Laporan Wartawan Serambi Indonesia Jafaruddin I Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Tim gabungan masih melanjutkan pencarian terhadap Muhammad Ilham (17), remaja asal Gampong Meunasah Rayeuk LB, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, yang hilang di kawasan wisata Air Terjun Tujuh Bidadari, Kecamatan Geureudong Pase.
Hingga Minggu (28/6/2026), korban belum ditemukan, setelah sehari sebelumnya rekannya, Muhammad Dzuhdi (19), ditemukan meninggal dunia.
Operasi pencarian memasuki hari kedelapan dengan melibatkan personel Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat setempat.
Kabid Darurat dan Logistik BPBD Aceh Utara, Saifullah, kepada Serambinews.com, Minggu (28/6/2026), mengatakan tim gabungan terus memperluas area pencarian dengan menyisir aliran Krueng Suak, kawasan hutan, serta sejumlah titik yang diduga menjadi jalur kedua remaja menuju Air Terjun Tujuh Bidadari.
"Kami masih melanjutkan pencarian terhadap satu korban yang belum ditemukan. Tim gabungan terus menyisir aliran sungai dan kawasan hutan di sekitar lokasi kejadian," katanya.
Baca juga: Aceh Utara Terima Bantuan Alkes Mutakhir dari Kemenkes, Perkuat Layanan Kesehatan Pascabanjir
Sehari sebelumnya, Jumat (26/6/2026), tim gabungan menemukan Muhammad Dzuhdi dalam kondisi meninggal dunia di aliran Krueng Suak, sekitar 200 meter dari jalur menuju Air Terjun Tujuh Bidadari.
Batuud Koramil 27 Geureudong Pasee, Pelda Rahmat, mengatakan jenazah korban langsung dievakuasi menggunakan ambulans Puskesmas Geureudong Pasee untuk diserahkan kepada pihak keluarga.
"Korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Sementara satu korban lainnya masih dalam pencarian dan operasi terus dilanjutkan," ujarnya.
Muhammad Dzuhdi dan Muhammad Ilham diketahui berangkat menuju Air Terjun Tujuh Bidadari pada Sabtu (20/6/2026) sekitar pukul 08.00 WIB. Keduanya merupakan santri di dua dayah berbeda di Aceh Utara.
Sebelum berangkat, Muhammad Ilham sempat berpamitan kepada ibunya dan mengatakan akan pulang pada hari yang sama. Ia juga menyampaikan tidak akan bermalam di lokasi wisata karena hanya membawa uang saku sebesar Rp50 ribu.
Namun hingga Senin (22/6/2026), keduanya tidak kembali ke rumah. Keluarga yang berusaha menghubungi telepon seluler mereka tidak mendapat respons.
Pihak keluarga kemudian mendatangi kawasan Air Terjun Tujuh Bidadari untuk mencari kedua remaja tersebut. Karena tidak membuahkan hasil, kejadian itu dilaporkan kepada aparat sehingga operasi pencarian melibatkan tim gabungan.
Selama proses pencarian, petugas menghadapi medan yang cukup berat berupa hutan lebat, jurang, serta aliran sungai yang deras. Kondisi cuaca yang berubah-ubah juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim di lapangan.
Berdasarkan dugaan sementara, kedua remaja tersebut diduga terseret arus Krueng Suak saat melintasi sungai menuju lokasi wisata. Meski demikian, penyebab pasti kejadian masih menunggu hasil penyelidikan pihak berwenang.
Pelda Rahmat mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat berkunjung ke objek wisata alam, terutama yang memiliki medan berat.
"Jangan memaksakan perjalanan tanpa didampingi warga yang mengenal lokasi. Langkah itu penting untuk mengurangi risiko kecelakaan di kawasan wisata alam," katanya.
Sementara itu, ayah Muhammad Dzuhdi, Syahbuddin, menyampaikan terima kasih kepada seluruh tim gabungan dan masyarakat yang telah membantu proses pencarian putranya.
"Dari hati yang paling dalam, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim gabungan dan masyarakat yang telah membantu mencari, mendoakan, serta mengevakuasi anak saya. Kami juga berharap Muhammad Ilham segera ditemukan," ujarnya.(*)