TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pertemuan tak terduga di sudut kota yang ramia terjadi antara Jestham dengan dua anak kecil, Kevin dan Nanda. Interaksi sederhana itu dengan segera membuka tabir kehidupan yang jauh dari gambaran masa kanak-kanak yang seharusnya. Alih-alih diisi dengan tawa, mainan, dan semangat belajar, hari-hari mereka diwarnai oleh perjuangan untuk sekadar mendapatkan sesuap nasi. Pertanyaan sedang apa menjadi pembuka Jestham yang dijawab dengan polos, “Lagi minta-minta,” menjadi awal dari kisah pilu yang menyayat hati.(22/11/25)
Lebih dalam lagi, kenyataan pahit itu tidak berhenti pada rasa lapar. Hak untuk mendapatkan pendidikan, ternyata telah lama terenggut dari mereka. Kevin mengaku tidak bersekolah lagi karena kondisi ekonomi keluarganya. Mereka berjalan kaki dari satu tempat ke tempat yang lain, hidup tanpa tempat tinggal tetap, dan bahkan sering tidur di kaki lima. Kehangatan dan perlindungan keluarga, yang seharusnya menjadi pondasi, justru merupakan kemewahan yang hanya bisa mereka impikan.
Narasi hidup Kevin semakin terasa getir ketika Ia bercerita tentang keluarganya yang tercerai-berai. Sejak lahir, Ia tidak merasakan keutuhan rumah tangga orang tuanya. Ia bahkan mengungkapkan perasaan sedih karena tidak bisa merasakan kebahagiaan layaknya anak-anak lain. Jawabannya saat ditanya apa yang paling Ia rindukan, “Jangan pernah lelah ngajari anak seperti aku,” adalah seruan hati yang penuh kerinduan akan bimbingan dan kasih sayang orang tua.
Perubahan keluarga yang tidak harmonis juga tergambar dari pengakuan Nanda. Ia merasa sering disalahkan dan menjadi sasaran kemarahan ibunya, bahkan ketika konflik terjadi dengan kakaknya. Meski di sisi lain Ia mengenang sosok ayahnya yang lebih netral dan kerap memisahkan saat mereka bertengkar, luka karena perlakuan tidak adil itu tetap membekas. Ini menunjukkan betapa beratnya perasaan yang harus mereka hadapi di usia yang masih begitu muda.
Namun, di balik kisah pilu itu, ada pertolongan. Jestham memilih untuk bertindak. Ia membelikan makanan dan kebutuhan pokok untuk Kevin dan Nanda. Wajah mereka pun berubah senang dan lega. Saat mengucapkan "kenyang", terlihat jelas bahwa bagi mereka, kebutuhan paling dasar sekalipun adalah hal yang sangat berharga.
Melalui perjalanan Jestham, ini bukan sekadar cerita yang kita baca, tapi pengingat penting untuk selalu bersyukur. Seringkali kita mengeluh hal kecil, padahal punya akses makanan, sekolah, dan keluarga yang lengkap. Bagi sebagian orang, hal-hal itu adalah karunia yang sangat besar.
Sebagai penutup, pesan untuk tetap sabar dan menjaga kerukunan dalam keluarga patut kita renungkan. Cerita dari Kevin dan Nanda mengajarkan kita bahwa setiap anak pantas mendapat masa kecil yang baik. Terkadang, perhatian dan bantuan tulus dari kita bisa sangat berarti untuk mereka, walau hanya sesaat. Marilah kita jadikan cerita ini sebagai ajakan untuk lebih peka, lebih menghargai setiap kebaikan yang kita terima, dan lebih tulus dalam bersyukur.(*)
Referensi
https://www.youtube.com/watch?v=KgTYnikXKB8&t=6s