Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto
TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Harga telur ayam di Kabupaten Karanganyar terus merosot hingga menyentuh Rp22 ribu per kilogram.
Namun, penurunan harga tersebut justru belum mampu mendongkrak daya beli masyarakat di pasar tradisional.
Pedagang menilai perubahan pola belanja masyarakat yang beralih ke penjualan daring menjadi salah satu penyebab sepinya pembeli.
Salah seorang pedagang di Pasar Jungke, Yanti, mengatakan harga telur mulai mengalami penurunan sejak lima hari terakhir.
Baca juga: Waspada! Modus Penipuan Beli Telur dan Tukar Uang oleh 3 Orang Asing di Klaten, Aksi Terekam CCTV
"Harga telur mengalami penurunan setiap hari, terakhir Rp 22 ribu per kilogram," kata Yanti, Selasa (30/6/2026).
Ia menjelaskan, sebelumnya harga telur masih berada di kisaran Rp25 ribu per kilogram.
Setelah itu, harga terus turun secara bertahap hingga kini menyentuh Rp22 ribu per kilogram.
Meski harga semakin murah, kondisi tersebut tidak diikuti meningkatnya jumlah pembeli di pasar.
Menurut Yanti, daya beli masyarakat di pasar tradisional justru cenderung melemah karena kini banyak warga memilih membeli telur melalui penjual daring maupun pedagang rumahan.
Baca juga: Terungkap! Pedagang Pasar Jungke Karanganyar Harus Punya NPWP dan SIUP untuk Jual MinyaKita PT KMR
"Menurunnya harga telur, penjualan malah laris pas harga naik, saat ini lebih sepi, karena jualan sekarang pada online dan di rumah banyak yang jual telur, orang beli 1 kilogram, yang biasa di pasar biasannya 1/4 kilogram sekarang beli sampai 1 kilogram," ungkap dia.
Ia menilai kemudahan membeli kebutuhan pokok secara online membuat persaingan di pasar tradisional semakin berat.
Kondisi itu membuat pedagang belum bisa merasakan dampak positif dari turunnya harga telur terhadap peningkatan penjualan.