SRIPOKU.COM, MUSI RAWAS – Inovasi pertanian modern berbasis teknologi berhasil dikembangkan oleh generasi muda di Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan. Kelompok Tani (Poktan) Tani Milenial di Desa E Wonokerto, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas, sukses membudidayakan berbagai varietas melon premium menggunakan sistem hidroponik di dalam rumah kaca (greenhouse) hingga memasuki masa panen raya.
Menariknya, selain mengandalkan sistem sirkulasi nutrisi hidroponik yang efisien, metode pemasaran yang diterapkan oleh para petani muda ini terbilang unik dan kekinian.
Mereka menggunakan sistem open farm atau membuka lahan perkebunan sebagai kawasan wisata edukasi petik buah melon langsung bagi masyarakat umum.
Panen Perdana 5 Varietas Melon Kelas Atas
Ketua Poktan Tani Milenial Musi Rawas, Ahmad Tigor Prakoso, mengungkapkan bahwa keberhasilan budidaya modern ini tidak terlepas dari dukungan stimulus modal dan pendampingan yang dikucurkan secara langsung oleh Bank Syariah Indonesia (BSI) Cabang Kota Lubuklinggau.
"Alhamdulillah, program ini berjalan lancar dari mulai tahap konstruksi nol sampai akhirnya hari ini bisa panen raya. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kepala Cabang BSI Kota Lubuklinggau atas kepercayaannya," ujar Ahmad Tigor Prakoso saat diwawancarai di lokasi perkebunan Mentari Farm House, Sabtu (27/6/2026).
Tigor menjelaskan, keputusan memilih metode hidroponik di dalam greenhouse didasari oleh sirkulasi perawatan yang jauh lebih terukur, higienis, serta minim risiko serangan hama tanaman. Adapun varietas yang ditanam merupakan jajaran melon premium kelas atas yang jarang dijumpai di pasar tradisional, seperti varietas Sweet Kaori, Greensweet, Intanon, Kirin, dan Dalmatian.
"Ini merupakan sirkulasi panen perdana kami untuk unit greenhouse berukuran 8 x 15 meter, dengan total populasi tanaman mencapai 300 batang pohon," rinci Tigor.
Baca juga: Kelompok Tani Karya Bersama Budidaya Melon Premium Gunakan Smart Green House, Hasilnya Mantap
Tembus Rp50 Ribu Per Kilogram
Pilihan menanam varietas premium terbukti membuahkan hasil manis dari sisi sirkulasi ekonomi. Jenis-jenis melon hidroponik ini memiliki nilai jual yang sangat menjanjikan di pasaran, yakni berkisar antara Rp45.000 hingga Rp50.000 per kilogram.
"Peminat dan pangsa pasarnya ternyata sangat tinggi. Untuk penjualan hasil panen kali ini, kami sengaja tidak menyuplai ke pasar konvensional, melainkan menyerapnya habis di lokasi lewat sistem open farm atau paket wisata petik buah melon sendiri. Konsumen bisa datang, memilih, dan menimbang sendiri buah yang mereka inginkan," ucapnya ramah.
Ke depan, Tigor berharap kolaborasi ini terus berlanjut guna mendukung program ketahanan pangan nasional sekaligus menciptakan ekosistem pertanian modern yang presisi, efisien, dan berkelanjutan (sustainable).
Dorong Pemberdayaan Ekonomi Kreatif Berbasis Umat
Aksi nyata para pemuda Musi Rawas ini mendapat apresiasi tinggi dari sektor perbankan.
Kepala Cabang BSI Lubuklinggau, Agus Muttaqien, menegaskan bahwa pihaknya sangat mendukung penuh pemberdayaan ekonomi produktif yang diinisiasi oleh Mentari Farm House tersebut.
Usaha agribisnis ini dinilai mampu membuka lapangan kerja baru serta mendongkrak pendapatan lokal.
"Dari kacamata sirkulasi perbankan, kami melihat budidaya melon premium memiliki prospek finansial yang sangat cerah karena ditopang oleh tren permintaan pasar urban yang terus menanjak," kata Agus.
Di lokasi yang sama, Pimpinan BSI Maslahat Uro 2 Sumsel, Anang Suroso, turut memuji kegigihan Poktan Milenial dalam menggerakkan sirkulasi pertanian modern di tingkat hilir.
"Panen perdana ini menjadi bukti otentik bahwa generasi muda di Sumatera Selatan mampu menjadi motor penggerak kemajuan sektor pertanian. Semoga keberhasilan di Desa E Wonokerto ini bisa menjadi sirkulasi inspirasi bagi daerah lain untuk memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi umat," pungkas Anang.