TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kasus ditemukannya minyak goreng MinyaKita bantuan pangan BULOG yang berbau menyerupai minyak tanah hingga solar di sejumlah wilayah Solo Raya, termasuk Kabupaten Klaten, mulai menemukan titik terang.
Pihak Perum BULOG mengungkap bahwa produk yang dikeluhkan masyarakat berasal dari proses produksi pada periode tertentu, sehingga tidak seluruh MinyaKita mengalami permasalahan serupa.
Sebagai langkah cepat, seluruh produk yang terindikasi bermasalah kini telah ditarik dari peredaran dan diganti dengan minyak goreng produksi baru.
Penarikan tersebut dilakukan di berbagai daerah yang menerima distribusi produk, termasuk Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Kepala Perum BULOG Kantor Cabang Surakarta, Nanang Harianto, menjelaskan bahwa minyak goreng yang memunculkan keluhan dari masyarakat diproduksi dalam rentang waktu yang sama.
Menurutnya, hasil penelusuran menunjukkan hanya produk yang diproduksi pada 2 hingga 5 Juni 2026 yang terindikasi mengalami masalah.
"Itu Migor produksi 2-5 Juni 2026, selain itu tidak ada masalah terkait produksi," kata Nanang, Senin (29/6/2026).
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa produk MinyaKita yang diproduksi di luar periode tersebut dinyatakan tidak mengalami kendala serupa.
Baca juga: Ruben Onsu Sebar Bukti Pernah Dibuntuti oleh Giorgio Antonio saat Ketemu Anak: Saya Orangtua Kandung
Keluhan mengenai aroma minyak tanah hingga solar pada MinyaKita sebelumnya muncul di sejumlah wilayah Solo Raya, termasuk Kabupaten Klaten.
Sementara itu, di Kabupaten Sragen, temuan minyak goreng bermasalah diketahui berada di wilayah Kecamatan Tanon.
Menurut Nanang, seluruh produk yang terindikasi bermasalah di daerah tersebut telah ditarik dari peredaran dan diganti dengan produk baru agar masyarakat tetap mendapatkan minyak goreng yang layak digunakan.
Ia menyebut, sekitar 20 ribu penerima manfaat telah mengembalikan sekaligus menukarkan minyak goreng yang bermasalah tersebut.
Bantuan MinyaKita itu sendiri mulai disalurkan kepada masyarakat pada Juni 2026.
Baca juga: Rumah Angel Lelga Kemalingan, Pelakunya Ternyata ART Sendiri, Topi Branded hingga Vitamin Hilang
"Itu pada di lapangan ditemukan itu sudah dilakukan penggantian mulai dari Minggu kemarin jadi kami setelah mendapat laporan, kami meminta produsen melakukan penggantian penukaran," ungkap dia.
Nanang menjelaskan, pihak Bulog fokus pada percepatan penarikan dan penggantian produk agar masyarakat segera memperoleh minyak goreng yang layak digunakan.
Sementara terkait penyebab munculnya bau minyak tanah maupun solar, Bulog menyerahkan penjelasan sepenuhnya kepada pihak produsen.
"Terkait hasil kajian, kami tidak bisa menyampaikan karena itu murni produsen menyampaikan, saat ini dilakukan percepatan pengganti dan penukaran Migor," pungkas dia.
Kabar ditemukannya minyak goreng MinyaKita bantuan pangan BULOG yang berbau menyerupai minyak tanah hingga solar turut menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.
Salah satunya dirasakan Vega, seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Karanganyar.
Ia mengaku khawatir jika minyak goreng yang diduga bermasalah tersebut tetap beredar dan dikonsumsi masyarakat.
Menurutnya, apabila benar terbukti berbau solar, produk tersebut sebaiknya tidak diterima dan segera ditarik dari peredaran demi menjaga keselamatan konsumen.
"Ya sebaiknya kalau terbukti bau solar ditolak, takut membahayakan kesehatan," ujar Vega.
(Tribunnewsmaker.com/TribunSolo.com/Mardon Widiyanto)