lubang angin, kecuali kalau sudah diganti dengan potongan kaca persegi kecil-kecil.

Halaman dalam tidak banyak memberikan udara maupun cahaya, karena tembok-tembok tinggi di sekelilingnya tak banyak menerima sinar matahari langsung dan aliran udara tak beredar. Dapat dibayangkan bahwa ruang bawah dengan kamar-kamarnya selalu dalam keadaan remang-remang dan lembab.

Tetapi bukankah waktu itu orang Belanda menutup rumahnya rapat-rapat karena takut kepada "udara busuk" yang katanya datang dari laut, dan rawa-rawa di sekitarnya yang dianggap sebagai pembawa penyakit? Tidak mengherankan bahwa rumah-rumah kuno ini tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan.

Pada bagian belakang rumah yang dipisahkan oleh halaman dalam (pada rumah berukuran kecil halaman ini luasnya hanya beberapa meter persegi, kadang-kadang hanya cukup untuk sebuah sumur dan tempat mencuci) terdapat bangunan tambahan yang bagian bawahnya dipergunakan untuk gudang, dapur, dan kakus.

Tingkat atasnya merupakan kamar-kamar bagi budak belian. Kamar kecilnya tak mempunyai tempat penampungan di bawah tanah; di dalamnya hanya ada sebuah kursi berlubang dan tempat penampungan berupa tong besar.

Tong itu tiap pagi dibawa keluar lalu isinya dibuang di parit yang biasanya mengalir di depan rumah. Karena rumah-rumah semacam ini tak ada gangnya atau pintu belakangnya, maka tong-tong itu harus melewati ruangan rumah dan melewati pintu-masuk!

Pada rumah-rumah yang besar kesulitan itu dipecahkan dengan meneruskan rumah itu sampai jalan yang ada di belakangnya. Misalnya rumah di Kali Besar Barat diperluas sampai bagian belakangnya menembus ke Roa Malaka Selatan.

Dengan demikian ada pintu tersendiri untuk hal-hal yang tidak pantas melewati rumah induk. Di samping itu orang kaya memerlukan kereta, jadi bagian belakang rumah yang keluar di Roa Malaka itu digunakan untuk keluar-masuknya kereta, sekaligus tempat menaruh kereta, istal kuda, rumah sais dan sebagainya.

Kembali ke “Toko Merah” di Kali Besar Barat, tidak jelas mengapa diberikan nama itu. Mungkin dulunya pernah dicat merah, atau memang pernah bernama begitu waktu masih berfungsi sebagai toko milik seorang Cina pada pertukaran abad ini.

Yang jelas warna merah dinding depannya itu tidak asli, juga motif bata-batanya. Seperti dikatakan di atas, rumah-rumah masa itu dicat putih polos.

Sebenarnya rumah ini merupakan dua rumah di bawah satu atap (perhatikan adanya dua pintu masuk). Kedua rumah ini pernah menjadi milik Gubernur Jenderal Van Imhoff (1743-1750).

Rumah yang sebelah Utara pernah menjadi Academie de Marine, suatu tempat pendidikan perwira-perwira laut Kompeni. Kemudian rumah-rumah itu jatuh ke tangan Philippine Theodora Mossel dan suaminya yang kedua, Nicolaas Hartingh.

Philippine adalah putri Gubjen Jacob Mossel (1750-1761). Dalam tahun 1786 kedua rumah itu dibeli untuk dijadikan penginapan untuk pria.

Sewaktu menjadi toko Cina, pihak museum mengadakan perundingan dengan pemiliknya untuk mendapatkan pintu, jendela, tegel dan sebagainya untuk ditaruh di dalam museum. Pemiliknya diberi ganti dengan buatan baru.

Bagian-bagian rumah yang berasal dari kamar samping rumah ini dalam keadaan yang sangat baik, masih dapat kita lihat dalam "Kamar Kompeni" di Museum Nasional di Jalan Merdeka Barat. Jendela angin di atas pintu berpahat tokoh wanita membawa teleskop berasal dari masa ketika rumah itu masih dijadikan akademi angkatan laut.

Gedung itu pernah dipakai sebagai kantor oleh P.T. Dharma Niaga. Keadaannya terpelihara baik. Bagian-bagian kayu yang terbuat dari jati nampak masih kokoh.

Memang rumah-rumah dari masa itu pengerjaannya sangat baik sehingga bisa bertahan lebih dari dua ratus tahun. Sayang bahwa rumah-rumah kuno ini dulu banyak yang ditelantarkan, menjadi rusak lalu digantikan dengan bangunan baru yang tak berarti.

Bahwa bangunan kuno yang dipelihara baik dan dipugar masih bisa berguna dan tetap bisa dimanfaatkan sehari-hari, terbukti dari kedua gedung di jalan Kali Besar Barat ini.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.