TRIBUNBANYUMAS.COM, TEL AVIV – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah meminta izin kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran.
"Saya tidak akan membiarkan itu (diserang lebih dulu) terjadi. Itulah sebabnya kami bertindak. Saya tidak meminta izin. Saya hanya memberi tahu dia (Trump) tentang rencana kami," ujar Netanyahu dalam pidatonya di depan para pejabat daerah di Tel Aviv, seperti dikutip dari The Times of Israel, Rabu (24/6/2026).
Pernyataan keras ini sengaja dilemparkan ke publik untuk menegaskan kemandirian militer Israel.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan hubungan Israel dan AS, menyusul manuver Donald Trump yang tengah mengejar kesepakatan damai dengan Teheran serta adanya kekhawatiran sekutu setianya itu akan membatasi ruang gerak operasional Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Netanyahu justru mengaku diuntungkan karena pada akhirnya militer Amerika Serikat bersedia ikut bergabung dalam tahap akhir operasi Netanyahu serang Iran tersebut. Ia berdalih, prinsip keamanan Israel hanya bisa digaransi jika mereka mengambil langkah preventif mendahului musuh.
Baca juga: Safari Politik Jokowi ke Lampung Diwarnai Unjuk Rasa, Massa Desak Penuntasan Polemik Ijazah Palsu
"Jika seseorang datang untuk membunuhmu, bangunlah lebih awal dan bunuh dia terlebih dahulu. Salah satu pencapaian terpenting dalam konflik-konflik terbaru adalah mematahkan penghalang rasa takut," cetus Netanyahu membela kesuksesan operasi militernya terhadap Iran, Hamas di Gaza, dan Hizbullah di Lebanon.
Pidato ini sewaktu-waktu bisa memperkeruh hubungan bilateral kedua negara yang dilaporkan sedang memanas. Sebelumnya, Trump dikabarkan sempat memarahi Netanyahu dengan nada keras karena rencana sepihak Israel yang ingin membombardir Beirut, Lebanon, di saat AS dan Iran sedang dalam meja perundingan damai.
Dalam ketegangan tersebut, Trump bahkan sempat melabeli Netanyahu "gila" dan memperingatkan bahwa agresivitas Tel Aviv hanya akan membuat posisi Israel semakin terkucil di panggung internasional. Merespons dinamika itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu langsung menyerukan agar negaranya mulai mengurangi ketergantungan pasokan senjata dari Amerika Serikat dan segera memperkuat industri pertahanan mandiri. (inas/kps)