POSBELITUNG.CO, BANGKA -- Rama menceritakan detik-detik anaknya bersama tiga teman tersesat saat berwisata ke Air Terjun Meruyan, Desa Berbura, Kecamatan Riausilip, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Minggu (27/6/2026) siang.
Keanu (17) anak Rama warga Kota Sungailiat, berkendara berombongan terdiri dari 10 orang dari Kota Sungailiat ke Meruyan untuk menghabiskan waktu libur sekolah.
Namun Boma dan tiga temannya berpisah dari enam anggota rombongannya ketika hendak menuju Meruyan.
Air Terjun Meruyan adalah satu di antara sederat air terjun dan pemandian alam yang terdapat di sekitar lereng Bukit Maras, kawasan Taman Nasional Gunung Maras.
Niat empat remaja asal Sungailiat untuk berwisata dan berpetualang alam berubah menjadi pengalaman traumatis.
Boma bersama Nabil (16), Keanu (17) dan Aufa (16) tersesat di tengah lebatnya hutan Bukit Maras.
Semenjak tersesat pada siang hari, lebih dari 12 jam mereka tidak bisa keluar dari hutan Maras.
Upaya mencari jalan ke luar hutan tak kunjung ditemukan hingga hari pun mulai gelap. Kepanikan sempat melanda Keanue dan tiga temannya. Terlebih dari di antara mereka sempat terjatuh hingga cedera di lereng bukit yang cukup terjal.
Perjalanan yang awalnya direncanakan sebagai petualangan ceria berubah menjadi perjuangan bertahan hidup, setelah mereka kehilangan arah saat hendak turun dari lokasi air terjun.
Keempat remaja tersebut berangkat dari Sungailiat pada pukul 09.30 WIB. Mereka sempat menikmati keindahan Air Terjun Meruyan bersama rombongan.
Suasana berubah mencekam saat mereka sadar tidak lagi menemukan jalur pendakian yang benar.
Kepanikan melanda saat hari mulai beranjak gelap, Rama orang tua salah satu remaja bernama Keanu, menuturkan rasa cemasnya saat sang anak tak kunjung pulang hingga malam hari.
Upaya menghubungi ponsel anaknya sempat sia-sia. Sementara hari sudah mulai gelap, masuk waktu Magrib.
"Sekitar pukul 18.00 WIB, pesan WhatsApp saya hanya ceklis satu. Sepuluh menit kemudian, Keanu membalas dan meminta tolong dijemput tim SAR karena mereka tersesat," ungkap Rama dalam wawancara eksklusif bersama Bangkapos.com di Sungailiat, Senin (29/6/2026).
Setelah melalui proses koordinasi, tim gabungan Pemkab Bangka, TNI, Polri, dan melibatkan pengelola wisata Bukit Maras, relawan Laskar Sekaban dan tim pencari dari Belinyu, keluarga korban dan warga lainnya segera melakukan operasi penyisiran ke dalam hutan Bukit Maras.
Begitu tiba di lokasi pada pukul 22.56 WIB, tim langsung dibagi menjadi tiga kelompok untuk menyisir jalur pendakian hingga ke posko-posko terkait di kawasan wisata Bukit Maras.
Pencarian yang dilakukan sepanjang malam akhirnya membuahkan hasil pada Senin dini hari.
Sekitar pukul 04.25 WIB waktu subuh, keempat remaja tersebut ditemukan oleh Search and Rescue Unit (SRU) Idalam kondisi selamat namun kelelahan di dalam hutan belantara.
"Mereka sempat berputar-putar di dalam hutan hingga akhirnya memutuskan beristirahat dan tidur di sana. Saat tim melakukan pencarian, anak-anak ini mendengar suara peluit dan langsung membalasnya," tambahnya.
Proses evakuasi pun tak kalah menantang. Keanu, yang sempat terjatuh saat tersesat, mengalami cedera sehingga tidak bisa berjalan normal.
Mengingat medan Bukit Maras yang sangat terjal dan berat, tim penyelamat harus berjuang ekstra keras dengan menggendong korban secara bergantian hingga sampai ke titik penjemputan.
Setelah berhasil turun dengan selamat, keempat remaja tersebut langsung dilarikan ke RSUD Depati Bahrin, Sungailiat, untuk menjalani pemeriksaan medis intensif.
Hasil pemeriksaan memastikan kondisi keempat remaja tersebut aman. Rama pun mengambil hikmah dari kejadian ini, mengingat saat kejadian, mereka tidak sempat melapor ke pos penjagaan karena penjaga sedang tidak berada di tempat.
"Alhamdulillah semua aman. Mereka diminta untuk tetap menghormati kearifan lokal dan kedepannya wajib melalui jalur resmi serta melapor ke pos pendakian," teranya.
Keempat remaja telah kembali ke pelukan keluarga masing-masing, setelah menjalani pengalaman yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Kakansar) Pangkalpinang, Mikel Rachman Junika mengatakan kKeberhasilan operasi ini tidak terlepas dari kolaborasi berbagai elemen, mulai dari Rescuer Kansar Pangkalpinang, Polsek Riau Silip, TNI, BPBD Bangka, hingga organisasi kemasyarakatan seperti Laskar Sekaban dan pengelola Bukit Maras.
Dalam pencarian ini, tim juga memanfaatkan teknologi canggih berupa drone thermal dan koneksi satelit Starlink untuk menunjang komunikasi di area hutan yang sulit dijangkau.
Setelah seluruh korban berhasil dievakuasi dan tim melakukan evaluasi akhir, operasi SAR resmi dinyatakan ditutup pada pukul 09.46 WIB.
"Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak, yang telah berjibaku dalam operasi ini. Saat ini, seluruh unsur SAR telah kembali ke kesatuannya masing-masing," ucapnya.
Kabar hilangnya empat remaja ini menjadi perhatian serius Bupati Bangka Fery Insani.
Begitu menerima laporan, Fery segera mengoordinir tim Pemkab Bangka untuk dikerahkan ke lokasi kejadian.
Terlebih saat itu hari sudah malam, sementara korban hilang belum diketahui keberadaannya.
Fery Insani turun langsung bersama tim ke lokasi kejadian untuk mencari empat pelajar yang hilang.
"Ini bapak (Bupati, red) di lokasi bersama tim Satpol PP, BPBD dan Basarnas mau naik ke sana untuk melakukan proses pencarian," ungkap Fery Insani saat dihubungi Bangkapos.com jelang tengah malam.
"Empat orang yang belum ketemu, tadi mereka berangkat orang 10 dan yang masih kita cari sisa empat orang. Mudah-mudahan cepat ditemukan, mohon doanya semua ya," kata Fery Insani.
Kabar penemuan empat remaja ini disampaikan Bupati Bangka, Fery Insani kepada Bangkapos.com via telepon pada Senin (29/6/2026) subuh.
"Alhamdulillah pagi tadi sekitar puku 04.20 WIB, kondisi mereka sehat meski tiga orang mengalami luka lecet-lecet dan satu orang harus ditandu dari atas oleh tim gabungan," kata Fery.
Lebih lanjut Fery menyampaikan, orang tua remaja ini sempat khawatir atas tidak pulangnya anak-anak mereka sejak kemarin siang.
Mereka tidak menyangka anak-anaknya tersesat karena mendaki tidak lewat jalur resmi.
"Kasihan orang tuanya dari semalam nangis-nangis, anak mereka tersesat karena tidak lewat jalur resmi dan tidak terdaftar di BKSDA," kata Fery.
Proses pencarian melibatkan Pemkab Bangka bersama BKSDA, kepolisian, TNI, Basarnas, PSC, kades Berbura, Camat Riausilip, relawan, masyarakat desa.
"Ini kami masih di atas dan mau turun sembari menandu satu remaja yang sempat hilang, semoga nanti selamat sampai bawah," kata Fery.
Air Terjun Meruyan
Air Terjun Meruyan atau sering ditulis Air Terjun Maruyan adalah destinasi wisata alam berupa air terjun jernih yang terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Maras, Desa Berbura, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Bukit Maras merupakan bukit tertinggi di Pulau Bangka, dengan ketinggian 710 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Ada beberapa air terjun di sekitar kaki Bukit Maras. Selain Meruyan, Air Terjun Lakedang juga jadi lokasi favorit para pecinta alam.
Air Terjun Maruyan yang biasa jadi tempat berkemah memiliki ketinggian sekitar 200 hingga 300 meter di atas permukaan laut.
Air terjun ini memiliki ketinggian luncuran air sekitar 15-20 meter dan menjadi salah satu destinasi wisata terbaik di Kabupaten Bangka.
Posisi Meruyan berada di bagian lereng sebelum menuju puncak Bukit Maras.
Jarak Meruyan dari Kota Sungailiat sekitar 30-45 menit perjalanan mengendarai motor, sedangkan dari Kota Pangkalpinang sekitar 1,5 jam.
Tersedia mushola, toilet dan kamar ganti pakaian di Meruyan sehingga kerap jadi tempat menginap para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak Bukit Maras.
(Bangkapos.com/Adi Saputra)