TRIBUNJOGJA.COM- Kalau belajar sosiologi, pasti pernah dengar nama Auguste Comte.
Nama tersebut pasti terdengar akrab bagi siswa IPS atau mahasiswa yang sedang mempelajari sosiologi. Karena hampir di setiap buku pengantar sosiologi, nama Auguste Comte selalu muncul di halaman-halaman awal.
Bahkan, ia mendapat julukan sebagai Bapak Sosiologi Dunia.
Mengapa Auguste Comte mendapat julukan tersebut?
Jawabannya terletak pada satu hal penting. Auguste Comte adalah orang pertama yang berusaha menjadikan kajian tentang masyarakat sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, lengkap dengan metode ilmiah yang sistematis.
Sebelumnya, pembahasan mengenai masyarakat memang sudah ada. Tetapi, masih bercampur dengan kajian filsafat, agama, atau pemikiran politik.
Kemudian, Comte menawarkan cara pandang baru yaitu masyarakat dapat dipelajari secara ilmiah sebagaimana para ilmuwan mempelajari tentang alam.
Karena gagasan inilah, hingga saat ini namanya dikenang dan menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan ilmu sosiologi.
Siapa Sebenarnya Auguste Comte?
Auguste Comte memiliki nama lengkap Isidore Auguste Marie Francois Xavier Comte. Ia lahir pada 19 Januari 1798 di Montpellier, Prancis, dan meninggal pada 5 September 1857 di Paris.
Comte hidup pada masa ketika Prancis sedang mengalami perubahan besar setelah Revolusi Prancis yang terjadi pada akhir abad ke-18.
Saat itu, kondisi masyarakat jauh dari kata stabil. Adanya pergantian pemerintah, konflik politik, perubahan sistem sosial, hinga perkembangan revolusi industri membuat kehidupan masyarakat berubah sangat cepat.
Banyak orang mulai mempertanyakan bagaimana sebuah masyarakat dapat kembali hidup tertib setelah mengalami kekacauan yang panjang.
Perubahan-perubahan inilah yang kemudian mendorong Comte untuk memikirkan satu pertanyaan besar, yakni
“Apakah kehidupan masyarakat bisa dipelajari secara ilmiah sehingga perubahan sosial dapat dipahami, bahkan diprediksi?”
Dari pertanyaan tersebut kemudian lahirlah gagasan yang kemudian menjadi dasar berkembangnya ilmu sosiologi.
Sebelum masa Auguste Comte, pembahasan mengenai kehidupan masyarakat sebenarnya sudah dilakukan oleh tokoh-tokoh seperti Plato, Aristoteles, Thomas Hobbes, maupun John Locke. Mereka banyak membahas tentang negara, manusia, hukum, dan kehidupan sosial.
Namun, pembahasan tersebut masih termasuk ke dalam ranah filsafat. Pendapat mereka lebih banyak dibangun melalui pemikiran logis, bukan berdasarkan penelitian yang sistematis.
Comte melihat bahwa masyarakat berkembang dengan pola tertentu. Menurutnya, perubahan sosial tidak terjadi secara acak. Melainkan ada hukum-hukum yang mengatur kehidupan sosial sebagaimana terdapat pula hukum dalam ilmu alam.
Karena itu, ia berpendapat bahwa masyarakat pun harus dipelajari menggunakan metode ilmiah. Dengan pengamatan, pengumpulan data, serta analisis yang objektif harus menjadi dasar dalam memahami kehidupan sosial.
Ia tidak hanya bertanya “Mengapa masyarakat seperti ini?”, tetapi juga “Bagaimana cara membuktikannya secara ilmiah?”
Dengan pemikiran inilah kemudian membedakan August Comte dari para filsuf sebelumnya.
Orang Pertama yang Memperkenalkan Istilah “Sosiologi”
Sebelum abad ke-19, belum ada ilmu yang secara khusus mempelajari masyarakat dengan pendekatan ilmiah. Auguste Comte kemudian memperkenalkan istilah “sociologie” sekitar tahun 1838 dalam karya Course de Philosophie Positive (Course of Positive Philosophy).
Pengertian dari kata sosiologi sendiri yaitu berasal dari dua bahasa yang berbeda.
Kata socius berasal dari bahasa Latin yang berarti “teman”, “kawan”, “masyarakat”. Sementara kata logos berasal dari bahasa Yunani yang berarti “ilmu” atau “kajian”.
Jika digabungkan, sosiologi memiliki makna sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat.
Pada masa itu, gagasan ini merupakan suatu yang sangat baru. Comte ingin agar kehidupan sosial dipelajari secara sistematis melalui fakta-fakta yang diamati, bukan sekedar hanya keyakinan semata.
Karena menjadi orang pertama yang memperkenalkan istilah tersebut sekaligus mengembangkan kerangka ilmiahnya, ia kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi Dunia.
Lalu, Mengapa Sosiologi Penting?
Selanjutnya, mungkin muncul pertanyaan mengapa kita perlu mempelajari masyarakat?
Bagi Comte, masyarakat tidak hidup secara sembarangan. Namun, ada pola yang dapat diamati.
Misalnya, mengapa kenakalan remaja meningkat di suatu daerah? Mengapa kemiskinan lebih banyak terjadi di wilayah tertentu? Atau mengapa media sosial mampu memengaruhi gaya hidup generasi z?
Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak cukup jika hanya dijawab dengan opini atau dugaan. Tetapi juga diperlukan adanya pengamatan, penelitian, pengumpulan data, dan analisis yang objektif.
Dan di sinilah peran sosiologi.
Ilmu sosiologi membantu kita memahami berbagai fenomena sosial sehingga solusi yang diambil pun tidak hanya berdasarkan asumsi tetapi juga fakta yang ditemukan di lapangan.
Misalnya, ketika angka bullying meningkat di sekolah, seorang sosiolog tidak langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah anak sekarang kurang sopan.
Sebaliknya, ia akan mencari data terlebih dahulu, melakukan observasi, mewawancarai berbagai pihak terkait, juga menganalisis faktor-faktor yang memengaruhinya, mulai dari lingkungan keluarganya, pergaulan, media sosial, bahkan bagaimana budaya di sekolahnya.
Cara berpikir seperti inilah yang diperkenalkan oleh August Comte.
Gagasan Auguste Comte kemudian mengubah cara pandang manusia terhadap kehidupan sosial. Comte mengajak orang untuk melihat masyarakat sebagai objek kajian ilmiah yang dapat diteliti.
Pemikirannya menjadi fondasi lahirnya berbagai teori-teori sosiologi yang berkembang hingga sekarang. Tokoh-tokoh besar sosiologi modern seperti Emile Durkheim, Max Weber, hingga Karl Max memiliki pandangan yang berbeda dengan Comte. Namun, mereka tetap mebangun teorinya di atas perkembangan ilmu sosiologi yang telah dirintis sebelumnya.
Itulah mengapa meskipun telah hidup lebih dari dua abad yang lalu, nama Auguste Comte masih terus dipelajari oleh siswa IPS, mahasiswa soiologi, hingga para peneliti di berbagai negara.
Dasar Pemikiran Auguste Comte
Kemudian, ada beberapa gagasan penting yang menjadi dasar pemikirannya yang masih dipelajari dalam mata pelajaran Sosiologi di SMA hingga saat ini.
Salah satu teori yang paling terkenal adalah Hukum Tiga Tahap atau The Law of Three Stages.
Menurut Auguste Comte, cara berpikir manusia berkembang melalui tiga tahapan, yaitu tahap teologis, tahap metafisik, dan tahap positif.
Tahap pertama adalah tahap teologis atau fiktif. Pada tahap ini, manusia cenderung menjelaskan berbagai peristiwa berdasarkan kekuatan supranatural atau adanya campur tangan makhluk gaib. Fenomena alam seperti hujan, petir, banjir, sering kali dianggap sebagai kekuatan yang tidak terlihat atau kehendak dewa.
Tahap kedua yaitu tahap metafisis atau asbtrak. Pada tahap ini, merupakan tahap transisi dari kekuatan gaib digantikan oleh ide abtsrak atau filsafat untuk memahami sesuatu.
Tahap ketiga yaitu tahap positif atau ilmiah. Pada tahap ini, manusia mulai memahami fenomena berdasarkan pengamatan, penelitian, dan bukti ilmiah. Comte menganggap tahap ini merupakan puncak perkembangan cara berpikir manusia.
Melalui teori ini, Comte ingin menunjukkan bahwa cara berpikir manusia terus berkembang seiring berkembangnya ilmu pengetahuan.
Konsep lain dari Auguste Comte yang tak kalah penting dari Hukum Tiga Tahap adalah Positivisme.
Positivisme merupakan pandangan bahwa suatu pengetahuan sebaiknya didasarkan pada fakta yang dapat diamati, diukur, dan dibuktikan. Comte percaya bahwa jika ingin memahami masyarakat, tidak cukup jika hanya berpendapat atau berasumsi. Melainkan harus mencari datanya terlebih dahulu.
Dari cara berpikir inilah yang kemudian menjadi dasar banyaknya penelitian sosial hingga sekarang.
Pengaruh dari pemikiran Auguste Comte juga dapat dilihat dari berbagai penelitian yang sering kita temui saat ini. Misalnya Ketika Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan, ketika pemerintah melakukan sensus penduduk, atau ketika peneliti melakukan survei mengenai perilaku masyarakat, semuanya menggunakan pendekatan ilmiah yang sejalan dengan gagasan Comte, yaitu memahami masyarakat berdasarkan fakta.
Namun, beberapa tokoh sosiologi setelahnya berpendapat bahwa perasaan, nilai, budaya, keyakinan, hingga pengalaman hidup seseoang juga memiliki peran penting dalam membentuk perilaku sosial.
Maka dari itu, setelah Comte muncul tokoh-tokoh lain seperti emile Durkheim, Karl Marx, dan Max Weber yang mengembangkan teori sosiologi dari sudut pandang yang berbeda
Bagi siswa SMA, mengenal Auguste Comte bukan hanya sekedar menghafal nama atau teorinya saja. Pemikirannya juga mengajarkan bahwa berbagai fenomena sosial di sekitar kita dapat dipelajari secara sistematis. Ketika menjumpai masalah sosial, seorang pelajar sosiologi ajak untuk bertanya “Mengapa hal itu bisa terjadi?”
Itulah mengapa nama Auguste Comte hampir selalu menjadi materi pertama dalam pelajaran Sosiologi.
(MG- Mayumi Cinta Mahesi)