Daftar Daerah Berpotensi Energi Terbarukan di Jateng, Ada Banjarnegara
khoirul muzaki June 29, 2026 11:25 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi gencar menggaet investor  agar mau menanamkan investasinya di sektor energi terbarukan atau EBT.

Langkah itu salah satunya dengan melakukan pertemuan dengan sejumlah pengusaha asal Tiongkok di Jakarta, Jumat (22/5/2026) lalu.

Dalam pertemuan itu, Luthfi mengungkap, Tiongkok menjadi salah satu negara sumber Investasi terbesar di Jateng dengan nilai mencapai di atas Rp10 Triliun.

Untuk itu, ia menawarkan tujuh proyek energi terbarukan kepada investor dari negara tirai bambu itu. 

Ketujuh proyek hijau itu meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Mikro-Hidro (PLTMH), biogas, biomassa, gas rawa, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) hingga Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)

"Kami serius mengembangkan energi ramah lingkungan," ujar Luthfi dikutip ,Senin (29/6/2026).


Potensi Energi Terbarukan Paling Potensial di Jateng adalah PLTS 

Direktur Komunikasi dan Penjangkauan IESR Institute for Essential Services Reform (IESR) Marlistya Citraningrum, mengatakan, energi terbarukan di Jawa Tengah sangat bisa menggantikan energi fosil. Bahkan, ambisi itu bisa dilakukan sebelum Net Zero Emission (NZE) 2060.

“Berdasarkan pemodelan IESR, Jateng bisa mencapai target net-zero bahkan zero-emission lebih cepat dengan skema di antaranya akselerasi PLTS,”  terangnya kepada Tribun, Senin (29/6/2026).


Lembaga pemikir (think-tank) independen berfokus pada penelitian dan advokasi kebijakan publik di bidang energi dan lingkungan itu  menilai,  akselerasi PLTS bisa dilakukan dengan mengutamakan energi surya sebagai tulang punggung transisi melalui penyusunan daftar proyek siap investasi (investment-ready projects).

Baca juga: Resmi Berpisah, Eks Kapten Persijap Wahyudi Hamisi Beri Pesan Menyentuh

Marlistya Citraningrum atau akrab disapa Citra merinci, energi surya (PLTS) adalah sumber energi paling prospektif dan strategis di Jawa Tengah karena potensi teknis masif dan merata.

Kajian IESR menunjukkan potensi teknis PLTS di Jateng mencapai 194,28 GWp (radiasi 4,5 – 5,5 kWh/m⊃2;/hari) yang tersebar merata di seluruh kabupaten/kota.

Kedua, aplikasi fleksibel yakni dapat diadopsi cepat dari skala terkecil seperti PLTS Atap rumah tangga, industri, gedung pemda hingga skala besar dalam proyek utility-scale dan floating solar atau PLTS terapung di waduk.


Ketiga, ekonomis dan kompetitif karena biaya teknologi PLTS telah turun drastis, menjadikannya pembangkit listrik paling murah, dengan perawatan yang mudah.


Alasan berikutnya, Jateng memiliki rantai pasok lokal dengan memimpin manufaktur surya nasional dengan adanya 3 industri perakitan panel seperti PT SEG Solar Manufacturing Indonesia di KITB Batang,  PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI) di KIK Kendal,  PT LESSO Solar Indonesia (Demak dan Semarang).

"Ini modal besar untuk memotong rantai pasok, menekan harga, dan menurunkan ketergantungan impor,” katanya.

Kebutuhan listrik di Jateng Bisa Tercukupi oleh Stok Energi Terbarukan

Kebutuhan listrik di Jateng mencapai sekitar 14.925 Gigawatt hour (GWh) atau \(14.925.138\) Megawatt hour (MWh) per tahunnya (BPS,2026). Sementara, merujuk riset IESR, potensi teknis energi terbarukan di Jawa Tengah mencapai 197,96 Gigawatt (GW)terdiri dari jenis energi surya mencapai 194,28 Giga Watt peak (GWp), angin 2950,3 Megawatt (MW) dan mini-hidro kisaran 730,3 MW.

Citra menjelaskan, sumber energi terbarukan di Jawa Tengah itu secara potensi sangat memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga di Jawa Tengah.

Karena, potensi energi terbarukan jauh lebih besar dibandingan kebutuhan listrik sektor rumah tangga saat ini.

Seperti diketahui, kebutuhan listrik di Jateng didominasi untuk suplai kebutuhan rumah tangga.

“Tantangan utamanya terletak pada percepatan pemanfaatan, pembangunan infrastruktur, dan investasi, bukan pada ketersediaan sumber daya energi,” bebernya.

Daftar Wilayah di Jateng Potensial Energi Terbarukan


Menyoal persebaran wilayah potensial energi terbarukan, Citra mengungkap, dari sektor PLTS skala besar teridentifikasi tersebar pada 12 lokasi prospektif dengan total potensi 13 GWp, di antaranya di Wonogiri, Boyolali, Cilacap, Brebes, Rembang, Semarang, Kudus, Wonosobo, dan Banjarnegara.


PLTS terapung (floating solar) meliputi sebanyak 42 bendungan dengan potensi teknis 723,07 MWp.

Dua titik terbesar adalah Waduk Kedung Ombo (267,95 MWp) dan Gajahmungkur (147,88 MWp).


Bahkan, seluruh kawasan industri di Jateng juga sangat potensial untuk adopsi PLTS Atap masif karena ketersediaan atap yang luas dan profil beban yang tinggi di siang hari.

"Didukung pula oleh tuntutan pasar global akan produk hijau,” ungkapnya.

Tantangan Energi Terbarukan

Selain potensi, Citra mengungkapkan pula soal tantangan pengembangan energi terbarukan  di antaranya tantangan anggaran dan non anggaran.

Ia melanjutkan, solusi untuk mengatasi anggaran pengembangan energi terbarukan di tengah ABPD terbatas dengan cara Pemprov Jateng harus bergeser dari peran pemberi dana/hibah menjadi fasilitator ekosistem.

Keterbatasan APBD untuk hibah PLTS Atap dapat diatasi dengan mendorong pendanaan non-fiskal dan kolaborasi multipihak.

Semisal, konsep Eko-Pesantren di Rembang, Pemprov Jateng memicu dengan stimulus kecil, IESR melakukan pendampingan teknis, dan mitra/komunitas mengintegrasikan pendanaan program.

Sebaliknya, soal tantangan Non-Anggaran, sebut dia, tantangan itu dari berbagai hal seperti akomodasi regulasi berupa banyak potensi daerah belum masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik  (RUPTL) PLN.

"Dampaknya, daerah sulit menyerap investasi," ungkapnya.


Citra melanjutkan, tantangan berikutnya berupa tata ruang dan lahan. Ia menyebut, tantangan PLTS skala besar kerap terbentur kesesuaian RTRW.

Untuk itu, diperlukan sinkronisasi perencanaan energi dengan tata ruang wilayah.

Berikutnya, tantangan kesiapan proyek (bankability) yakni banyak proyek potensial belum dilengkapi studi kelayakan (FS) yang matang, dokumen IPRO (Investment Project Ready to Offer), atau model bisnis yang bankable.

"Makanya sulit menarik minat investor atau lembaga keuangan,” jelasnya. (Iwn)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.