Selama bertahun-tahun, Ousmane Dembele dianggap sebagai salah satu talenta penyerang paling menarik di dunia sepak bola, namun sering kali gagal menunjukkan potensi besarnya secara konsisten.
Setelah tampil impresif dalam dua musim berturut-turut bersama Rennes dan Borussia Dortmund, pemain asal Prancis itu bergabung dengan Barcelona pada tahun 2017 dengan biaya transfer sebesar £135 juta, yang saat itu menjadikannya pemain termahal kedua di dunia.
Pada saat itu Dembele baru berusia 20 tahun, dan nilai transfer sebesar itu membawa tekanan luar biasa. Awal kariernya di Barcelona yang tidak stabil membuat banyak pihak mempertanyakan apakah klub Katalan tersebut telah membayar terlalu mahal untuk sang penyerang.
Setelah kerap diganggu cedera dan gagal memenuhi ekspektasi di Barcelona, Dembele akhirnya pindah ke Paris Saint-Germain pada tahun 2023 dengan biaya yang lebih rendah, yakni £43,5 juta. Namun, di Parc des Princes ia kembali menghadapi tantangan baru.
Kali ini, keberadaan Kylian Mbappe di tim menjadi hambatan tersendiri, karena Dembele sering kali harus bermain sebagai pelapis bagi rekan senegaranya tersebut.
Hal ini juga diyakini oleh mantan bek tim nasional Prancis, Frank Leboeuf, yang menyebut bahwa kepergian Mbappe pada tahun 2024 menjadi faktor penting dalam perkembangan Dembele, selain peningkatan fokus pada latihan dan kesejahteraan pribadi.
“Saya selalu merasa, setiap kali melihat Ousmane bermain bersama Kylian di PSG, ada sedikit rasa inferioritas dalam dirinya,” ujar mantan pemain Chelsea itu kepada majalah FourFourTwo.
“Seolah-olah ia menahan kemampuannya sendiri demi melayani Kylian.”
Melihat perkembangan karier Dembele dalam dua musim terakhir, pendapat Leboeuf tampaknya cukup beralasan.
Sejak kepergian Mbappe, Dembele berhasil mencetak 55 gol dan memberikan 27 assist, membantu PSG mempertahankan dominasi mereka di Ligue 1 serta meraih dua gelar Liga Champions secara beruntun — yang menjadi gelar pertama dalam sejarah klub tersebut.
Pemain berusia 29 tahun itu juga sukses meraih penghargaan individu paling bergengsi di dunia sepak bola, Ballon d’Or, pada tahun 2025. Leboeuf menambahkan bahwa fenomena pemain yang tampil lebih gemilang setelah tidak lagi berada di bawah bayang-bayang bintang besar bukanlah hal baru.
“Hal itu bukan sesuatu yang baru dalam sepak bola. Kita pernah melihatnya terjadi pada Karim Benzema di Real Madrid,” ujarnya.
“Hanya setelah Cristiano Ronaldo pergi, barulah Benzema menjadi bintang utama.”
Ed McCambridge
Penulis Staf