Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), secara gamblang menegaskan bahwa Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tidak sedang mengincar target recehan atau sekadar pemanis dekorasi politik pada Pemilu 2029.
Baca juga: Teriakan "Usir Jokowi" di Tugu Adipura Mewarnai Safari Politik Sang Presiden ke-7 RI
Di hadapan ratusan kader yang memadati gedung pertemuan, Jokowi mematok sebuah target rahasia berskala besar yang jauh melampaui ekspektasi publik, yakni pengenalan publik terhadap PSI sebesar 98 persen.
Demi memuluskan misi ambisius tersebut, ia memerintahkan seluruh fungsionaris partai untuk segera "membangunkan" dan menghidupkan mesin politik hingga menembus sekat-sekat di tingkat akar rumput terkecil.
Pernyataan bernada optimistis tersebut dilontarkan Jokowi saat memberikan pengarahan taktis dalam agenda Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) DPD PSI Kota Bandar Lampung yang digelar di Pondok Rimbawan, Bandar Lampung, Sabtu (27/6/2026) siang.
Di hadapan kepengurusan PSI tingkat kota, kecamatan, kelurahan, hingga barisan relawan lintas organisasi, Jokowi melemparkan apresiasi tinggi atas rapor kerja PSI Bandar Lampung.
Jajaran pengurus di ibu kota provinsi ini dinilai sukses membentuk struktur teritorial hingga tingkat kelurahan dan ranting secara masif.
“Saya sangat mengapresiasi DPC PSI Bandar Lampung karena sudah sekitar 92 persen menyusun struktur sampai tingkat kelurahan dan ranting."
"Itu juga yang menjadi alasan saya datang ke Lampung, karena pembentukan struktur PSI di tingkat kelurahan, desa, dan ranting di Lampung secara umum sudah mencapai lebih dari 90 persen,” ungkap Jokowi disambut gemuruh tepuk tangan kader, Sabtu (27/6/2026).
Kendati memiliki modal bentukan struktur yang gemuk, Jokowi mengingatkan jajarannya agar tidak terlena dengan data di atas kertas.
Mantan Wali Kota Solo ini menekankan bahwa ornamen struktur tidak akan berguna jika tidak mampu bergerak dinamis dan memberikan impak sosial yang nyata di tengah impitan hidup masyarakat.
“Ini akan menjadi mesin yang besar dan mesin yang kuat. Tetapi struktur itu harus menjadi mesin yang hidup dan bekerja. Saya selalu mengulang-ulang, mesin partai harus hidup dan bekerja,” tegasnya dengan nada artikulatif.
Uniknya, Jokowi menjabarkan bahwa strategi menghidupkan mesin partai tidak boleh melulu menggunakan pendekatan politik formal yang kaku.
Ia justru meminta kader PSI untuk membumi dan menyusup ke dalam ruang sosiologis warga melalui aktivitas kemanusiaan harian. Kader disarankan rajin hadir dalam momen-momen emosional warga, seperti melayat orang meninggal hingga menghadiri pesta pernikahan.
“Kader PSI harus dekat dengan rakyat. Misalnya ada warga yang berduka, datang bertakziah. Ada hajatan (kondangan), datang. Kita ingin memiliki jiwa sosial yang baik sehingga kehadiran partai benar-benar dirasakan masyarakat,” cetus ayahanda Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep tersebut.
Tak hanya itu, ia juga mendorong kader untuk proaktif mengetuk pintu para tokoh agama, pemuka adat, hingga simpul-simpul penggerak lokal guna memperkenalkan eksistensi parpol bernuansa muda tersebut.
Dalam sesi bedah data internal, Jokowi membeberkan bahwa tingkat popularitas (awareness) PSI di panggung nasional masih menyisakan ruang kosong yang cukup besar untuk digarap.
Saat ini, angka pengenalan publik terhadap PSI baru menyentuh angka 78 persen, dengan target mutlak yang harus dikejar sebesar 98 persen.
"Berarti masih ada selisih 20 persen yang harus dikejar. Yang mengenal logo gajah PSI juga baru sekitar 48 persen. Ini harus terus dikenalkan," urainya membedah tantangan partai.
Secara jenaka, Jokowi juga mengaitkan kesamaan identitas geografis Lampung yang masyhur dengan sekolah gajahnya dengan simbol atau maskot baru yang kini melekat pada PSI.
“Lampung identik dengan gajah. Itu juga menjadi satu di antara alasan kuat mengapa saya memilih datang dan turun langsung ke Lampung,” selorohnya.
Menutup pidato pengarahannya, Jokowi melempar sinyalemen kuat bahwa PSI di bawah pengawasannya tengah bersiap melakukan lompatan kuantum pada kontestasi politik nasional tiga tahun mendatang.
Jika target lolos ambang batas parlemen (parliamentary threshold) dianggap sudah berada di dalam genggaman, maka target berikutnya dipastikan akan membuat peta politik nasional bergetar.
“Target kita bukan target kecil. Bukan hanya masuk Senayan, kalau masuk Senayan saya kira pasti (lolos). Tetapi target yang kita pasang jauh lebih besar dari itu. Namun, itu urusan internal dapur partai,” pungkas Jokowi retoris sembari melempar senyum tipis.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)