TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Gubernur Jateng Cup Taekwondo Open Tournament 2026 berakhir pada Minggu (28/6/2026) setelah berlangsung selama tiga hari di GOR Jatidiri Semarang.
Kejuaraan yang diikuti 2.935 atlet dari enam provinsi itu berhasil menjadi ajang pembinaan sekaligus memunculkan banyak bibit atlet potensial untuk memperkuat Taekwondo Jawa Tengah pada masa mendatang.
Kota Semarang menjadi Juara Umum dengan raihan 7 medali emas, 5 perak, dan 3 perunggu.
Posisi Juara Umum II diraih Taekwondo Solo dengan koleksi 6 emas, 6 perak, dan 6 perunggu. Sedangkan Juara Umum III menjadi milik Kabupaten Semarang setelah mengumpulkan 4 emas, 4 perak, dan 8 perunggu.
Baca juga: Disdik Jateng: Jangan Takut, Lapor ke Kami Jika Sekolah Pungut Uang Seragam
Selain itu, panitia juga memberikan penghargaan kepada atlet dan pelatih terbaik.
Atlet terbaik kyorugi putra diraih Marvino Pratama Putra asal dojang Raptor Boyolali. Atlet terbaik kyorugi putri diraih Resya Aulia Izzatunnisa asal Grobogan.
Atlet terbaik poomsae putra Muhammad Daffa Ardana dari dojang Cakra Agni SMG, dan atlet terbaik poomsae putri diraih Felda Tisana Alverina dari dojang Teluk X Jeonsa Team.
Penghargaan pelatih favorit putra diberikan kepada Prabu dari Sawunggaling. Adapun pelatih favorit putro kepada Dian Putri Puspita Sari dari Kota Semarang, sedangkan Team Favorite diraih dojang Lourdez Taekwondo Kupang.
Kabid Pembinaan Prestasi Pengurus Provinsi Taekwondo Indonesia (TI) Jawa Tengah, Derry Darmansyah mengatakan, kualitas atlet usia dini yang tampil dalam kejuaraan kali ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
Menurutnya, banyak atlet muda yang memiliki potensi untuk dipersiapkan menuju level junior hingga senior di tengah padatnya kalender kompetisi taekwondo.
"Kalau melihat dari pertandingan ini banyak potensi-potensi muda yang nantinya bisa dijadikan regenerasi untuk ke tingkat junior dan senior."
"Sekarang pertandingan sangat padat, hampir setiap bulan ada kejuaraan di daerah maupun series dari PB TI," ujar Derry, Minggu (28/6/2026).
Dia menjelaskan, banyaknya kompetisi menjadi keuntungan karena atlet memiliki lebih banyak kesempatan mengasah kemampuan sebelum diproyeksikan tampil pada ajang yang lebih tinggi.
"Minimal ke depan punya beberapa lapis atlet yang bisa diproyeksikan untuk kejuaraan-kejuaraan berikutnya," katanya.
Derry juga menilai perkembangan atlet di berbagai daerah mulai menunjukkan pemerataan. Jika sebelumnya pembinaan didominasi kota-kota besar, kini sejumlah daerah mulai melahirkan atlet-atlet potensial.
"Perkembangannya cukup bagus. Dari segi postur maupun teknik sudah mulai berkembang di daerah-daerah. Pemerataan pembinaan yang dilakukan cukup berhasil," ungkapnya.
Meski demikian, penyelenggaraan Gubernur Jateng Cup tahun ini tetap akan dievaluasi.
Sebagai edisi perdana dengan jumlah peserta yang mendekati angka 3.000 atlet yang terlibat, Pengprov TI Jawa Tengah menerima sejumlah masukan dari Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PB TI), terutama terkait teknis penyelenggaraan agar semakin tertib pada pelaksanaan berikutnya.
"Setelah ini akan ada evaluasi. PB TI juga memberikan beberapa masukan mengenai penyelenggaraan."
"Ke depan kami ingin menjadikan event ini sebagai agenda rutin untuk mencari bibit-bibit atlet Taekwondo Jawa Tengah," ujarnya.
• 6 Pengasuh Ponpes di Jateng Terseret Kasus Dugaan Kekerasan Seksual, Ini Desakan LRC-KJHAM
Sementara itu, Kabid Organisasi Pengprov TI Jawa Tengah, Taufik Hidayat menilai, tingginya partisipasi seluruh kabupaten dan kota menjadi indikator positif terhadap perkembangan organisasi taekwondo di daerah.
Menurutnya, seluruh 35 pengurus kabupaten/kota di Jawa Tengah mengirimkan atlet melalui klub masing-masing sehingga antusiasme peserta meningkat signifikan.
"Semua pengkab dan pengkot di Jawa Tengah mengirimkan atletnya. Ini luar biasa. Pengurus-pengurus daerah yang sebelumnya kurang aktif sekarang mulai bangkit kembali," kata Taufik.
Dia mengatakan, penataan organisasi juga mulai menunjukkan hasil. Banyak pemegang sabuk hitam (black belt) mulai membuka dojang atau tempat latihan baru sehingga diharapkan mampu memperluas pembinaan atlet di berbagai daerah.
Ke depan, Pengprov TI Jawa Tengah akan melakukan pendataan terhadap seluruh klub serta pemegang black belt di Jawa Tengah agar pembinaan dan pengembangan organisasi semakin terstruktur.
"Kami akan mendata seluruh klub dan black belt yang ada di Jawa Tengah, kemudian mengorganisasikannya agar pembinaan berjalan lebih baik. Kuantitas penting, tetapi kualitas tetap menjadi prioritas utama," jelasnya.
Taufik menambahkan, kejuaraan ini juga dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pemantauan atlet yanng disiapkan untuk PON 2028.
Pemantauan lanjutan akan dilihat dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026.
Melalui ajang tersebut, Pengprov TI Jateng berharap dapat menyusun tim yang lebih solid untuk menghadapi berbagai kejuaraan mendatang, utamanya menghadapi babak kualifikasi PON 2027 dan PON 2028.
Gubernur Jateng Cup Taekwondo Open Tournament 2026 diikuti 2.935 atlet dari Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Tengah.
Selama tiga hari, para atlet bertanding di nomor Kyorugi dan Poomsae pada kategori Pra Cadet, Cadet, Junior, hingga Senior dengan melibatkan sekira 230 pelatih dan ofisial. (*)