Gelandang Jepang Kaishu Sano memberikan penilaian jujur dan menyakitkan setelah kegagalan Samurai Biru di Piala Dunia, menegaskan bahwa tampil baik tidak ada artinya tanpa kemenangan, menyusul kekalahan dramatis dari Brasil di babak gugur. Meski tampil penuh semangat dan mampu menekan raksasa Amerika Selatan tersebut hingga akhir, perjalanan Jepang di Piala Dunia 2026 harus berakhir dengan kekecewaan bagi tim asuhan Hajime Moriyasu.
Kesedihan di masa tambahan waktu bagi Jepang
Jepang tampak berada di ambang hasil bersejarah sebelum Gabriel Martinelli mencetak gol kemenangan di masa tambahan waktu untuk memastikan kemenangan bagi Selecao. Kekalahan tersebut terasa sangat kejam mengingat Jepang sempat unggul lebih dulu dan tampil dominan dalam sebagian besar pertandingan babak gugur tersebut.
Gol pembuka mengejutkan datang dari Sano, yang mencetak gol di babak pertama dan sempat menempatkan tim underdog itu di posisi unggul. Namun, pengalaman Brasil akhirnya berbicara, ketika Casemiro menyamakan kedudukan sebelum drama di menit keenam masa tambahan waktu menentukan hasil akhir pertandingan.
Penilaian jujur Sano usai pertandingan
Berbicara setelah peluit akhir, Sano yang tampak kecewa tidak menyembunyikan rasa frustrasinya atas cara mereka tersingkir. "Saya pikir hasil adalah segalanya, dan saya sangat kecewa karena tim ini seharusnya tidak berakhir seperti ini. Tapi kalah dengan cara seperti itu di penghujung pertandingan membuat saya merasa kami belum cukup baik, meskipun apa yang kami lakukan tidaklah salah. Saya pikir kami bisa bangga atas apa yang telah kami bangun," ujar gelandang tersebut.
Ini merupakan penampilan kedelapan Jepang di ajang Piala Dunia. Meski tampil meyakinkan di fase grup — termasuk hasil imbang 2-2 melawan Belanda dan kemenangan telak 4-0 atas Tunisia — hal itu tidak cukup untuk mengatasi pengalaman Brasil yang jauh lebih matang. Akibatnya, Jepang gagal menyamai pencapaian terbaik mereka di Piala Dunia, yaitu mencapai babak 16 besar, yang sebelumnya mereka raih pada 2002, 2010, 2018, dan 2022.
Itakura mengenakan ban kapten
Bek Ko Itakura, yang mengambil alih peran kapten menggantikan Wataru Endo — yang absen akibat cedera dan akhirnya memutuskan pensiun dari tim nasional — menyuarakan perasaan serupa dengan rekan setimnya terkait tersingkirnya mereka secara tak terduga. Sang bek mengaku sulit menerima kenyataan bahwa perjalanan mereka di turnamen harus berakhir begitu cepat setelah menunjukkan potensi besar.
"Saya tidak pernah menyangka tim ini akan berakhir di sini," ujar Itakura dalam sesi wawancara usai pertandingan. Setelah memegang tanggung jawab sebagai kapten, beban kekalahan terasa sangat berat bagi sang bek, yang sebenarnya berharap bisa membawa Samurai Biru melangkah lebih jauh di fase gugur turnamen ini.
Tersingkirnya Jepang semakin menambah kekecewaan bagi tim-tim Asia di turnamen ini, menyisakan Australia sebagai satu-satunya wakil benua tersebut yang masih bertahan, dan akan menghadapi Mesir di laga berikutnya.
Brasil lolos dengan susah payah
Bagi Brasil, hasil ini menjadi penyelamatan tipis setelah mereka kesulitan menembus pertahanan disiplin Jepang sepanjang pertandingan. Sundulan Casemiro di menit ke-56 akhirnya menyamakan kedudukan dan menenangkan situasi setelah keunggulan awal Jepang lewat gol Sano. Dengan hasil ini, Brasil resmi lolos ke babak 16 besar dan akan menunggu pemenang antara Pantai Gading dan Norwegia.
Kemenangan ini juga mencatat sejarah tersendiri, karena gol tersebut menjadi gol penentu kemenangan paling akhir yang pernah tercipta dalam waktu normal di babak gugur Piala Dunia sejak pencatatan data Opta dimulai pada tahun 1966. Sementara Jepang pulang dengan rasa kecewa atas apa yang bisa saja terjadi, Brasil melanjutkan perburuan bintang keenam mereka, meski dengan banyak pertanyaan yang masih harus dijawab setelah kemenangan tipis ini.