Dukung Mobilitas Rendah Emisi, Grab Targetkan Armada Kendaraan Listrik Naik 3 Kali Lipat
Mochamad Dipa Anggara June 30, 2026 12:35 AM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Grab Indonesia terus memperkuat investasi di sektor mobilitas rendah emisi dengan menambah jumlah armada kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang dioperasikan para mitra pengemudi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan untuk memperluas ekosistem transportasi ramah lingkungan sekaligus mendukung efisiensi energi nasional.

CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan, armada EV Grab telah mencapai lebih dari 28.000 unit, atau dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.

"Hingga akhir 2026, kami berkomitmen untuk terus meningkatkan jumlah armada EV lebih dari tiga kali lipat dari tahun sebelumnya," ujar Neneng dalam acara peluncuran gerakan "Langkah Hijau Grab untuk Indonesia: Komitmen Nyata Menuju Mobilitas Masa Depan", di Sasono Adiguno, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (29/6/2026).

Armada EV Grab (1)
Armada EV Grab.

Dari jumlah tersebut, sekitar sepertiga merupakan kendaraan roda dua, sedangkan dua pertiganya merupakan kendaraan roda empat yang melayani berbagai layanan transportasi Grab.

Selain memperluas armada kendaraan listrik, Grab juga menghadirkan sejumlah layanan yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi, seperti GrabCar Electric, GrabBike Electric, Group Ride, GrabCar Hemat, GrabFood Group Order, GrabFood Nearby Delivery, GrabMart Nearby, hingga GrabExpress Instant Hemat.

Neneng menjelaskan, berbagai inovasi tersebut diharapkan mampu mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM), mengoptimalkan rute perjalanan, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional di seluruh ekosistem layanan Grab.

"Kami ingin mengajak masyarakat membuat pilihan yang lebih bijak dalam penggunaan energi melalui aktivitas sehari-hari. Inisiatif ini juga hadir di tengah dinamika global yang memberikan tekanan terhadap sektor energi, termasuk harga BBM dan biaya mobilitas masyarakat. Karena itu, efisiensi energi menjadi semakin penting untuk kita dorong bersama," ungkap Neneng.

Armada EV Grab
Armada EV Grab.

Sementara itu, peluncuran gerakan Langkah Hijau Grab untuk Indonesia mendapat apresiasi dari Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Menurut AHY, penambahan armada kendaraan listrik Grab menunjukkan semakin besarnya kontribusi sektor swasta dalam mendukung target pemerintah mempercepat transisi menuju energi bersih dan mencapai Net Zero Emissions (NZE) 2060 atau lebih cepat.

Ia menegaskan bahwa pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

"Kita tidak boleh terjebak dengan alasan membangun ekonomi kemudian tidak menjaga kelestarian lingkungan. Bumi kita hanya ada satu," kata AHY.

AHY menjelaskan, sektor transportasi memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional karena mampu membuka lapangan kerja, memperlancar mobilitas masyarakat, mendukung UMKM, serta memperkuat ekonomi digital.

Mengacu pada survei Indef dan Paramadina Public Policy Institute tahun 2026, industri transportasi berbasis aplikasi mempekerjakan sekitar 2,91 juta mitra pengemudi dan menciptakan sekitar 2,6 juta lapangan kerja turunan di ekosistem ekonomi digital. Industri tersebut juga memberikan kontribusi lebih dari Rp565 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

"Untuk ekonomi Indonesia, tentu kita ingin capaian ini terus kita kawal dan tingkatkan," ujarnya.

Di sisi lain, AHY mengingatkan bahwa sektor energi masih menjadi penyumbang emisi karbon terbesar. Sekitar 22 persen emisi sektor energi berasal dari transportasi, dengan sekitar 89 persen di antaranya berasal dari transportasi darat.

Karena itu, pemerintah terus mendorong percepatan elektrifikasi kendaraan melalui berbagai kebijakan, mulai dari pemberian insentif fiskal, pembangunan industri baterai nasional, hingga perluasan jaringan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Menurut AHY, keberhasilan transisi menuju transportasi rendah emisi membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, akademisi hingga masyarakat.

"Tidak ada yang bisa berjalan sendirian. Pemerintah hanya satu bagian dari seluruh elemen bangsa. Kita memerlukan kolaborasi agar pengembangan kendaraan listrik dan transportasi berkelanjutan dapat berjalan optimal," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.