TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Kain sutra khas Sulawesi Selatan kini semakin percaya diri tampil di tengah pusat gaya hidup modern.
Brand fesyen lokal Maskerade La Mude resmi meluncurkan (launching) gerai terbarunya di Lantai 2 Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Sabtu (27/6/2026).
Tenun dan sutra lokal semakin dekat dengan generasi muda sekaligus memperluas pasar fesyen berbasis budaya.
"Maskerade sebenarnya adalah brand yang saya bangun sejak 2017. Kata 'Maskerade' berarti topeng, karena apa yang kita kenakan menjadi gambaran pertama orang terhadap diri kita," kata Founder Maskerade Lamude, Nana Ibrahim, kepada Tribun-Timur.com.
Sementara itu, nama La Mude diambil sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua rekan bisnisnya yang semasa hidup dikenal sebagai pengrajin sekaligus pedagang sutra di Sengkang.
Maskerade La Mude, kata dia, baru berjalan sekitar tiga bulan sebagai hasil kolaborasi langsung antara desainer dan para pengrajin sutra.
Jika sebelumnya ia hanya membeli bahan dari Sengkang untuk diolah sendiri, kini pihaknya memilih bekerja sama langsung dengan para perajin agar manfaat ekonomi juga dirasakan oleh mereka.
"Dulu saya hanya membeli bahan dari Sengkang lalu mengolahnya sendiri. Sekarang saya memilih berkolaborasi langsung dengan para pengrajin agar mereka juga ikut berkembang," ungkapnya.
Menurut Nana, pembukaan gerai di pusat perbelanjaan dipilih karena dinilai lebih mudah dijangkau masyarakat sekaligus menjadi ruang edukasi mengenai produk fesyen berbasis budaya lokal.
Selain dapat diperoleh di toko fisik, produk Maskerade La Mude juga dipasarkan melalui website, marketplace seperti Tokopedia dan Shopee, serta media sosial Instagram.
Produk yang ditawarkan dibanderol mulai Rp250 ribu hingga sekitar Rp1 juta, dengan outer sebagai produk andalan atau signature brand.
Selain busana, Maskerade Lamude juga menghadirkan aksesori dan koleksi hijab serta memberdayakan mahasiswa dan anak muda sebagai pengrajin aksesori.
"Harapan kami, kain sutra Sengkang semakin dikenal luas melalui kolaborasi dengan dunia fesyen sehingga generasi muda semakin bangga menggunakan produk budaya lokal. Kami ingin membuktikan bahwa budaya dan fesyen bisa berjalan beriringan. Culture can be fashion," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kota Makassar, Zulkifli, mengapresiasi hadirnya Maskerade Lamude sebagai salah satu pelaku ekonomi kreatif yang mengangkat identitas budaya Sulawesi Selatan melalui industri fesyen.
"Pemerintah Kota Makassar sangat mendukung dan mengapresiasi pelaku usaha, khususnya yang bergerak di sektor ekonomi kreatif," katanya.
Menurut Zulkifli, kolaborasi yang dilakukan Maskerade Lamude mampu menghadirkan kekayaan etnik dan budaya Sulawesi Selatan melalui pemanfaatan kain tenun lokal menjadi produk fesyen bernilai tambah.
"Maskerade Lamude merupakan kolaborasi yang mengangkat kekayaan etnik dan budaya Sulawesi Selatan ke dalam industri fesyen melalui pemanfaatan kain-kain tenun lokal. Inilah yang menjadi ciri khas dan akan terus kami dorong sebagai bagian dari pengembangan pariwisata Kota Makassar," ujarnya.
Ia menambahkan, dukungan pemerintah terhadap industri kreatif tidak hanya melalui promosi, tetapi juga pelatihan, pendampingan hingga sertifikasi bagi para pembatik dan penenun.
"Kami juga memberi dukungan nyata dengan menggunakan produk-produk lokal. Jangan hanya mendorong dari belakang, tetapi pemerintah juga harus ikut memberdayakan para pelaku industri kreatif," jelasnya.