Jakim 2026 Kado Sekaligus Cerminan Jakarta Menuju Kota Global Saat HUT ke-499
GH News June 30, 2026 03:08 PM
Jakarta -

Jakarta agresif bersolek mengejar predikat Kota Global, tetapi Jakarta International Marathon (Jakim) 2026 justru menyingkap rapuhnya realitas layanan publik di jalanan ibu kota. Di ambang usia lima abad, ajang itu menjadi semacam kado refleksi bahwa status kota dunia tidak cukup dibangun dari panggung kosmetik wisata semata.

Jakim 2026 sudah usai. Puluhan ribu pelari membawa pulang medali, , dan catatan waktu terbaiknya. Sebagian sudah kembali ke rutinitas, bahkan ada yang kembali turun di Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2026 akhir pekan berikutnya, juga Indonesia Hyrox di Nice, PIK.

Namun, percakapan tentang Jakim belum benar-benar reda di ruang digital. Para pelari masih mengingat rute ibu kota, tanjakan Slipi, panasnya Gatot Subroto yang disebut bak "gurun pasir", kawasan DPR/MPR, hingga tanjakan Mampang, sebagai bagian dari pengalaman yang sulit dilupakan.

Bagi puluhan ribu peserta, ajang itu menyuguhkan wajah Jakarta dalam skala besar, dibagi dalam empat kategori 5K, 10K, 21K, hingga 42,19K, dengan lintasan yang melintasi sudut-sudut kota sejak subuh hingga siang yang terik.

Perhelatan MJM juga justru membangkitkan memori para peserta Jakim, membandingkan langsung atau menganalisis melalui unggahan-unggahan di media dan sosial media. Begitu pula saat Hyrox dihelat, masih saja muncul perbandingan dengan Jakim 2026.

Selain itu, Jakim juga menyimpan luka mendalam, ternyata tidak semua pulang dengan cerita yang sama. Di balik euforia, ada kisah yang lebih sunyi, mulai dari kabar duka, hingga peserta yang harus menjalani perawatan akibat insiden di lintasan.

Peristiwa itu menjadi alarm keras bagi industri pariwisata Jakarta. Terlalu mahal harga sebuah nyawa. Di tengah statusnya sebagai event berlabel Elite Label Road Race, keselamatan dan kemanusiaan semestinya menjadi fondasi utama, bukan sekadar pelengkap atraksi.

Maraton pada dasarnya bukan sekadar angka di jam tangan atau medali di garis finis, tetapi soal pengalaman manusia, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan di balik nomor BIB.

Merujuk target masuk jajaran elite kota global itu, diakui atau tidak, Jakim menjadi bukti bahwa ajang itu bukan sekadar race lari dengan trek jalanan ibu kota, tetapi telah menyublim menjadi bagian dari ekosistem besar pergerakan ekonomi dan budaya, juga pariwisata kota. Di sanalah pelari, keluarga, komunitas, relawan, marshal, pacer, pelaku usaha, hingga wisatawan bergerak dalam satu ruang yang sama.

Dalam skala itu, Jakim berubah menjadi simulasi bagaimana sebuah kota melayani dunia. Dalam satu waktu secara bersamaan, puluhan ribu orang menggunakan ruang publik, transportasi, layanan informasi, hingga fasilitas kesehatan.

Di titik itulah irisan antara pariwisata dan ambisi Jakarta sebagai Kota Global menjadi nyata. Keduanya bertemu pada kemampuan kota menyuguhkan pengalaman yang aman, nyaman, dan berkesan.

Apalagi, saat ini DKI sedang membidik masuk urutan 20 besar kota global, sebuah acuan jelas agar ibu kota setara dengan di antaranya New York, London, dan Beijing. Saat ini, Jakarta berada di peringkat ke-71.

Merujuk situs resmi Pemprov DKI Jakarta, dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025-2045 Jakarta mematok target untuk masuk 20 besar kota global dunia pada 2045. Caranya, dengan memperkuat peran sebagai pusat ekonomi, politik, budaya, dan inovasi.

Untuk menggapainya, Jakarta mengampanyekan kerangka RISE yang dimulai sejak 2023 dan dibagi ke dalam empat tahap, yakni untuk memperkuat fondasi kota, untuk mendorong pertumbuhan yang inovatif sekaligus merata, untuk memastikan pembangunan yang berkelanjutan, serta yang menempatkan Jakarta pada posisi kepemimpinan regional hingga global.

Nah, salah satu ujian dalam menjalankan RISE itu bisa dilihat pada pelaksanaan Jakim 2026 pada 14-15 Juni. Di ajang itu sebanyak 45 ribu orang plus-plus tumplek blek di satu waktu yang sama. Jumlah 45 ribu itu adalah peserta lari, plus-plusnya adalah keluarga atau teman yang mendampingi.

Tak cuma itu, Jakarta juga terus memperluas posisinya sebagai kota event. Tren penyelenggaraan ajang olahraga internasional di berbagai kota dunia, seperti HYROX di Nice, menunjukkan bahwa ekosistem olahraga global semakin terhubung.

Meski bukan bagian dari agenda Pemprov DKI, fenomena itu memperlihatkan peluang Jakarta untuk tidak hanya menjadi tuan rumah di pusat kota, tetapi juga di kawasan pengembangan baru yang sedang tumbuh. Ajang itu sekaligus membuka ruang penguatan infrastruktur, aksesibilitas, dan sektor pendukung seperti hotel dan ekonomi lokal.

Momentum HUT ke-499 DKI Jakarta di Bundaran HI juga menjadi bagian dari gambaran kota yang sedang beradaptasi dengan skala mobilitas besar. Kebijakan tarif MRT Rp 1, misalnya, sempat memicu antrean panjang di sejumlah stasiun. Di sisi lain, situasi tersebut juga menjadi ruang edukasi publik tentang budaya antre, kesabaran, dan toleransi dalam penggunaan transportasi massal. Catatannya, Pemda tetap perlu mengantisipasi setiap kebijakan yang berdampak pada lonjakan mobilitas seperti ini agar tidak berubah menjadi disrupsi layanan.

Di titik itulah irisan antara pariwisata dan ambisi Jakarta sebagai Kota Global menjadi nyata. Keduanya bertemu pada kemampuan kota menyuguhkan pengalaman yang aman, nyaman, dan berkesan.

Peserta mengikuti BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) di kawasan Sudirman, Jakarta, Minggu (14/6/2026). CFD hari ini ditiadakan bersamaan dengan acara JAKIM kategori half marathon dan full marathon.Peserta mengikuti BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) di kawasan Sudirman, Jakarta, Minggu (14/6/2026). (Andhika Prasetia/detikFoto)

Perbandingan Jakarta vs Kota ASEAN di Peringkat Global City

Kota Status Global Kekuatan Utama Tantangan Utama
Jakarta Emerging Global City Ekonomi terbesar ASEAN, event internasional mulai naik Layanan publik belum konsisten, crowd control & infrastruktur
Bangkok Emerging Global City Tourism & hospitality kelas dunia, city experience kuat Kemacetan & tata kota
Kuala Lumpur Emerging Global City Infrastruktur modern, pusat bisnis regional Skala & pengaruh global lebih kecil dari Jakarta
Singapura Advanced Global City Finance, logistik, governance sangat efisien Biaya hidup tinggi, ruang kota terbatas

Bagi pelari luar daerah maupun mancanegara, citra Jakarta tidak hanya dibentuk oleh gedung tinggi atau angka investasi, tetapi oleh hal-hal sederhana tetapi dirasakan langsung, mulai dari kemudahan akses, kesiapan layanan medis, keamanan rute, hingga keramahan kota.

Sekali lagi, Jakim adalah sebuah uji kapasitas kota dalam kondisi paling nyata, yakni ketika ribuan orang bergerak serentak dan layanan publik diuji dalam waktu singkat. Momentum itu menjadi semakin penting karena bertepatan dengan HUT ke-499 DKI Jakarta.

Miniatur Kerapuhan Tata Kelola Jakarta

Banyaknya catatan dari peserta membuat Jakim 2026 perlu evaluasi manajemen risiko ke depan. Lebih dari itu, sejumlah persoalan yang muncul tidak bisa dilepaskan dari kondisi Jakarta secara keseluruhan. Peristiwa ini menjadi cermin kecil dari tantangan tata kelola kota.

Penelitian Hary Soesanto dkk. berjudul "Advancing Jakarta's Global Cities Index Ranking for Sustainable Resource Management: A Comparative Study with Berlin, Seoul, and Sydney" yang dipublikasikan pada 2025 menegaskan bahwa ambisi Jakarta menjadi kota global belum sepenuhnya ditopang oleh tata kelola lingkungan yang kuat.

Meski menjadi motor ekonomi nasional, Jakarta masih tertinggal dalam dan dibanding Berlin, Seoul, dan Sydney.

Perbedaannya terlihat jelas. Berlin berbasis ekologi, Seoul merevitalisasi aliran air dan ruang publik, sementara Sydney menerapkan desain kota yang adaptif terhadap air dan iklim. Jakarta masih menghadapi persoalan berulang berupa kebijakan yang terfragmentasi dan koordinasi yang belum solid.

Nah, Jakim 2026 lebih tepat dibaca sebagai gambaran kecil dari tantangan struktural layanan publik perkotaan.

Sebuah laporan jurnalisme investigatif yang dimuat di detikcom (5 Juli 2024) mencatat bahwa sebagian warga di Jakarta Utara masih harus mengeluarkan biaya harian untuk mendapatkan air bersih dalam bentuk jeriken. Kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan air tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan, tetapi juga distribusi dan aksesibilitas.

Akses air bersih di Jakarta timpang (arsip detikX) 5 Juli 2024.Akses air bersih di Jakarta timpang (arsip detikX) 5 Juli 2024. (Tangkapan layar)

Di sisi lain, data BPBD DKI Jakarta mencatat bahwa sepanjang 2024 terjadi 131 kejadian banjir di Jakarta.

Persoalan lain tentang tata kelola air bersih muncul pada efektivitas sistem distribusi. Penelitian Reini Wirahadikusumah dkk. berjudul "Governance, Financing, and Digitalisation to Reduce Non-Revenue Water (NRW): Case Study Jakarta" yang dipublikasikan pada 2026 mencatat bahwa tingkat kebocoran air (Non-Revenue Water) di Jakarta masih berada di kisaran 44-47 persen pada periode 2019-2023, jauh di atas ambang batas ideal nasional sebesar 25 persen.

Situasi itu menyodorkan ironi yang berlapis, di satu sisi sebagian warga masih harus membeli air untuk kebutuhan harian, sedangkan di sisi lain volume air dalam jumlah besar justru hilang dalam sistem distribusi.

Catatan lain yang muncul di ajang Jakim 2026 itu adalah kontroversi terkait peran salah satu . Dalam maraton, bukan sekadar pelari, tetapi dia bagian dari sistem layanan yang bertugas menjaga ritme dan membantu peserta mencapai target waktu secara konsisten.

Ketika seorang berlari meninggalkan peleton yang seharusnya dipandu, aksinya pun dipertanyakan oleh publik. Apalagi jika muncul kesan bahwa aspek personal, seperti eksposur atau konten, lebih menonjol dibanding fungsi utama sebagai pengatur ritme lomba.

Dan di kehidupan nyata, tindakan tidak pas itu justru didukung oleh kelompoknya.

Dari sini terlihat bahwa persoalan Jakim tidak hanya menyangkut aspek teknis pada hari pelaksanaan, tetapi juga menyentuh aspek pengelolaan sumber daya manusia, mulai dari seleksi hingga pemahaman peran di lapangan.

Menuju Destinasi Wisata yang Lebih Inklusif

Salah satu aspek lain yang ditonjolkan Jakim 2026 adalah bahwa ajang itu sekaligus menjadi sebuah 'destinasi wisata'. Dan, itu justru memperkuat langkah Jakarta yang sedang berambisi untuk masuk jajaran elite Kota Global dan kota wisata dunia.

Ya, untuk masuk daftar itu penguatan tidak cukup hanya pada aspek fisik dan promosi, tetapi juga pada kualitas pengalaman kota secara keseluruhan. Sebuah destinasi wisata yang matang tidak seharusnya berjarak dari warganya sendiri.

Kawan wisata Monas, Jakarta Pusat, Kamis (28/5/2026).Kawan wisata Monas, Jakarta Pusat, Kamis (28/5/2026). Belia/detikcom)

Dalam perbandingan, beberapa ajang seperti MJM di kawasan Prambanan sering dijadikan contoh bagaimana sebuah event lari dapat dikemas sebagai festival kota yang lebih inklusif. Warga tidak semata menjadi pihak yang terdampak, tetapi juga turut terlibat dalam ekosistem acara sebagai bagian dari pengalaman wisata itu sendiri. Kali ini, jangan dibandingkan dengan peristiwa pengawalan tanpa bib ya...

Sejumlah studi juga menunjukkan bahwa penyelenggaraan maraton memiliki dampak ekonomi dan sosial yang luas, mulai dari peningkatan okupansi hotel, aktivitas UMKM, hingga penguatan citra kota Di sisi lain, ajang ini juga dapat meningkatkan rasa memiliki warga terhadap kotanya.

Pada akhirnya, momentum HUT ke-499 ini dapat menjadi ruang refleksi yang lebih jujur bagi Jakarta. Menjelang usia 500 tahun, tantangan kota tidak hanya terletak pada pembangunan fisik atau penguatan pusat-pusat ekonomi, tetapi juga pada kemampuan menghadirkan kota yang aman, inklusif, dan manusiawi dalam praktik sehari-hari.

Sebab, kota yang layak disebut kota global bukan hanya kota yang dikunjungi dunia, tetapi juga kota yang mampu merawat manusia di dalamnya.

Selamat ulang tahun Jakarta!!!

----

Femi Diah
Jurnalis detikcom. Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.