Renungan Harian Kristen 1 Juli 2026 - Sebuah Ironi Kehidupan
Bacaan ayat: 1 Samuel 8:3 (TB) Tetapi anak-anaknya itu tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Dulu, pilihan anak identik dengan pilihan orang tuanya. Suasana kehidupan keluarga cukup menjadi media yang baik bagi orang tua untuk mewariskan banyak hal.
Pengalaman yang membentuk cara berfikir bisa diwariskan secara alamiah. Anak-anak menjadikan orang tua sebagai teladan terbaik.
Apa yang dinasihatkan orang tua akan menjadi pedoman dan juklak (petunjuk pelaksanaan) bagi anak dalam menjalankan kehidupan. Seringkali terjadi, pekerjaan orang tua, itu pula yang menjadi pekerjaan anaknya kelak.
Seiring waktu dimana akses ke dunia semakin mudah, hari ini di era modern justru berbanding terbalik.
Dengan banyaknya informasi yang didapat dan konteks yang terus berkembang dan berubah, para anak mulai menciptakan pemikirannya sendiri sejak usia dini.
Para orang tua kadang dibuat melongo, mendapati anaknya telah terlihat melesat jauh pada pilihan-pilihan yang tertentu, jauh dari perkiraan mereka.
Jika itu sebuah kebaikan, tentu tidak perlu mencemaskan. Namun akan berbeda jika lesatan yang terjadi justru salah arah.
Nama besar Samuel nampaknya tidak cukup membuat anak-anaknya mengikuti jejak sang ayah. Anak-anaknya justru memilih jalan tidak benar dalam kepemimpinan, dalam mewarisi jabatan ayahnya.
"Tetapi anak-anaknya itu tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan."
Dapat dibayangkan kekecewaan yang muncul ketika anak-anaknya kedapatan berlaku tidak benar; bukan hanya nama baik yang tercoreng, bahkan umat Tuhan yang dipimpinpun kecewa.
Yoel dan Abia, anak-anak Samuel, justru mengambil jalan yang salah. Inilah yang menciptakan protes keras dari umat Tuhan dan beride untuk meminta seorang raja untuk memimpin mereka.
Kisah Samuel menjadi peringatan penting bagi kehidupan masa kini, bahwa upaya orang tua sekeras apapun, tidak bisa memberikan jaminan bahwa anak-anaknya akan mengikuti jejak yang ditinggalkan.
Diperlukan sikap arif dan bijak dalam berproses untuk membangun diri dari orang tua untuk mulai memahami konteks kekinian yang sedang berlangsung.
Ini dalam rangka menghindarkan stress di kedua belah pihak. Jangan sampai maksud baik orang tua disalahpahami, hanya karena disampaikan dengan metode yang kurang tepat.
Menjadi penting untuk meminta pertolongan Roh Kudus agar dapat berlaku benar dalam menemukan metode terbaik. Kadang hanya perlu merendahkan diri untuk memahami dunia hari ini.
Pendekatan humanisme dalam kesetaraan, menjadi pilihan bijak. Perlu langkah iman untuk berkarya agar segala hal yang dilakukan seturut dengan kehendak Tuhan.
Hal ini penting demi terhindar dari ironi kehidupan. Amin.
Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang