Studi: ASI Eksklusif hingga 6 Bulan Dikaitkan dengan Risiko Gejala ADHD yang Lebih Rendah
Tiara Shelavie June 30, 2026 10:34 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya menunjukkan risiko gejala ADHD yang lebih rendah, menurut sebuah studi baru.

Mengutip euronews.com, peneliti dari Universitas Bergen di Norwegia menemukan adanya hubungan antara lamanya ibu menyusui dan kemungkinan anak mengalami gejala ADHD.

“Sudah diketahui dengan baik bahwa gejala dan gangguan kejiwaan dapat dipengaruhi oleh faktor genetik maupun lingkungan,” kata Berit Skretting Solberg, psikiater dan peneliti di Departemen Biomedis Universitas Bergen sekaligus konsultan senior di Rumah Sakit Betanien.

“Kami menemukan bahwa semakin lama seorang anak mendapatkan ASI eksklusif (hingga enam bulan), semakin rendah tingkat gejala ADHD yang terlihat pada usia tiga, lima, dan delapan tahun,” tambah Solberg.

Para peneliti menganalisis data lebih dari 37.000 anak yang lahir di Norwegia antara tahun 1999 hingga 2009. Mereka melacak pola pemberian ASI dan melakukan tindak lanjut ketika anak berusia tiga, lima, dan delapan tahun.

Hasilnya menunjukkan bahwa pemberian ASI dalam bentuk apa pun berkaitan dengan berkurangnya gejala ADHD. Namun, efek tersebut semakin kuat seiring bertambahnya durasi dan intensitas menyusui, dengan manfaat terbesar ditemukan pada anak yang menerima ASI eksklusif hingga enam bulan.

Baca juga: Ibu Jangan Merasa Bersalah, IDAI: Kualitas ASI Bukan Penyebab Bayi Sering Gumoh

Studi ini juga menemukan perbedaan yang signifikan berdasarkan jenis kelamin, di mana anak perempuan menunjukkan hubungan yang paling kuat pada semua kelompok usia yang diteliti.

Solberg mencatat bahwa meskipun faktor keturunan kemungkinan merupakan faktor risiko terkuat untuk ADHD, gangguan perkembangan saraf dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan perilaku dan perkembangan saraf yang ditandai dengan kurangnya perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Kondisi ini biasanya didiagnosis saat masa kanak-kanak.

Hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan ADHD, tetapi penanganannya dapat dilakukan melalui terapi perilaku dan pengobatan.

Pentingnya Menyusui

ASI merupakan sumber makanan utama bagi sebagian besar bayi selama beberapa bulan pertama kehidupannya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF merekomendasikan agar bayi mulai disusui dalam satu jam pertama setelah lahir serta mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama, yang berarti tidak diberikan makanan atau minuman lain, termasuk air putih.

Para peneliti mengemukakan beberapa mekanisme biologis yang mungkin menjelaskan hubungan tersebut. ASI mengandung makronutrien, vitamin, prebiotik, probiotik, komponen sistem kekebalan tubuh, serta berbagai zat biologis aktif lainnya yang dapat memengaruhi perkembangan otak pada awal kehidupan.

Meski memiliki banyak manfaat, banyak perempuan tidak menyusui selama durasi yang direkomendasikan, bahkan ada yang tidak menyusui sama sekali. Studi ini menemukan bahwa para peserta rata-rata hanya memberikan ASI eksklusif selama kurang dari empat bulan.

Ada banyak alasan mengapa perempuan tidak menyusui. Sebagian tidak dapat melakukannya karena kondisi kesehatan tertentu, sementara yang lain menghentikan pemberian ASI lebih cepat dari rencana akibat jadwal kerja dan kurangnya dukungan.

Dalam kondisi tersebut, susu formula bayi yang umumnya berbahan dasar susu sapi menjadi satu-satunya alternatif yang direkomendasikan sebagai pengganti ASI selama 12 bulan pertama kehidupan.

Seperti halnya studi observasional lainnya, para penulis penelitian mengingatkan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami mekanisme yang mendasari hubungan tersebut.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.