ANAMBAS, TRIBUNBATAM.id – Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarempa melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung, menyusul adanya keluhan dari keluarga pasien terkait pelayanan di rumah sakit tersebut.
Evaluasi dilakukan setelah Irwan, orang tua pasien, menyampaikan keluhan mengenai pelayanan yang dinilai belum maksimal saat anaknya menjalani perawatan di RSUD Tarempa.
Irwan mengaku kecewa, karena merasa petugas bersikap kurang ramah, bahkan dinilai bertindak sedikit kasar kepada keluarga pasien.
Selain itu, ia juga mengeluhkan dokter yang dinilai terlambat melakukan pemeriksaan terhadap kondisi anaknya.
Terkait keluhan ini, Direktur RSUD Tarempa, Sofwan Fuadi, menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga pasien atas ketidaknyamanan yang terjadi dalam proses pelayanan.
"Kami menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga pasien atas pelayanan yang belum sesuai harapan. Masukan ini menjadi bahan evaluasi bagi kami untuk melakukan perbaikan," kata Sofwan, Senin (29/6/2026).
Ia menjelaskan, persoalan tersebut telah dimediasi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kepulauan Anambas, Sahtiar, yang mempertemukan keluarga pasien dengan petugas yang terlibat agar permasalahan dapat diselesaikan secara baik.
"Permasalahan ini sudah dimediasi oleh Pak Sekda dengan menghadirkan keluarga pasien dan petugas yang menangani. Kami bersyukur komunikasi dapat berjalan dengan baik," ujarnya.
Menurut Sofwan, salah satu penyebab munculnya persoalan pelayanan adalah keterbatasan jumlah tenaga kesehatan yang bertugas di RSUD Tarempa, sementara jumlah pasien yang harus dilayani terus meningkat.
Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat setiap tenaga kesehatan harus menangani banyak pasien dalam satu waktu, sehingga beban kerja menjadi sangat tinggi.
Situasi itu diperkirakan akan semakin berat, karena dalam waktu dekat sebanyak tujuh tenaga kesehatan yang saat ini diperbantukan di RSUD Tarempa akan kembali ke instansi asalnya, yakni RSUD Palmatak.
"Kami akan melakukan evaluasi terhadap petugas yang bermasalah, termasuk melakukan rolling bila diperlukan. Pembinaan internal juga terus kami lakukan agar pelayanan kepada masyarakat semakin baik," jelas Sofwan.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas dapat menambah tenaga kesehatan di RSUD Tarempa agar beban kerja dapat terbagi lebih merata.
"Beban kerja yang terlalu tinggi dapat memicu stres kerja. Kondisi itu tentu akan berdampak pada psikologis petugas saat memberikan pelayanan kepada pasien," katanya.
Sofwan menjelaskan, penambahan tenaga kesehatan melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) maupun Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) belum dapat dilakukan dalam waktu dekat karena harus melalui proses birokrasi yang panjang serta memerlukan persetujuan dari Badan Kepegawaian Negara (BKN).
Sementara itu, penambahan tenaga kesehatan melalui perekrutan pegawai kontrak Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) juga belum memungkinkan karena keterbatasan anggaran yang dimiliki rumah sakit.
"Saat ini kami memaksimalkan tenaga yang ada. Tadi juga kami sampaikan kepada Pak Sekda agar ada kebijakan khusus penerbitan SPT bagi tenaga kesehatan yang ingin pindah ke RSUD Tarempa. Pemerintah daerah perlu berkoordinasi dengan kepala instansi asal pegawai," ungkapnya.
Di sisi lain, Sofwan menilai pembagian beban pelayanan kesehatan juga perlu dilakukan secara lebih proporsional.
Menurutnya, pasien dengan keluhan ringan sebaiknya lebih dulu mendapatkan penanganan di tingkat puskesmas, sehingga RSUD dapat lebih fokus menangani kasus-kasus yang membutuhkan pelayanan rujukan dan tindakan medis lanjutan.
Meski menghadapi keterbatasan sumber daya, RSUD Tarempa menegaskan komitmennya untuk terus memperbaiki kualitas pelayanan melalui evaluasi rutin, pembinaan terhadap seluruh petugas, peningkatan disiplin kerja, serta penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah, agar masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang lebih cepat, profesional, dan humanis. (TRIBUNBATAM.id/Ihsan Imaduddin)