TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Para pecinta layang-layang dari berbagai lokasi berkumpul di Lapangan Kebon Agung, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, pada Minggu (28/6/2026) siang.
Berdasarkan pantauan Tribunjogja.com, mereka bersiap-siap menerbangkan layang-layang jagoannya. Layang-layang tersebut akan unjuk tampil dalam laga Festival Olahraga Daerah (Forda) II DIY 2026 Inorga Pelangi.
Layang-layang yang akan mengudara tersebut memiliki karakter yang berbeda-beda, namun dibuat sesuai kategori yang akan dilombakan yakni dua dimensi, tiga dimensi, dan train naga.
Seperti halnya layang-layang yang dibuat oleh Perkumpulan Pelayang Seluruh Indonesia (Pelangi) asal Kabupaten Bantul. Anggota Pelangi Kabupaten Bantul, Eko Purwanto, menyebut dalam kesempatan ini dia turut menampilkan layangan kategori dua dimensi.
"Layangan ini berbentuk tokoh pejuang yakni Pangeran Diponegoro. Karena, Pangeran Diponegoro ini menjadi idola kami. Apalagi Pangeran Diponegoro memiliki kisah perjuangan yang luar biasa," katanya, kepada wartawan.
Layangan yang memiliki tinggi sekitar tujuh meter dan lebar sekitar empat meter itu, dibuat sendiri selama tiga bulan. Namun, dalam proses pembuatannya tidaklah mudah, sehingga perlu ketelitian dan perhitungan yang matang.
Selain itu, dalam proses penerbangan layang-layang juga harus diimbangi dengan kecepatan angin yang cukup. Walau begitu, untuk menerbangkan layangan tersebut setidaknya memerlukan tiga orang.
"Layangan jenis ini memang tidak terlalu berat seperti train naga. Kalau layangan train naga memang berat. Tapi, untuk menerbangkan layangan dua dimensi tetap memerlukan bantuan dengan total maksimal sekitar tiga orang," jelas dia.
Sementara itu, Ketua Forda II DIY 2026 Inorga Pelangi, Markus Purnomo Adi, menyebut, gelaran hari ini merupakan Forda DIY kedua yang sebelumnya digelar pada tahun 2023. Ajang ini untuk memperlombakan tiga kategori berupa dua dimensi, tiga dimensi, dan train naga.
"Juara satu, dua, dan tiga memperebutkan hadiah berupa medali dan piagam. Namun, khusus juara di sini akan mendapatkan hak prioritas untuk dikirim ke Fornas pada tahun depan yang digelar di Palu," ujar dia.
Pihaknya pun merasa senang, ajang ini tidak hanya dilirik oleh peserta dari Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Kota Yogyakarta, tetapi juga dilirik oleh masyarakat setempat.
Menurutnya, ajang ini perlu dilestarikan. Apalagi layang-layang menjadi budaya masyarakat Jawa. Terlebih, zaman dulu masyarakat dan anak-anak desa kerap bermain layang-layang usai panen raya.
"Kemudian, kalau di Bali dan Nusa Tenggara Barat, gelaran layang-layang menjadi sarana sebuah komunikasi dengan Allah-Nya," jelasnya.(nei)