Berbekal Ridho Suami, Malessa Fashion Bawa Perempuan Solo Rajut Kemandirian Lewat Limbah Kain Perca
Putradi Pamungkas June 29, 2026 11:28 AM

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Hanang Yuwono

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Suara deru konstan dari mesin jahit terdengar lantang di sebuah rumah di yang terletak di gang padat penduduk di Tipes, Kecamatan Serengan, Kota, Solo, Tengah, pada Minggu (28/6/2026).

Di balik mesin itu, jemari Madu Mastuti (52) bergerak dengan ritme yang lincah namun penuh kehati-hatian. Matanya fokus menatap selembar kain kecil berbentuk segi empat yang sedang ia arahkan ke bawah jarum yang naik-turun dengan cepat.

Di sekelilingnya, berkotak-kotak kain perca, potongan sisa kain batik, katun bermotif polkadot, hingga denim bekas menumpuk rapi.

Bagi sebagian orang, tumpukan itu mungkin hanyalah sampah konveksi yang siap dibuang. Namun di tangan Madu, cabikan-cabikan kain tak berharga itu sedang mengantre untuk diubah menjadi sebuah karya seni yang bernilai tinggi.

Madu Mastuti adalah pemilik Malessa Fashion and Craft.

Kisah dimulai pada tahun 2018, ketika Madu Mastuti, memiliki sebuah mimpi yang sederhana namun mendalam: menciptakan ruang bagi para ibu rumah tangga di lingkungannya agar bisa tetap berdaya dan berpenghasilan, tanpa harus kehilangan waktu berharga bersama anak dan keluarga.

Dipilih nama Malessa yang mana merupakan gabungan nama Madu dengan putrinya, Alessa.

"Ketika itu, saya masih bertugas di perusahaan sebagai marketing. Tetapi, waktu itu masih harus mengurus pekerjaan di rumah. Apalagi anak saya yang paling kecil waktu itu tidak mau ditinggal," kata Madu membuka kisah hidupnya kepada TribunSolo.com.

Madu lalu memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai marketing demi fokus mengurus anak. Meski demikian, dia tak mau tinggal diam hanya sebagai ibu rumah tangga semata.

Dia pun memulai membuat daster dari potongan-potongan kain perca yang sudah tidak digunakan.

"Waktu itu mulailah menjahit daster dari sambungan-sambungan kain perca. Dari situ masih belum bisa menjual sendiri, saya titipkan ke pengepul-pengepul. Terus saya berusaha mencari pelanggan sendiri lewat media sosial. Awalnya pakai Facebook, saya upload ke marketplace Facebook. Di situ ternyata ada peluang pemasaran keluar kota," lanjut Madu.

Dua tahun merintis bisnis daster dari kain perca, pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Momentum ini justru memberi keuntungan bagi Malessa Fashion and Craft.

Madu Mastuti kala itu memutar otak tentang diferensiasi produk kecuali daster. Hingga terbesit ide membuat masker dari kain.

"Lalu kita produksi masker. Ternyata malah laris hingga keluar pulau. Perlahan produksi kita bertambah, bisa memberdayakan keluarga dan Malessa Fashion jadi upaya kolektif untuk bertahan di masa-masa sulit. Waktu itu kita bisa memberikan pekerjaan untuk ibu-ibu yang berada di rumah," ujar ibu tiga anak ini.

Sejak pertama kali merintis Malessa Fashion, Madu Mastuti sudah memperhatikan betul-betul aspek legalitas usahanya. Cara pertama yang ditempuh Madu adalah bergabung dengan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kota Surakarta dan juga komunitas-komunitas.

Upaya itu membuahkan hasil. Kini, Malessa Fashion berkembang menjadi merek lokal dengan legalitas lengkap, mulai dari HAKI, NIB, hingga sertifikasi TKDN.

Berkat legalitas itu, langkah Malessa Fashion untuk memasuki industri fesyen nasional semakin mudah. Bahkan, produk-produknya juga sudah diterbangkan keluar negeri.

"Jadi produk Malessa Fashion itu sudah dibawa keluar negeri. Ada Swiss, Belanda, Singapura, dan juga ke Australia. Tetapi memang belum ekspor, baru dibawa secara pribadi. Jadi istilahnya ada orang mau keluar negeri dan melihat produk saya cocok dipasarkan ke sana," kata Madu dengan nada bangga.

Madu Mastuti mengakui, pandemi Covid-19 justru membawa berkah bagi usahanya. Efeknya pun terasa sampai sekarang.

Selain itu, pemberdayaan juga menjadi tujuan utama Malessa Fashion. Bermula dari keresahan Madu, di mana banyak para perempuan di sekitarnya banyak yang usia produktif, namun hanya berdiam diri di rumah, mengandalkan gaji para suami.

"Jadi, saya ingin mendorong ibu-ibu di sekitar agar lebih maju. Tidak hanya saya yang maju, tetapi juga mendorong ibu-ibu yang lain itu supaya bisa mempunyai usaha untuk membantu perekonomiannya. Karena menurut saya, perempuan itu harus berdaya dan berkarya. Kalau perempuan bisa berdaya dan berkarya, Insya Allah perekonomian kita akan lebih dan tidak hanya mengandalkan penghasilan dari sang suami," ujarnya.

Begitu seorang istri sudah berdaya dan bisa berkarya sendiri, menurut Madu jangan sampai meremehkan peran suami sebagai tulang punggung keluarga. 

Justru kata dia, suami dan istri bisa saling mendukung untuk lepas dari kemiskinan.

"Selain mengurangi kemiskinan, juga bisa membantu mengurangi kasus kekerasan (dalam rumah tangga). Dalam rumah tangga itu kunci pokok paling utama adalah ekonomi. Kalau ekonomi kita morat-marit, dampaknya sangat luar biasa," lanjutnya.

Ketika seorang ibu rumah tangga mau membuka usaha menurut Madu Mastuti, yang terpenting adalah mendapatkan ridho dari sang suami. 

"Kalau tidak mendapatkan ridho dari suami, mau melangkah pun berat. Misalnya seperti saya yang sering keluar kota, kalau tidak ada ridho suami, tidak mungkin bisa berada di titik ini," ungkapnya.

Alasan Memilih Kain Perca

Madu Mastuti lantas mengungkapkan alasannya memilih kain perca untuk bisnis Malessa Fashion. Utamanya, dia ingin membantu merawat lingkungan dengan memanfaatkan limbah tekstil.

Namun, Madu menegaskan bahan yang digunakan Malessa bukanlah kain bekas, melainkan sisa garmen atau produksi konveksi dari pabrik-pabrik skala besar.

"Nah, dari situlah kita bisa memulai kepedulian terhadap limbah tekstil. Jadi saya membuka usaha ini adalah untuk mengolah sisa kain perca menjadi berbagai produk fesyen yang unik, berkualitas, dan memiliki nilai jual tinggi," kata Madu Mastuti.

Untuk saat ini produk-produk yang dijual Malessa Fashion berkutat untuk segmen ibu rumah tangga dan kalangan perempuan.

Mulai daster dari kain perca, bantal sofa dari kain perca, topi, totebag, pouch, bantal leher, dompet mini, outer, kemeja anak, kebaya anak, dan banyak lagi lainnya.

Madu mengungkapkan keunikan dari produk Malessa Fashion ini adalah semuanya dibuat limited atau terbatas. 

"Jadi satu produk untuk outer itu misalnya, tidak sama motifnya. Dalam satu produk kita itu tidak ada kembarannya. Jadi modelnya limited," ungkap dia.

Untuk jumlah karyawan di Malessa Fashion kini ada delapan orang yang semuanya adalah kaum perempuan. Mereka biasa membantu dalam proses produksi.

Semuanya adalah tetangga sekitarnya. Selain bagian produksi, Madu Mastuti juga memperkerjakan dua orang dari luar Solo.

Saat ini, Malessa Fashion mayoritas memasarkan produknya secara skala nasional. Utamanya dari Jawa dan luar Jawa. 

Madu mengakui dirinya sudah merambah ke marketplace, namun belum optimal karena kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang benar-benar fokus penjualan online.

"Karena selama ini saya masih fokus ke penjualan offline. Sudah punya pelanggan-pelanggan yang tetap dan bermitra di berbagai daerah. Seperti di bandara-bandara, toko oleh-oleh Nusantara seperti Krisna Oleh Oleh. Jadi yang saya fokusnya situ," ungkapnya.

Strategi pemasaran ini menurut Madu lebih efektif. Karena toko terkenal seperti Krisna Oleh Oleh sudah memiliki pasar yang menjangkau secara nasional dan ada di berbagai daerah di Indonesia. Produk Malessa Fashion juga sudah mejeng di berbagai hotel di Indonesia.

Madu Mastuti aktif mengikuti pameran-pameran fesyen level nasional. Pameran menjadi titik penting Malessa Fashion untuk mendapatkan customer yang berkelanjutan.

Dari pameran ini, Malessa Fashion terbukti semakin dikenal publik figur atau tokoh-tokoh penting di Indonesia. 

Mulai dari istri Wakil Presiden RI Selvi Ananda, Kahiyang Ayu, Siti Atikoh Ganjar, Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, istri Wali Kota Solo Venessa Winastesia, dan banyak lagi lainnya.

Modal Awal dari KUR BRI

Perjalanan Malessa menembus batas lokal tidak lepas dari suntikan bahan bakar modal dan ilmu. Melalui fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia, Madu berhasil menambah mesin jahit dan mesin potong baru. 

"Jadi saya memang modal awalnya dari KUR. Waktu itu memang sudah ada modal sedikit, tapi kan kita juga harus membeli alat produksi. Awalnya itu saya hanya bermodalkan punya pribadi kan hanya mesin kecil, terus dapat pinjaman BRI itu kita bisa beli mesin jahit yang high speed. Terus bisa memperbanyak bahan baku untuk menambah kapasitas produksi," kata Madu Mastuti.

Tidak hanya dari KUR BRI, dirinya juga bergabung dalam Rumah BUMN Solo.

Rumah BUMN Solo adalah wadah pembinaan dan pusat pengembangan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang diinisiasi oleh Kementerian BUMN. Dikelola oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) bekerja sama dengan BUMN lainnya, fasilitas ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan skala bisnis UMKM di wilayah Solo Raya.

Madu Mastuti menjelaskan proses awal mula dirinya bisa bergabung dengan Rumah BUMN Solo.

"Waktu itu saya tertarik ya dengan program-program di Rumah BUMN. Itu kan ada pendampingan-pendampingan untuk membawa UMKM naik kelas. Saya sempat ikut BRIncubator, lolos di tingkat nasional. Kemudian saya ikut program untuk latihan memulai ekspor yang diadakan BRI di Solo waktu itu," ujar Madu Mastuti.

Terbaru, Madu juga diundang BRI ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan ekspor, di mana dalam program ini BRI menjalin kerjasama dengan Kementerian Perdagangan.

"Kita diajari cara-cara membuat dokumen ekspor, kemudian diajari bagaimana bisa sampai ke buyer, negosiasi. Itu materinya sangat sangat luar biasa. Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada BRI yang telah memfasilitasi sehingga UMKM bisa naik kelas. Dan tentunya, saya berharap UMKM bisa ekspor secara mandiri," kata Madu.

Menekuni bisnis fesyen, diakui Madu jika Malessa Fashion saat ini menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya mulai banyaknya kompetitor dengan konsep bisnis yang sama.

"Ada banyaknya kompetitor itu bukan berarti membuat saya takut kalau produknya menjadi tidak laku. Justru adanya kompetitor, membuat kita harus memikirkan ide-ide, inovasi, supaya produk selalu update mengikuti tren pasar," ucapnya.

Target Malessa Fashion dan Harapan untuk BRI

Madu Mastuti memiliki target untuk Malessa Fashion yang dirintisnya ini. Dia ingin ekspansi pasar nasional dan internasional.

''Untuk target, saya ingin semakin memperluas mitra. Jadi bisa bermitra dengan hotel-hotel dan toko oleh-oleh terbesar di Indonesia. Kita sudah masuk di Krisna Oleh Oleh, jadi mungkin nanti bisa kita masukkan ke toko oleh-oleh yang lain," harap Madu.

Madu menjelaskan, saat ini ada empat item produknya yang sudah masuk ke Krisna Oleh Oleh. Ada outer, daster, totebag, dan pouch.

Sebagai salah satu UMKM binaan BRI, Madu Mastuti pun menaruh harapan besar kepada BRI terkait akses pemasaran.

"Kita sebagai UMKM binaan BRI harapannya jangan hanya pelatihan-pelatihan saja. Pelatihan ekspor itu saya sebagai pelaku itu ingin ada output didatangkan buyer. Jadi kita ingin dipertemukan dengan buyer-buyer lewat business matching," kata Madu.

Menurut Madu, UMKM di Indonesia saat ini tidak sekadar membutuhkan pelatihan-pelatihan. Apalagi seperti dirinya yang sudah kenyang diundang ke berbagai acara.

"Harusnya kan ada outputnya. Setelah kita pelatihan seperti ini kita harus tahu selanjutnya mau ngapain. Nah, kalau kita ada agenda business matching, kita akan otomatis ada pertemuan dengan buyer. Kita bisa ngobrol sambil mempromosikan produk kita. Kira-kira bisa masuknya di negara mana. Misalnya BRI punya data, ini produk fesyen kerajinan itu diminati di negara mana," harap dia.

BRI kata dia bisa memfasilitasi UMKM-UMKM di Indonesia ini untuk semakin mendunia dengan menyediakan akses pemasaran dan mencarikan pembeli potensial.

"Atau bisa juga kita dibuatkan pameran internasional. Harapan ini mungkin mewakili peserta-peserta lain," pungkasnya.

Perempuan Jadi Tulang Punggung UMKM di Solo

Kisah Madu Mastuti dalam mengupayakan pemberdayaan perempuan melalui bisnis fesyen kain perca ini pun mendapatkan atensi dari Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani.

"Dengan penguatan UMKM dari level paling bawah, Pemkot Solo berharap pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota. Tetapi merata hingga kelurahan," ujar Astrid dalam keterangan tertulisnya.

Dia juga mengapresiasi peran perempuan yang menekuni bisnis kain perca di Tipes.

"Apresiasi untuk pembedayaan masyarakat yang dilakukan ibu-ibu dalam usaha kain perca," tambahnya.

Sementara itu, menurut Astrid dalam siniar bersama TribunSolo.com, Pemkot Solo sudah memiliki beragam program terkait UMKM dan pemberdayaan perempuan.

"Perempuan itu punya hak yang sama di pendidikan dan pekerjaan," kata Astrid.

Pemkot Solo mencatat tulang punggung UMKM di Solo saat ini justru didominasi oleh perempuan.

"Kalau UMKM kan kita mayoritas perempuan itu sampai 60 persen jumlahnya. UMKM yang ada di Kota Solo dan digerakkan oleh perempuan itu ada di angka lebih dari 50 persen," imbuh Astrid.

Dengan perempuan sebagai tulang punggung UMKM di Solo, Pemkot Solo mengklaim selalu melibatkan para perempuan dalam program-program kewirausahaan.

Program pemberdayaan UMKM perempuan di Solo meliputi berbagai inisiatif strategis dari pemerintah dan komunitas yang berfokus pada literasi digital, akses permodalan, dan manajemen bisnis, seperti program DIVA UMKM, layanan UMKM Center Solo, serta fasilitas Forum Perempuan Berdaya.

"Pemberdayaan perempuan di Kota Solo ini cukup masif. Kemarin saya kedatangan 500 ibu-ibu pelaku UMKM Solo yang diedukasi dari literasi keuangan misalnya perbankan. Mereka yang mendapatkan penghargaan itu datangnya ke Solo," kata Astrid.

Astrid pun memberikan pesan untuk perempuan di Solo, baik untuk pelaku UMKM dan penggerak seperti Madu Mastuti, maupun yang lainnya.

"Sekarang banyak ruang-ruang di Solo yang bisa dimanfaatkan para perempuan. Kita bisa memanfaatkan platform-platform di media sosial untuk meningkatkan produktivitas," ujarnya.

Kisah Madu Mastuti bersama Malessa Fashion and Craft membuktikan bahwa kreativitas perempuan mampu menyulap limbah perca menjadi produk fesyen premium yang memberdayakan ekonomi ibu rumah tangga di Solo.

Keberhasilan Malessa naik kelas hingga dikenal di luar negeri tidak lepas dari modal KUR BRI, pembinaan ekspor Rumah BUMN Solo, serta dukungan program kewirausahaan Pemkot Solo yang menempatkan perempuan sebagai tulang punggung UMKM.

Sinergi modal, pelatihan, dan kebijakan ini menjadi kunci utama dalam mendorong produk lokal berbasis pemberdayaan perempuan bersaing di pasar global.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.