TVRI pernah hidup tanpa sponsor. Stasiun televisi plat merah ini mengandalkan iuran penonton dan SDSB selama Orde Baru.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -TVRI kembali disorot setelah resmi menjadi pemegang hak siar Piala Dunia 2026. Yang menjadi pertanyaan khalayak adalah biaya Rp1,3 triliun yang dipakai stasiun televisi milik negara itu membeli hak siar even sepakbola terbesar di dunia itu dari mana?
Soal pembiayaan, TVRI juga pernah hidup dari iuran penontonnya. Iuran itu diberlakukan sejak 1962, atau setahun setelah tayang perdana, dan diatur lewat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 218 Tahun 1963 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno pada 20 Oktober 1963.
Aturan itu mewajibkan setiap pemilik pesawat televisi untuk mendaftarkan perangkat mereka dan membayar iuran bulanan. Di masa awal pemberlakuannya, tarif iuran televisi ditetapkan sebesar Rp300 per bulan, dan proses pembayarannya dilakukan melalui Kantor Pos.
TVRI pertama siaran pada 24 Agustus 1962. Tapi untuk menikmatinya tidak semudah sekarang karena ketika itu televisi masih menjadi barang langka dan harganya juga cukup mahal.
Pada 1965 misalnya, TVRI baru membangun proyek menara televisi di perbukitan Gantung, Gombel, dan Cemorosewu untuk meluaskan siaran di sekitar Jawa Tengah. Bersamaan dengan itu, dipasang pula televisi di sejumlah tempat umum, seperti stasiun, terminal, dan kantor kecamatan, sebagaimana dikutip dari Kompas.com.
Bagi mereka yang punya televisi, selain pajak, mereka juga juga harus membayar iuran bulanan. Pada 1969, misalnya, iuran televisi Rp200 per bulan dan biaya pendaftaran sekali saja Rp300, yang semuanya dibayarkan di Kantor Pos.
Untuk mendaftarkan televisi, pemilik harus menunjukkan kwitansi pembelian. Sampai 1971, baru terdaftar 11.000 televisi di Tanah Air — sementara televisi yang ditonton masyarakat sekitar 150.000 unit.
Ketika itu, masih banyak warga yang enggan membayar iuran bulanan. Oleh sebab itu, pemerintah pun melakukan razia kepemilikan televisi dari rumah ke rumah.
Pemilik televisi yang tidak membayar atau terlambat membayar iuran televisi dikenai denda. Razia yang dilakukan pada 2 Juli hingga 27 September 1973 di Jakarta, misalnya, menemukan ada 4.308 pesawat televisi yang belum didaftarkan kepemilikannya.
Dari hasil razia tersebut, Daerah Pos I Jakarta menerima denda dan iuran sebesar Rp9.915.200.
Per 1 Januari 1974, iuran televisi naik menjadi Rp500 per bulan untuk pesawat televisi ukuran 16 inci ke bawah dan Rp750 per bulan untuk pesawat televisi ukuran di atas 16 inci. Dan seterusnya.
TVRI terakhir kali memungut iuran penonton (iuran televisi) secara resmi sekitar tahun 2001. Meski begitu, pemungutan iuran ini sudah mulai jarang ditagih sejak maraknya stasiun televisi swasta pada era 1990-an.
Dan sejak iuran televisi itu dihapuskan, pendanaan operasional TVRI sepenuhnya bergantung pada anggaran dari negara melalui APBN serta pendapatan dari iklan.
Selain hidup dari iuran penonton, TVRI juga pernah hidup tanpa sponsor sejak awal 1980-an. Lalu bagaimana strategi TVRI saat itu untuk tetap hidup?
“Kami mengurangi biaya pemeliharaan, mengurangi penambahan peralatan, serta menekan biaya produksi," ungkap Direktur TVRI ketika itu, Drs. Ishadi SK, M.Sc., dikutip dari Tabloid NOVA edisi 7 April 1991.
Cara itu, tambahnya, mau tak mau menimbulkan berbagai dampak yang kurang menguntungkan. Di antaranya, kata Ishadi lagi, “104 buah satuan transmisi TVRI sempat rusak gara-gara biaya pemeliharaan dikurangi.”
Tapi untung saja masih ada upaya lain saat itu. “Kami mendapat tambahan suntikan dana dari pemerintah dan SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah, red.). Mulai bulan April ini (1991), TVRI juga memperoleh pembagian persentase dari pendapatan iklan RCTI dan TPI,” lanjut Ishadi tanpa merinci jumlahnya. Dan yang lebih menggembirakan, “Sejak iuran TVRI ditangani oleh pihak swasta, bulan Januari lalu, pendapatan TVRI dari iuran meningkat sampai 40 persen.”
Berbagai sumber dana yang diungkapkan Ishadi itu, oleh beberapa pemirsa, produser kaset, bahkan orang dalam TVRI sendiri dianggap masih belum mencakup keseluruhan strategi yang telah dijalankan TVRI ketika itu. Masih ada perolehan dana dengan cara lain. Dan seolah sepakat, mereka menyebutnya iklan terselubung.
Persisnya, “Biasa disebut soft sell, atau menjual secara halus,” ungkap seorang karyawan TVRI yang enggan disebutkan namanya. Contohnya dapat ditemui pada acara sinetron, musik, bahkan di acara berita. Di mata pemirsa, iklan terselubung itu memang tak susah ditemui. “Iklannya terselip di materi acara. Contohnya saja di sinetron Sartika. Mobil yang dipakai dokter muda itu seringkali disorot oleh kamera,” ungkap Sri (38), seorang ibu rumah tangga.
Ada contoh lagi. Tengok saja acara-acara musik di TVRI. Beberapa di antaranya seakan sengaja “dijual” kepada para produser kaset yang ingin mempromosikan produk mereka.
Konon untuk sebuah lagu yang bakal dipromosikan, produser harus membayar sejumlah uang. “Supaya lagu saya itu bisa muncul di paket musik yang disukai masyarakat,” kata seorang produser yang enggan disebut namanya.
Paket musik yang dia maksud adalah, Aneka Ria Safari, Aneka Ria Nusantara Safari, Album Minggu, Aneka Top, dan Selekta Pop. Toh bagi produser, itu bukan jaminan bahwa lagu yang diorbitkan bisa langsung terkenal dan laku. Maka dari itu, kebanyakan dari mereka lebih suka mempromosikan lagunya lebih dari satu kali. “Minimal tiga kali ditayangkan di tiga acara berbeda. Misalnya saja, sekali di acara Aneka Ria Safari, satu kali di Selekta Pop dan sekali di Album Minggu.”
Seorang produser lain, yang juga enggan disebut namanya, berucap, urutan penayangan lagu juga punya pengaruh. “Ibarat gunung, lagu-lagu yang berada di urutan awal merupakan kakinya. Sedangkan lagu-lagu di urutan akhir adalah puncaknya. Maka, puncak perhatian penonton pun biasanya ada di urutan-urutan terakhir,” papar produser tersebut panjang lebar.
Dan konon, untuk tampil di urutan puncak, diperlukan “dana khusus” lagi.
Meski biayanya cukup besar, toh para produser ini tidak menyangkal bahwa lewat TVRI, angka penjualan sebuah album rekaman bisa melejit. “Lihat saja ‘Ini Rindu’-nya Farid, ‘Terbayang-Bayang’-nya Ona Sutra, dan juga Hati Yang Luka’-nya Obbie Messakh. Angka penjualan album-album tersebut bisa mencapai ratusan ribu bahkan di atas satu juta kopi karena ditayangkan di TVRI. Tanpa TVRI, mereka tak akan bergema,” tutur seorang produser yang juga sempat merasakan nikmatnya hasil promosi lagu lewat TVRI.
Sahkah semua cara ini? “Tak ada salahnya. Bukankah di acara itu tak ada anjuran untuk membeli kaset lagu -lagu yang ditayangkan?” ujar seorang karyawan TVRI. Dan lagi, tambah seorang produser, “Belum tentu semua penonton tahu kalau lagu-lagu tersebut sudah ada kasetnya.”
Ishadi sendiri malah melihat hal ini dari segi positifnya. “Pertama, acara-acara itu mampu mempromosikan lagu-lagu Indonesia. Yang kedua, saya dapat acara gratis. Tidak mengeluarkan biaya produksi dan tidak perlu membayar artis. Dan yang terpenting, penonton suka kok,” ujarnya tenang.
Kalau sudah jelas menguntungkan buat TVRI, apakah ada kemungkinan TVRI diperbolehkan menerima iklan kembali? “Mungkin saja. Tapi tidak untuk saat ini,” tukas Ishadi. Oleh Ishadi, kebijaksanaan pemerintah melarang TVRI menerima iklan untuk sementara ini diartikannya sebagai niat baik untuk melindungi stasiun-stasiun televisi swasta yang kini semakin bertambah jumlahnya.
“Modal yang mereka tanam sangat besar. Kalau dari awal berdirinya mereka sudah dihantam dengan persaingan bebas, habis dong mereka,” kata Ishadi. “Kita harus beri mereka waktu."
Apa pun, kebijaksanaan itu akhirnya bisa tak berarti apa-apa bagi TVRI. Buktinya, tanpa iklan sekalipun, kualitas acara musik dan sinetron lokal TVRI dinilai oleh beberapa kalangan masih lebih bagus dibanding stasiun-stasiun televisi lainnya.
Apalagi, dana yang diperoleh dari iuran televisi nampaknya bakal meningkat terus setiap tahunnya. “Saya optimis, iuran televisi ini bisa jadi tiang utama pendanaan TVRI nantinya. Yang jelas, dari hasil iuran televisi, TVRI sudah bisa membeli peralatan, memperbaiki pemancar, menambah biaya produksi, sekaligus menambah honor artis,” ujar Ishadi.
Kesimpulannya, rajin-rajinlah membayar iuran televisi kalau ingin TVRI kita semakin bagus kualitas acaranya dan “bersih” dari iklan (NOVA/Kompas.com)