Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Cabang Nusa Tenggara Timur (NTT) dr. Teda Litik meminta para pejabat atau pemegang kuasa di NTT agar bertobat dan berhenti melakukan intimidasi maupun menekan para tenaga kesehatan.
PDUI NTT geram dengan kejadian yang dialami dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha Pakaenoni yang berujung kematian.
Diduga, dr. Icha diintimidasi oleh tiga oknum anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) beberapa waktu lalu. Korban lalu mengalami depresi dan meregang nyawa.
"Tindakan seperti itu tidak dilakukan lagi, bertobat sudah karena sudah ada korban. Kami semua akan mengawal," kata dr. Teda, Selasa (30/6/2026) di Fakultas Kedokteran Undana.
Baca juga: Polisi Periksa Tiga Orang Anggota DPRD Terduga Pelaku Intimidasi Dokter Icha
Dia juga meminta agar DPRD TTU dan Pemerintah setempat untuk membantu pengusutan kasus ini sebagaimana aturan. Dokter Teda mengingatkan siapapun tidak boleh menghalangi penyelesaian masalah ini.
PDUI NTT terpanggil untuk bersolidaritas dan mengawal persoalan yang menimpa dokter Icha Pakaenoni. Itu merupakan tanggung jawab moral dan ikatan. Kejadian ini, kata dia, menjadi pembelajaran yang mahal bagi dunia kesehatan di NTT.
"Belajar perbaiki segala sistem sesuai dengan undang-undang kesehatan, semua sudah diatur disitu," katanya.
Dokter Teda mengaku, Kementerian Kesehatan telah meminta keterangan dari berbagai pihak. Ia mendorong para pihak untuk membantu pengawalan kasus ini. Dokter Teda mengaku, ia sendiri sangat lama bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang memiliki banyak tantangan.
Dia memahami, menjadi seorang dokter terutama ditempatkan di IGD cukup berat. Pengalaman pribadinya, sering ia merasa depresi dan harus melakukan pemeriksaan psikiater.
"Artinya dokter IGD itu tidak gampang. Jadi tolong jangan datang di IGD mengamuk-mengamuk. Karena kita sudah kerja pasien gawat ini, ambulans masuk lagi bawa pasien. Kita punya jantung goyang, aduh ini apalagi, ini apalagi," ujarnya.
Dia meminta pengguna fasilitas kesehatan agar bersikap tenang dan mempercayakan pengurusan pasien kepada tenaga kesehatan. Jika merasa pelayanan yang kurang, ia meminta agar bertanya dengan baik. Seringkali, dokter Teda saat sedang menangani pasien, ia meminta keluarga untuk berdoa agar proses medis berjalan lancar.
"Saya kalau ke IGD lain juga saya tanya, ini apa, ini kenapa. Tanya baik-baik. Itu hak pasien dan keluarga mendapatkan penjelasan. Tidak perlu marah-marah. Tenaga kesehatan menghadapi pasien saja sudah stres, lalu ditambah lagi gaya bicara (pasien atau keluarga) seperti itu. Harus tenang," ujarnya.
Peristiwa yang dialami dr. Icha memang telah sesuai prosedur penanganan pasien gigitan ular. Kejadian itu masuk kategori lokal sehingga tidak diberikan venom. Dokter Icha harus berkonsultasi dengan ahli yang membidangi kasus yang dialami pasien.
"Kalau tidak mengerti, tanya. Bukan langsung berpikir, asumsi sendiri langsung marah-marah," ujarnya.
Diketahui, dokter Icha Pakaenoni meninggal dunia pada 26 Juni 2026 lalu di kediamannya, perumahan RSS Baumata Kabupaten Kupang.
Perempuan 27 tahun itu, depresi pasca diintimidasi tiga anggota DPRD TTU. Ia sempat menjalani perawatan medis namun akhirnya meninggal dunia. (fan)