SURYA.co.id, SURABAYA – Potensi bahan alami lokal terus dimanfaatkan sebagai solusi inovatif untuk kebutuhan masyarakat.
Kali ini, lima mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jawa Timur, mengembangkan Deorans, deodoran berbahan dasar tawas lokal yang dirancang aman bagi kulit sensitif sekaligus menghadirkan pilihan aroma modern.
Inovasi tersebut digagas oleh Raihan Syah Rafi’, Muhammad Fayyadh, Revanza Gammastyan, dan Daphni Najwa Halafendi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Salwa Dwi Putri Arditiya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Berkat inovasi itu, tim berhasil memperoleh pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) pada kategori Manufaktur dan Teknologi Terapan.
Ketua tim, Raihan Syah Rafi’, mengatakan Deorans lahir dari keresahan terhadap penggunaan deodoran yang dapat memicu iritasi pada sebagian pengguna, terutama mereka yang memiliki kulit sensitif.
"Kami berusaha menghadirkan deodoran alternatif yang lebih aman tanpa mengurangi fungsinya sebagai penghilang bau badan," ujarnya kepada SURYA.co.id, Selasa (30/6/2026).
Baca juga: Mahasiswa Unair dan Warga Mojokerto Garap Lahan untuk Ketahanan Pangan
Menurut Raihan, tim memilih tawas sebagai bahan utama karena memiliki sifat antimikroba yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau badan, termasuk Staphylococcus sp.
Selain itu, tawas juga memiliki sifat astringen yang membantu mengurangi produksi keringat berlebih tanpa menghambat kerja alami kelenjar keringat.
Tak hanya mengedepankan fungsi, Deorans juga dirancang mengikuti selera konsumen masa kini melalui berbagai pilihan aroma, seperti kopi, stroberi, dan bubblegum.
"Kami ingin menunjukkan bahwa deodoran berbahan tawas juga bisa tampil modern dan relevan dengan selera masyarakat saat ini," tambahnya.
Selain menyasar konsumen yang membutuhkan deodoran ramah kulit, produk ini juga ditujukan bagi masyarakat yang mulai menerapkan gaya hidup sehat dan peduli terhadap lingkungan.
Daphni menambabkan target pasar Deorans meliputi mahasiswa, pekerja kantoran, hingga masyarakat yang aktif berolahraga.
Strategi pemasaran yang disiapkan tidak hanya berfokus pada penjualan produk, tetapi juga edukasi mengenai manfaat tawas sebagai bahan alami lokal.
"Kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa bahan alami lokal memiliki potensi besar untuk menjadi solusi kebutuhan sehari-hari," ujarnya.
Melalui inovasi tersebut, tim berharap tawas sebagai komoditas lokal tidak hanya dikenal sebagai bahan tradisional, tetapi juga memiliki nilai tambah sebagai produk perawatan tubuh yang aman, modern, dan berdaya saing.
"Kami ingin menunjukkan bahwa bahan lokal seperti tawas tidak hanya memiliki manfaat kesehatan, tetapi juga mampu bersaing sebagai produk inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini," pungkasnya.