Bu Mus Berpulang, Husaini Rasyid: Kita Kehilangan Simbol dan Monumen Pendidikan di Belitung
Hendra June 29, 2026 05:35 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Sebagai satu di antara murid Bu Muslimah Hafsari, wafatnya almarhumah tentu menjadi pukulan tersendiri bagi Husaini Rasyid atau Uud, Senin (29/6/2026). 

Kabar duka akhir pekan lalu itu menyisakan ruang kosong bagi Ketua Komisi I DPRD Beltim tersebut.

Bu Mus, di mata seorang Husaini Rasyid, bukan sekadar guru, melainkan simbol peradaban pendidikan di Pulau Belitung.

"Dengan wafatnya Ibu Muslimah, jujur saja sempat terlintas di pikiran saya bahwa kita ini telah kehilangan sebuah simbol, kita kehilangan sebuah monumen hidup pendidikan di Belitung Timur," ujar Uud saat diwawancarai, Senin (29/6/2026). 

Bagi Uud, pengaruh Bu Mus sudah melampaui batas wilayah. Dedikasi tanpa pamrih yang ditunjukkan almarhumah saat merintis sekolah dasar Muhammadiyah Gantung telah menjadikannya ikon pendidikan di Provinsi Bangka Belitung, bahkan nasional.

Di tengah rasa kehilangan yang mendalam, Uud mencoba merenungkan kembali pesan yang selalu ditekankan oleh Bu Mus semasa hidup kepada seluruh murid-muridnya saat berada di dalam kelas.

Ada satu pesan mendalam yang terus dipegang teguh oleh Uud hingga dirinya berhasil menduduki kursi pimpinan di jajaran DPRD Belitung Timur.

"Dulu yang saya ingat, seolah-olah kita pergi sekolah itu seperti tersistem saja. Pagi pergi, masuk kelas dengar guru bicara, lalu pulang. Tapi beliau selalu berpesan bahwa pendidikan itu adalah modal paling penting untuk kehidupan yang akan datang," ujarnya. 

Bu Mus selalu meyakinkan muridnya bahwa manfaat dari belajar mungkin saja tidak instan dalam waktu satu atau dua hari.

"Saat kita masih anak-anak menuntut ilmu, kita memang tidak tahu ini gunanya untuk apa. Tapi pas kita sudah mulai dewasa, kita baru berpikir, 'Oh, ternyata ini manfaatnya, ini faedahnya.' Di situlah pesan beliau," ucapnya. 

Meski saat ini Belitung Timur kehilangan figur berpengaruh tersebut, Uud menolak untuk larut dalam kesedihan berkepanjangan. 

"Mudah-mudahan dengan kepergian beliau, akan bermunculan lagi guru-guru baru yang mengajar dengan dedikasi tinggi, mengajar tanpa pamrih materi, dan terus melahirkan inovasi untuk memudahkan transformasi ilmu kepada generasi muda kita," harapnya. 

Uud pun mengatakan warisan terbesar Bu Mus bukanlah bangunan yang dinamakan atas dirinya ataupun buku Laskar Pelangi, tapi semangat mengajar disertai hati yang harus selalu dijaga di dalam setiap guru di Beltim. 

"Beliau sudah menyelesaikan tugas pengabdiannya di dunia dengan sangat husnul khatimah. Kini tugas kita, terutama para guru muda, untuk melanjutkan estafet perjuangan itu," tutupnya. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.