Prediksi IHSG Senin 29 Juni 2026: Berpotensi Menguat Terbatas, Investor Pantau Sentimen Global
Abdul Rosid June 28, 2026 09:07 PM

TRIBUNBANTEN.COM - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (29/6/2026) diproyeksikan memiliki peluang untuk menguat, meski kenaikannya diperkirakan masih terbatas.

Sejumlah analis menilai IHSG masih berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami tekanan cukup besar pada perdagangan sebelumnya. Investor masih akan mencermati berbagai sentimen, terutama dari kondisi global dan aliran dana asing yang menjadi faktor penting bagi arah pasar saham Indonesia.

Pada perdagangan Jumat (26/6/2026), IHSG tercatat melemah 1,72 persen ke level 5.896,13. Dalam periode sepekan terakhir, indeks saham domestik juga terkoreksi hingga 4,55 persen akibat tekanan jual yang masih membayangi pasar.

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, memperkirakan IHSG pada awal pekan akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan menguat secara terbatas.

Baca juga: Tahun Ajaran Baru 2026/2027 Dimulai, Ini Aturan Resmi Soal Seragam Sekolah SD, SMP, SMA dan SMK

Menurutnya, IHSG berpotensi bergerak dalam rentang support 5.772 dan resistance 6.040. Secara teknikal, indikator MACD menunjukkan tren yang masih melandai sehingga ruang penguatan masih relatif terbatas.

"Pergerakan IHSG masih akan bergantung pada sentimen pasar serta kepastian masuknya kembali dana asing ke pasar saham domestik," ujar Oktavianus.

Sentimen Global Jadi Perhatian Investor

Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah perkembangan geopolitik global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkat di sekitar Selat Hormuz berpotensi menciptakan ketidakpastian bagi pasar keuangan global.

Investor akan mencermati perkembangan konflik tersebut karena eskalasi lebih lanjut dapat memicu peningkatan volatilitas pasar saham, termasuk IHSG.

Selain faktor geopolitik, kondisi nilai tukar rupiah, kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI), serta keputusan indeks global juga menjadi sentimen yang dapat memengaruhi pergerakan saham dalam negeri.

Dana Pemerintah Bisa Jadi Penopang IHSG

Dari dalam negeri, pasar mendapatkan sentimen positif dari kebijakan pemerintah yang kembali menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) hingga Rp400 triliun pada bank-bank milik negara atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Kebijakan tersebut dinilai dapat menjaga likuiditas perbankan dan mendorong kemampuan penyaluran kredit.

Selain itu, investor juga akan menantikan rilis data inflasi Juni 2026 yang diperkirakan berada di level 3,1 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Meski mengalami kenaikan dibanding periode sebelumnya, angka tersebut masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia sehingga diperkirakan tidak memberikan tekanan besar terhadap pasar.

 “Meski inflasi meningkat dari periode sebelumnya, tetapi angka ini masih dalam rentang target Bank Indonesia (BI), sehingga hal ini akan cenderung direspons moderat oleh pasar,” ujar dia, Minggu (28/6). 

Senada, Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menyampaikan, pelaku pasar akan mencermati rilis data domestik seperti inflasi dan neraca perdagangan pada awal pekan nanti. 

Jika inflasi tetap terkendali dan surplus neraca perdagangan membaik, maka hal itu akan menjadi katalis positif bagi IHSG melalui penguatan rupiah dan meningkatnya kepercayaan investor. 

Di sisi lain, efek dari keputusan MSCI, tren pelemahan rupiah, tingginya suku bunga acuan BI, dan masih berlanjutnya arus keluar dana asing turut membatasi minat beli investor di pasar domestik. 

Secara teknikal, Reza memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran support 5.850-5.730 dan resistance 6.000-6.130 pada Senin besok. 

Selama IHSG mampu bertahan di atas area support tersebut, maka peluang rebound teknikal masih terbuka. 

“Namun, tren penguatan baru akan lebih terkonfirmasi apabila IHSG mampu menembus area 6.130 yang saat ini menjadi level lower high sekaligus resistance jangka pendek,” imbuh dia, Sabtu (27/6). 

Terdapat sejumlah saham yang dapat dijadikan pilihan bagi investor untuk perdagangan besok menurut Reza, antara lain BBCA, MBMA, dan KLBF. Sementara menurut Audi, ada beberapa saham pilihan dengan analisis teknikal untuk esok hari. 

Pertama, BBCA yang direkomendasikan speculative buy dengan support di level Rp 5.800 per saham dan resistance di level Rp 6.600 per saham. 

Kedua, BMRI yang direkomendasikan speculative buy dengan support di level Rp 3.880 per saham dan resistance di level Rp 4.230 per saham. 

Ketiga, BBRI yang direkomendasikan speculative buy dengan support di level Rp 2.770 per saham dan resistance di level Rp 3.050 per saham.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.