TRIBUNNEWS.COM - Momen terbalik antara pelatih dan pemain yang ditenangkan saat emosi memuncak, terjadi dalam drama kelolosan Kanada ke babak 16 Besar Piala Dunia 2026.
Pelatih Kanada, Jesse Marsch, harus diredam emosinya dan ditahan oleh Moise Bombito agar tidak berkonfontrasi dengan wasit menyusul keputusan kontroversi perihal pelanggaran di kotak penalti.
Kanada, diketahui menjadi tim pertama lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2026 seusai menyingkirkan Afrika Selatan lewat skor 1-0 di Stadion SoFi, California, Amerika Serikat, Senin (29/6) dini hari WIB.
Sebelumnya, Kanada yang juga berstatus sebagai satu dari tiga tuan rumah Piala Dunia 2026, diprediksi cukup mampu berbicara banyak pada turnamen akbar empat tahunan ini. Dan itu dibuktikan oleh Jonathan David dkk.
"Bagi Kanada, Piala Dunia 2022 kemarin sebagai pengalaman mereka. tetapi yang sekarang, mereka sudah harus ngebuktin, apalagi mereka statusnya sebagai tuan rumah (Piala Dunia 2026-red)," nilai football enthusiast, Bayu Ajianto dalam podcast Tribunnews berjudul "SUPER TAKTIK: Prediksi Grup A-F Piala Dunia 2026 & Last Dance Ronaldo vs Messi" di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
"Generasi terbaik dalam sejarah sepak bola Kanada juga sudah disiapkan," tambahnya menjelaskan.
Disebut drama akan keberhasilan Kanada melaju ke babak selanjutnya, karena gol yang tercipta terjadi di waktu tambahan babak kedua.
Tepatnya menit 90+2'. Stephen Eustaquio datang sebagai pahlawan Kanada lewat gol tunggalnya di detik-detik akhir pertandingan.
Nantinya di 16 Besar, Kanada akan melawan pemenang dari laga antara Belanda vs Maroko yang baru akan digelar Selasa (30/6) pagi WIB.
Lantas momen apa di mana kondisi terbalik terjadi antara pemain dan pelatih dari kubu Kanada?
Tepatnya setelah babak pertama berakhir, Jesse Marsch, menyerbu masuk ke lapangan pertandingan untuk memprotes keputusan wasit.
Pelatih asal Amerika Serikat itu tidak menerima keputusan wasit yang tak memberikan timnya hadiah penalti, tepatnya akibat Richie Laryea yang dijatuhkan bek Afrika Selatan, Khuliso Mudau di area kotak terlarang.
Tayangan ulang menunjukkan benturan keras antara keduanya tepat di dalam kotak penalti.
Baca juga: Jepang Harapan Terakhir Asia, Mental Samurai Bisa Kejutkan Brasil di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Namun sentuhan kecil pada bola dari pemain bertahan memberi VAR cukup ruang untuk memutuskan bahwa keputusan di lapangan sudah benar.
Saat Marsch dengan langkah cepatnya dan suasana hati yang berapi-api, pelatih Kanada itu hendak menghampiri pengadil pertandingan.
Tetapi seketika dia ditahan oleh pemainnya sendiri Moise Bombito. Bahkan bek Kanada itu harus menggunakan kekuatan fisiknya untuk menghentikan keinginan Marsch menghampiri wasit untuk berdebat.
Untungnya, Bombito berhasil mencegah keinginan sang pelatih.
Mantan pemain Manchester United dan timnas Inggris, Dion Dublin pun memberikan komentar menyoal aksi Moise Bombito untuk melindungi pelatihnya.
“Anda hanya ingin menjauhkan manajer Anda, Moise Bombito telah melakukan hal yang baik dalam hal itu dengan mengatakan kepada Jesse Marsch 'menjauhlah.'" nilai pria kelahiran Leicester ini, dikutip dari laman BBC.
Sementara salah seorang pakar wasit bernama Christina Unkel, menyebut momen tekel bek Afrika Selatan kepada Laryea, lebih tepat jika diberikan penalti.
“Saya lebih suka melihat penalti diberikan dan rekomendasi di lapangan," nilai Unkel
“Contoh yang bagus adalah Vinicius Jr melawan Skotlandia. Ini adalah kasus-kasus yang masih diperdebatkan. Menurut pendapat pribadi saya , itu adalah pelanggaran dan seharusnya mendapat penalti," tegasnya mengakhiri.
(Tribunnews.com/Giri)