Keren! Santri DDI Mangkoso Terbitkan Buku 'Di Negeri Para Perindu Ilmu', Ulas Perjalanan Pesantren
Sudirman June 27, 2026 06:20 PM

TRIBUN-TIMUR.COM - Santri Madrasah Iddadiyah Pondok Pesantren (Ponpes) DDI Mangkoso menerbitkan buku berjudul 'Di Negeri Para Perindu Ilmu'. 

Buku ini merupakan perjalanan santri selama menuntut ilmu di pesantren DDI Mangkoso.

Selain buku santri, juga launching buku Anrengurutta Prof M Faried Wadjedy " 83 Tahun Ronce Mutiara Kenangan Masa". 

Launching buku merupakan rangkaia Haflah Iddadiyah Mangkoso di Kampus DDI Bulu Lampang, Barru, Sabtu (27/6/2026).

Hadir santri, orang tua, dan guru Madrasah Iddadiyah Pondok Pesantren DDI Mangkoso. 

Para santri juga menampilkan kemanpuan membaca kitab kuning, menghafal juz 30 Alquran, dan mengurai isi dan arti serta jumlah ayat dalam satu surah, penampilan musik puisi dan lagu dari Kampus Iddadiyah Tonrongnge.

Baca juga: Profil Prof Muhammad Agus Rektor IAI DDI Mangkoso, Khatib Idul Adha di Lapangan Usman Isa Sidrap

Kepala Madrasah Iddadiyah Ponpes DDI Mangkoso, Prof (HC) Muhammad Agus, menegaskan buku Di Negeri Para Perindu Ilmu ditulis Farhan Alfarisi Kusuma dan kawan-kawan yang terdiri dari 70 orang santri.

Buku ini terbit atas promotor dan pembinaan Bachtiar Adnan Kusuma. 

"Buku ini mengurai napak tilas perjalanan para santri selama kurang lebih satu tahun menimbah ilmu di Ponpes DDI Mangkoso dengan pencapaian yang sangat luar biasa" kata Prof(HC) Muhammad  Agus.

Wakil Bupati Barru, Abustan Andi Bintang, bangga dan memberi apresiasi tinggi atas pencapaian para santri Madrasah Iddadiyah DDI Mangkoso. 

"Saya bangga karena santri Iddadiyah dalam waktu singkat mampu menulis dan menerbitkan buku. Jujur saya sudah 14 tahun berniat menulis buku, namun belum selesai sampai sekarang," ujarnya.

Tokoh literasi Nasional Bachtiar Adnan Kusuma, menguraikan jika dirinya beberapa waktu lalu hadir memberi kuliah subuh di depan 300 orang santri Iddadiyah Pondok Pesantren DDI Mangkoso di kampus dua Tonrongnge.

“Saya gercap memberi tugas menulis kepada seluruh santri yang hadir disaksikan para pembina," kata BAK. 

Bachtiar Adnan Kusuma bersyukur karena selain sesekali berkunjung ke Ponpes DDI Mangkoso, ia mengakui kalau dirinya selalu memberi insight agar santri terbiasa menulis sejak dini.

Para ulama kenamaan Indonesia telah memberi teladan dan contoh yang mulia dengan meninggalkan nama baik melalui kitab-kitabnya.

Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia adalah mozaik kenangan, potret batin, dan jejak langkah yang ditorehkan oleh para pencari ilmu pada awal perjalanan mereka menuju Pondok Pesantren DDI Mangkoso.

Setidaknya ada 70 santri yang menuliskan pengalaman mereka sejak hari pertama memasuki gerbang pesantren.

Mereka datang dari berbagai penjuru negeri: dari pesisir Papua yang jauh, dari tanah Kalimantan yang luas, dari kota-kota dan kampung-kampung di Sulawesi Selatan, serta dari daerah lain yang dipersatukan oleh satu niat: menuntut ilmu karena Allah. 

Tulisan dalam buku ini terasa hidup karena lahir dari momen yang masih hangat.

"Kita akan menyaksikan bagaimana seorang anak yang baru beranjak remaja harus belajar melepaskan genggaman tangan ibunya," ujarnya.

Pada saat yang sama, mereka sedang memasuki pelukan baru: pelukan ilmu, pelukan adab, pelukan para guru yang teduh dan berwibawa.

Di hadapan para ustadz dan pembina, para santri menerima pelajaran pertama yang tak tertulis di papan tulis mana pun: bahwa ilmu bukan hanya diucapkan, melainkan dipantulkan melalui akhlak.

Sikap tenang, tutur kata lembut, ketegasan yang adil, dan keteladanan hidup adalah kitab pertama yang dibaca oleh para santri di Mangkoso.

Di pesantren, mereka belajar bahwa mondok bukan hanya soal membaca kitab dan menghafal matan. Mondok adalah latihan hidup.

Ia menempa hati agar sabar, melatih jiwa agar kuat, mengajar tubuh agar disiplin, dan menuntun akhlak agar lembut.

Di sana seorang anak perlahan dibentuk menjadi manusia yang lebih matang.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.