Padat Merayap Selama Libur Sekolah, Wisatawan Tak Perlu Paksakan Kendaraan Masuk Malioboro
Yoseph Hary W June 28, 2026 05:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Lonjakan volume kendaraan di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, kembali terjadi di sepanjang musim libur sekolah tahun ini. 

Menanggapi kepadatan yang kerap dikeluhkan tersebut, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Yogyakarta mengimbau wisatawan agar tidak memaksakan kendaraan pribadinya masuk hingga ke jantung Malioboro.

​Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho, menuturkan, kepadatan lalu lintas di Malioboro merupakan konsekuensi logis dari tingginya magnet pariwisata Kota Pelajar. 

Menurutnya, keramaian ini justru menjadi indikator positif bagi perputaran ekonomi daerah yang mengandalkan sektor pariwisata sebagai lokomotif utama.

​"Ya biasa, kalau mau datang ke Kota Yogya kondisinya liburan, pasti ramai. Ya itulah Yogya. Kalau datang ke Yogya pas liburan sepi, nanti malah pada heran," terangnya, saat ditemui belum lama ini.

Malioboro jadi tujuan utama

​Kadishub memahami betul, bahwa tujuan utama sebagian besar pelancong yang bertamasya ke Kota Yogyakarta adalah kawasan Malioboro. 

Namun, ia mengingatkan, jika pengendara tetap memilih melintas di jalur utama tersebut dengan kendaraan pribadi, konsekuensknya harus siap menghadapi perlambatan arus lalu lintas.

​"Kalau mengeluhnya, 'wah, Malioboro ramai, macet,' ya kondisinya memang seperti itu. Kalau tidak ada crowd yang tinggi, malah jadi masalah, berarti di Malioboro enggak ada orang datang," cetusnya.

​Sebagai solusi mengurai kepadatan, Arif menyarankan wisatawan untuk menerapkan konsep park and walk, atau memarkirkan kendaraan dan berjalan kaki.

Dengan keberadaan Tempat Khusus Parkir (TKP) yang memadai, pelancong tak perlu memaksakan diri membawa kendaraan hingga mendekati area pedestrian Malioboro.​

​"Tidak harus membawa kendaraannya sampai ke jantungnya Malioboro. Bisa parkir di ruas-ruas tersedia. Di depan, di TKP Senopati sekarang untuk parkir (kendaraan) pribadi, bukan untuk bus lagi. Itu sangat dekat. Parkir di situ, lalu jalan kaki," tandasnya.

​Ia menambahkan, kawasan ikonik penyangga garis imajiner sumbu filosofi tersebut sebenarnya memang didesain untuk dinikmati tanpa kendaraan bermotor.

Jalan kaki, serap atmosfer Malioboro

Menurutnya, dengan panjang jalan dari ujung ke ujung yang relatif pendek, berjalan kaki dinilai sebagai cara terbaik untuk menyerap atmosfer Malioboro 

​"Malioboro itu hanya sekitar 1,2 kilometer. Jadi, kalau untuk menikmati Malioboro, saya kira dengan berjalan kaki itu sangat nyaman, tidak terlalu jauh," imbuhnya.

​Terkait kesiapan personel selama masa libur sekolah kali ini, Arif menegaskan bahwa jajarannya selalu dalam kondisi siaga untuk menunjang kenyamanan pelancong.

Bukan tanpa alasan, bagi Dishub Kota Yogyakarta, batas antara hari biasa dan hari libur kini semakin tipis karena kunjungan wisatawan mengalir sepanjang waktu.

​"Kami bersiap terus, karena di Kota Yogta sekarang tidak ada bedanya antara libur panjang dan hari biasa. Sudah menjadi tujuan utama, dan ini tentu patut disyukuri," ucapnya.

​"Saya tidak mau mengeluh, karena bagaimanapun juga (dampak) ekonomi yang diperjuangkan. Dengan semakin banyak orang datang ke sini, ekonomi otomatis bergerak," pungkas Kadishub. (aka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.