Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir
Founder Anak Makassar Voice
TRIBUN-TIMUR.COM - Hari-hari ini gerakan mahasiswa menjadi semacam satu pembahasan menarik di setiap kalangan.
Kehadiran gerakan mahasiswa seperti aksi demonstrasi dalam merespon isu dan kebijakan pemerintah telah trending topik di berbagai platform media sosial seperti instagram, facebook, tiktok dan platform media sosial lainnya.
Dari gerakan mahasiswa ini, seperti aksi demonstrasi telah menimbulkan berbagai fenomena unik.
Dari kemunculan para demonstran sebagai orator dengan statement dan aksi heroiknya, isu, konten dan isi dari demonstrasinya hingga para demonstran lain yang rela disuap dan menjual gerakannya.
Santer yang hangat diperbincangkan adalah Fatimah Azzahra salah seorang mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Indonesia ini adalah aktivis perempuan sekaligus wakil ketua BEM UI telah menjadi buah bibir di banyak kalangan dan publik sebab statementnya pada saat berdemo yang sangat heroik, lugas, tegas, berbobot dan intelek.
Sehingga, diundang di acara-acara podcast dan stasiun TV sebagai pembicara, dan sebagai perwakilan mahasiswa yang menyuarakan dengan lantang pikiran-pikiran dan keresahannya yang memihak pada kepentingan rakyat.
Fenomena yang lain kemunculan Tiyo Ardiyanto sebagai aktivis mahasiswa dan mantan ketua BEM UGM ini juga menjadi perbincangan menarik.
Kemunculannya bermula ketika bentuk kritiknya pada pemerintah, saat ia menulis hingga mengirim surat ke UNICEF.
Point penting dari surat tersebut yang unik, didasari dari fenomena seorang anak di NTT yang mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli peralatan sekolah. Surat itu viral dengan kutipan yang terbilang cukup berani dan tajam.
“Help us to tell Prabowo Subianto How stupied he is as president.” Bantu kami memberi tahu Prabowo Subianto betapa bodohnya dia sebagai Presiden.”
Dengan kutipan surat di atas, selain sebagai wujud kegelisahan dan keresahan pada kebijakan rezim hari ini.
Yang dipandang gagal mengurus negara dan dipandang gagal dalam pemenuhan hak dan kebutuhan dasar semua individu khususnya masyarakat miskin.
Cara dan bentuk kritik di atas juga dipandang kreatif dan out of the box.
Dua fenomena ini menjadi sebuah penanda bahwa hari ini mahasiswa dan kelompok muda dalam hal gerakan mahasiswa belum kehabisan metode agar tetap relevan di dunia pergerakan.
Mereka masih peka dalam mengambil peranan dan tanggung jawab yang strategis untuk mengetuk ruang kesadaran kita dalam membangun perubahan-perubahan yang baik.
Fenomena ini mesti menjadi bahan pembelajaran bagi kita semua, khususnya mahasiswa bahwa dalam setiap zaman, mahasiswa dan kaum muda mesti tampil, merasa gelisah dan resah ketika keadaan negara, politik dan kebijakan rezimnya mengalami carut marut, terjadi kesewenang-wenangan, ketidakadilan dan mengekang kebebasan sipil.
Meski demikian, fenomena di atas hanyalah gambaran kecil dari gerakan mahasiswa di Indonesia.
Dari berbagai fenomena yang terjadi, muncul juga sebuah fenomena demonstrasi yang sangat menyimpang, bertentangan dengan semangat demonstrasi, semacam anomali gerakan.
Lihat misalnya, pengakuan dari seorang ketua BEM Universitas Bung Karno bersama rombongan massa aksi yang telah mendapat ruang audiensi ke istana Wakil Presiden.
Dari berbagai eskalasi, lembaga dan kampus yang melakukan demo hanya kampus ini yang dipanggil. Tentu ini mesti menjadi pertanyaan, ada apa dibalik audiensi itu.
Sepulangnya, rombongan massa aksi ini mendapat suasana buruk, berupa hujatan dan penghakiman oleh mahasiswa lainnya yang merasa dirugikan.
Buntutnya sang ketua BEM dicopot dan harus dinonaktifkan dari jabatannya.
Pengakuannya bahwa ia menerima suap dan dibayar oleh polisi dipandang menghianati diri dan gerakan aksi demonstrasinya.
Ia mencederai gerakannya. Sehingga, membuat pihak kampus harus mengambil sikap tegas untuk menonaktifkannya.
Ia dan rombongan massa aksi yang dipimpinnya tak dapat mengelak, sehingga selain mendapat sanksi sosial seperti dihujat dan dipermalukan di depan umum. Ia juga memperpanjang daftar pergerakan mahasiswa yang sangat pragmatis.
Bahwa era kepengurusannya di BEM yang rentan, lemah idealisme dan integritasnya.
Situasi ini sungguh miris, karena dalam kesempatan yang sama, hal demikian juga marak terjadi di berbagai tempat dan daerah di Indonesia.
Pragmatisme gerakan mahasiswa ini selain sebagai duri dalam daging. Ia juga melabeli diri sebagai antek penguasa dan negara bukan bagian dari suara nurani rakyat.
Fenomena ini juga sangat penting menjadi pelajaran bahwa gerakan mahasiswa memang dasarnya adalah idealisme dan keyakinan yang kuat pada kebenaran dan keberpihakan pada keadilan.
Gerakan mahasiswa harus menyadari dan meyakini bahwa salah satu semangat mahasiswa ialah sebagai juru bicara zaman, suara benar.
Pejuang sejati dan sebagai perwakilan suara rakyat mesti dijalankan dengan hati yang yang tulus, hati yang jernih dengan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya.
Dari fenomena di atas juga, keterlibatan aparat kepolisian dalam menyuap massa aksi mesti dipertanyakan.
Apa kepentingan polisi dari gerakan mahasiswa hari ini? Selain sebagai bentuk propaganda dan memecah persatuan massa, melemahkan daya juang juga sangat mengekang kemurnian ekspresi dan suara nurani kita.
Gerakan mahasiswa mesti waspada, tak boleh diprovokasi.
Karena tak tahan godaan pragmatis sebagian massa aksi dan gerakan mahasiswa membiarkan dirinya ditunggangi, diperalat oleh pihak yang berkepentingan.
Sungguh miris mahasiswa yang rela menggadaikan gerakan dan idealismenya.
Dari fenomena di atas, memang benar kalau gerakan mahasiswa hari ini menjadi suatu bahasan menarik dipelajari dan perlu dikaji ulang.
Mengukur kembali dorongan, motivasi bahkan daya gugah dan daya gugatnya dalam mewujudkan perubahan yang baik.
Tapi, dengan demikian perlu menjadi sebuah kesadaran bersama bahwa sepanjang sejarah gerakan mahasiswa memang bukanlah faktor utama terjadinya perubahan besar.
Fenomena 1998 misalnya. Tapi, dengan demikian tanpa ada api-api kecil itu, kobaran api besar takkan mungkin terjadi.
Sekaitan dengan reformasi 1998, nampaknya kita masih berenang-renang pada lautan nostalgia.
Senang meromantisasi perubahan yang terjadi tanpa menyadari bahwa suasana pada tahun 1998 tanda-tandanya telah di depan mata.
Seperti masuknya kembali militer di ruang-ruang sipil, korupsi di segala lini tingkatan pemerintahan dari pusat dan daerah, hingga pengekangan dan teror negara oleh sipil dan mahasiswa yang dianggap melawan.
Sederhananya begini, kita lihat fenomena kebijakan. Tiga program ambisius rezim hari ini seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih hingga Sekolah Rakyat adalah program yang terkesan sangat dipaksakan.
Dari pengerjaan ini terlibat aparat militer, di mana seharusnya hanya diisi oleh sipil.
Naasnya, menghabisi anggaran hingga triliunan. Terkesan alokasinya tidak efisien dan tidak tepat sasaran.
MBG misalnya telah menjadi lumbung korupsi. Manajer koperasi merah putih pada tahun 2026 ini yang telah meninggal sebanyak 5 orang di lokasi pelatihan dan latsarmil ini juga dipandang gagap dan gagal.
Pasalnya, seorang manajer koperasi harus melewati fase pelatihan dasar militer, yang dipertanyakan apa urgensinya. Termasuk semua program unggulan Presiden hari ini diawasi dan dikontrol langsung oleh tentara.
Fenomena pengekangan sipil seperti kasus Andrie Yunus yang mendapat teror penyiraman air keras hingga pembubaran secara paksa pemutaran film pesta babi yang notabenenya film dipandang sebagai bentuk ekspresi seni.
Apakah suasana ini tidak persis sama era 1998? Saat di mana militer telah memasuki ranah kehidupan sehari-hari kita.
Mari kita renungkan kembali bersama.
Sisi lain, tiga program ambisius ini. Model dan penggarapannya hampir sama era orde baru dengan dalih pemerataan dan stabilitas. Yang hari-hari ini tengah berjalan programnya.
Dengan dalih itu pulalah rezim hari ini mengukuhkan kekuasaannya.
Fenomena ini menjadi sebuah penanda serius dan penting bahwa hampir dua tahun Prabowo Subianto menjabat.
Hanya melahirkan persoalan baru tanpa menyelesaikan betul akar masalah bangsa kita.
Nah, memang benar kalau mahasiswa sebagai salah satu komponen utama yang memiliki latar belakang akademisi dan intelektual yang cukup kuat merasa resah dan kecewa melihat fenomena pemerintahan hari ini.
Pasalnya, menurut mahasiswa, pemerintahan Prabowo Subianto selain gagal dan gagap merencanakan juga di pandang belum mampu menyentuh kebutuhan dasar kita seperti pemerataan pendidikan, akses kesehatan hingga terbukanya lowongan pekerjaan sebanyak-banyaknya.
Melainkan memilih menggelontorkan anggaran negara untuk membangun bangunan baru seperti dapur MBG, koperasi merah putih hingga sekolah rakyat.
Kebijakan ini selain tidak tepat sasaran juga menuai kontroversi.
Olehnya, dengan demikian rezim Prabowo Subianto dipandang gagal mengurus negara yang juga telah terlanjur rusak oleh periode sebelumnya.
Kembali lagi, lantas apakah gerakan mahasiswa masih bisa menjadi pemicu perubahan seperti pembahasan kita di atas?
Ringkasnya, memang gerakan mahasiswa hari ini belum mampu mewujudkan sebuah perubahan seperti tahun 1998.
Tetapi, kita bisa merenungkan pertanyaan di atas dan mencoba menjawabnya dengan meninjau kembali intensitas kajian mahasiswa di komunitas dan lembaga mahasiswa yang ada di kampusnya masing-masing.
Dorongan literasi yang kuat, termasuk kepedulian mereka terhadap masalah-masalah yang terjadi dalam lingkungan sekitarnya.
Nah, kalau mahasiswa belum mampu menyadari bahwa untuk membangun sebuah gerakan yang membawa perubahan perlu kesiapan yang matang.
Konsep yang kuat dan termasuk kesadaran akan koneksi persatuan maka gerakan mahasiwa hari ini dapat dikatakan belum mampu menjadi penggerak dan pemicu perubahan dan gagal membaca zamannya.
Dan selama itu pulalah gerakan mahasiswa akan terus disusupi dan ditunggangi.