Suhu Ekstrem Terpa Eropa, Prancis Catat Rekor Terpanas 40 Derajat Celcius
GH News June 28, 2026 08:09 PM
Paris -

Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis dan sejumlah negara Eropa menewaskan sedikitnya 40 orang saat berenang di area tak diawasi. Mayoritas korban disebut merupakan anak muda yang mencoba mencari cara untuk mendinginkan diri di tengah suhu tinggi.

Perdana Menteri Prancis, Sebastien Lecornu, menyebut para korban sebagai kelompok paling terdampak dalam situasi tersebut. "Mereka adalah korban pertama dari krisis yang sedang kita hadapi," ujarnya dilansir dari , Minggu (28/6/2026).

Oleh karenanya pemerintah di sana menganjurkan untuk mengurangi aktivitas-aktivitas di luar ruangan agar terhindar dari cuaca panas ekstrem yang tengah terjadi. Menteri Olahraga, Marina Ferrari, mengingatkan bahaya aktivitas di area terlarang saat cuaca ekstrem.

"Berenang di area yang tidak diizinkan saat gelombang panas bukan hal yang bisa dianggap sepele," tegas Marina.

Terdapat dua korban anak-anak di Carpentras yang ditemukan tak sadarkan diri di dalam mobil, diduga akibat paparan panas. Kemudian, tiga lansia di wilayah Bordeaux turut meninggal karena masalah kesehatan terkait suhu tinggi.

Organisasi IFRC memperingatkan risiko kesehatan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan. "Suhu ekstrem tanpa tindakan pencegahan dapat dengan cepat menjadi persoalan hidup dan mati," ujar Mary Friel dari IFRC.

Prancis Catat Hari Terpanas

Menurut badan meteorologi Prancis, Mateo France, suhu di sejumlah wilayah Prancis dilaporkan menembus lebih dari 40 derajat Celsius.

Mereka juga menyebut Selasa lalu sebagai hari terpanas sejak pencatatan dimulai pada 1947, dengan suhu rata-rata nasional mencapai 29,8 derajat Celsius. Sebanyak 54 wilayah berada dalam status peringatan merah.

Sejumlah kota memecahkan rekor suhu, sementara sekolah-sekolah menyesuaikan jadwal atau ditutup lebih awal. Museum Louvre dan Menara Eiffel juga sempat menutup lebih cepat akibat panas ekstrem.

Gelombang panas juga terjadi di negara lain. Inggris diperkirakan mencatat suhu hingga 39 derajat Celsius, Spanyol mencapai 40 derajat di San Sebastian, dan Italia mengeluarkan peringatan tertinggi di 15 kota.

Fenomena itu dipicu pola cuaca 'Omega block' yang menjebak udara panas di atas Eropa. "Udara panas tertarik dari Afrika Utara dan Sahara, itulah sebabnya panasnya sangat ekstrem. Sistem ini bergerak lambat dan hampir tidak ada angin untuk meredakan suhu," ujar peneliti Imperial College London, Clair Barnes.

Para ilmuwan menilai perubahan iklim membuat gelombang panas seperti ini semakin sering dan intens.

Muhammad Lugas Pribady
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.