SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Ancaman serangan siber terhadap perusahaan di Indonesia dinilai semakin nyata dan dapat berdampak luas terhadap aktivitas bisnis hingga perekonomian.
Karena itu, penguatan talenta keamanan siber atau ethical hacker menjadi kebutuhan mendesak untuk melindungi berbagai sektor strategis.
CEO dan Founder Digital Solusi Grup (DSG), Dean Diyantha Putrandi, mengatakan sepanjang tahun 2025, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat, Indonesia mengalami serangan siber dan anomali trafik sebanyak 5,5 miliar.
Angka ini meningkat 714 persen atau tujuh kali lipat dibandingkan rata-rata tahunan periode 2020–2024, dengan rata-rata 182–188 serangan per detik.
Dalam upaya meningkatkan jumlah hacker yang dapat menangkal serangan siber, pihaknya menginisiasi ajang Zero Day sebagai wadah bagi para ethical hacker dari seluruh Indonesia untuk menunjukkan kemampuan sekaligus memperoleh apresiasi atas kontribusi mereka di bidang keamanan siber.
Program itu dilaksanakan di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (UB) Malang, Minggu (28/6/2026).
"Zero Day adalah ajang pembuktian sekaligus ruang apresiasi tertinggi bagi teman-teman ethical hacker di seluruh Indonesia. Tujuannya memberikan wadah terbaik bagi talenta-talenta cyber security untuk membuktikan kemampuan mereka," ujar Dean, Minggu (28/6/2026).
Baca juga: Kedai Kopi Mbok Bawel di Pasar Oro-oro Dowo Kota Malang, Ada Beragam Jenis Kopi yang Disuguhkan
Zero Day menghadirkan dua peran penting dalam ekosistem keamanan siber. Di satu sisi, generasi muda dari kalangan siswa dan mahasiswa mulai dilatih sejak dini untuk memahami dasar-dasar perlindungan data.
Mereka mengikuti berbagai tantangan seperti crypto puzzle, web security, hingga OSINT, yang dirancang untuk menanamkan kesadaran keamanan digital sejak bangku sekolah.
Di sisi lain, para praktisi dan hacker expert berperan dalam menjaga keamanan data di level yang lebih kompleks, termasuk pada sistem dan infrastruktur perusahaan.
Mereka ditantang menyelesaikan simulasi berbasis kasus nyata untuk mengidentifikasi celah keamanan serta merancang strategi perlindungan data secara komprehensif.
Dijelaskan Dean, ethical hacker merupakan peretas yang bekerja secara profesional dan beretika untuk menemukan celah keamanan suatu sistem. Berbeda dengan black hat hacker yang melakukan peretasan untuk tujuan merugikan, ethical hacker justru membantu organisasi menutup kerentanan sebelum dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab.
"Ethical hacker itu ibarat hacker yang beretika. Tujuannya bukan merusak, tetapi memberikan informasi mengenai kerentanan sistem sekaligus rekomendasi perbaikannya," katanya.
Dean menyebut para ethical hacker sebagai cyber guardian atau pelindung dunia digital. Melalui kompetensi yang dimiliki, mereka berperan menjaga keamanan infrastruktur digital yang semakin menjadi tulang punggung berbagai aktivitas masyarakat.
"Fokus kami mencetak talenta-talenta cyber guardian untuk membantu pertumbuhan ekosistem cyber security di Indonesia," ujarnya.
Ia mengingatkan, dampak serangan siber terhadap perusahaan tidak hanya dirasakan oleh karyawan yang bekerja menggunakan komputer, tetapi dapat menghentikan keseluruhan operasional perusahaan, terutama di sektor padat karya.
"Kalau perusahaan padat karya terkena serangan siber, bukan hanya pegawai kantor yang terdampak. Operasional bisa berhenti total dan akhirnya memengaruhi pekerja harian serta kondisi ekonomi perusahaan," jelasnya.
Baca juga: Sapi Belgian Blue Jadi Primadona, BBIB Singosari Malang Penuhi Tingginya Permintaan Semen Beku
Sementara pada sektor keuangan, serangan siber berpotensi menimbulkan kerugian lebih besar, mulai dari hilangnya kepercayaan nasabah hingga kebocoran data penting.
"Di sektor finansial dampaknya bisa sangat masif. Bisa kehilangan nasabah, data penting bocor, bahkan informasi rahasia perusahaan diambil oleh pelaku kejahatan siber," katanya.
Dean mengungkapkan, Digital Solusi Grup juga pernah menangani berbagai kasus keamanan siber di Kota Malang. Meski enggan menyebut nama perusahaan, ia mengatakan kasus tersebut terjadi di berbagai sektor strategis.
"Ada cukup banyak kasus yang kami tangani di Malang, mulai sektor kesehatan, finansial, transportasi hingga manufaktur. Namun tentu kami tidak bisa menyebutkan nama perusahaannya," ujarnya.
Menurut Dean, tantangan terbesar saat ini bukan hanya meningkatnya ancaman serangan siber, tetapi juga masih terbatasnya jumlah talenta keamanan siber di Indonesia, termasuk di Kota Malang.
"Kami masih sangat kekurangan talenta cyber. Padahal kebutuhannya terus meningkat," katanya.
Ia menilai kesadaran perusahaan terhadap pentingnya keamanan siber memang mulai tumbuh. Namun, sebagian besar perusahaan baru benar-benar memberikan perhatian serius setelah mengalami insiden.
"Pemahaman manajemen memang mulai meningkat. Tetapi selama mereka belum merasakan dampak langsung, biasanya antisipasinya belum maksimal. Ibarat bencana alam, kalau belum pernah mengalami, sering kali belum merasa perlu melakukan mitigasi," pungkasnya.
Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Brawijaya (UB) terus memperkuat kolaborasi dengan dunia industri untuk menyiapkan talenta keamanan siber yang siap menghadapi kebutuhan dunia kerja. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkecil kesenjangan kompetensi antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri digital.
Wakil Dekan III FILKOM UB, Budi Darma Setiawan, mengatakan materi keamanan siber telah menjadi bagian dari kurikulum yang diterapkan di fakultas. Namun, pihaknya menilai pembelajaran di ruang kelas saja belum cukup untuk menjawab kebutuhan industri yang berkembang sangat cepat.
"Di FILKOM kurikulum terkait cyber security sudah ada. Yang kami inginkan adalah mengecilkan gap antara industri dengan kampus. Selama ini sering kali apa yang diajarkan di kampus berbeda ketika masuk ke industri. Masih ada kekurangan kompetensi," ujar Budi.
Menurutnya, kerja sama dengan berbagai perusahaan teknologi, termasuk penyelenggaraan kompetisi keamanan siber, menjadi sarana penting untuk mengetahui kemampuan yang dibutuhkan industri saat ini.
"Dengan kerja sama seperti ini kami berharap kesenjangan itu semakin kecil. Kompetisi juga memberikan masukan kepada kami mengenai talenta seperti apa yang perlu disiapkan agar sesuai kebutuhan industri," katanya.
Budi menjelaskan lulusan FILKOM UB saat ini telah terserap di berbagai sektor, baik instansi pemerintah maupun perusahaan swasta. Sebagian besar bekerja di pusat-pusat industri digital nasional seperti Jakarta dan Surabaya, meski tidak sedikit pula yang berkarier di Malang.
"Sebaran lulusannya cukup merata. Ada yang bekerja di pemerintahan, banyak juga di industri swasta. Rata-rata memang berada di kota-kota besar karena pusat industri digital masih terkonsentrasi di sana," ujarnya.
Untuk memperkuat keterhubungan antara dunia akademik dan industri, FILKOM UB tengah mengembangkan program Teaching Factory. Melalui program tersebut, perusahaan-perusahaan teknologi akan diberi ruang membuka kantor perwakilan di lingkungan kampus.
Dari konsep tersebut, kampus mencoba mempercepat transfer pengetahuan sekaligus memberikan pengalaman kerja nyata kepada mahasiswa sebelum lulus. Dengan demikian, lulusan tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga pengalaman praktis yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Baca juga: Berkunjung ke BBIB Singosari Malang, Gubernur Khofifah Optimistis Indonesia Bisa Swasembada Daging