TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - 39 SMP Negeri di Kabupaten Jepara telah mengikuti proses seleksi penerimaan murid baru (SPMB) online Tahun Ajaran 2026/2027.
Dari sekolah yang mengikuti SPMB online, lima di antaranya gagal memenuhi kuota siswa.
Kelima sekolah itu adalah sebagai berikut.
Kelima sekolah tersebut terletak di lokasi pinggiran, berada cukup jauh dari pusat kota dan permukiman.
Sementara SMP Negeri 2 Karimunjawa berada di Pulau Parang, terpisah dengan Pulau Karimunjawa.
Baca juga: Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Jateng: Rumah Kiai Tak Boleh Satu Atap dengan Asrama Santri
• UPDATE Daftar Resmi Harga BBM Rabu 1 Juli 2026, Turun Rp3.650 per Liter
Kabid SMP Disdikpora Kabupaten Jepara, Hening Indrati mengatakan, di Kabupaten Jepara ada 101 SMP yang tersebar di 16 kecamatan. Terdiri dari 39 SMP negeri dan 62 SMP swasta.
Kata dia, SPMB online Tahun Ajaran 2026/2027 hanya diikuti 39 SMP negeri secara terjadwal.
Sementara SMP swasta mengadakan sistem penerimaan murid baru yang terpisah dari SPMB online, dengan jangka waktu relatif lebih panjang.
Alasannya, mayoritas faktor kesiapan SMP swasta yang dinilai belum siap untuk mengikuti SPMB online.
Sistem penerimaan murid baru jenjang SMP secara online pada gelombang I berlangsung sejak 17-25 Juni 2026. Mulai dari pendaftaran, verifikasi akun, juga pemilihan sekolah dilakukan pada 22 Juni.
Hasil seleksi secara online diumumkan pada 26 Juni, selanjutnya siswa melakukan daftar ulang pada 29-30 Juni 2026.
"Per 27 Juni 2026, ada lima sekolah yang melaporkan masih belum bisa memenuhi kuota. Sementara SPMB online gelombang I sudah ditutup," terangnya, Selasa (30/6/2026).
Hening menyebut, dari lima SMP yang belum memenuhi kuota siswa disebabkan beberapa faktor. Di antaranya faktor geografis letak sekolah di pinggiran dan jauh dari permukiman.
Selain itu, jangkauan sekolah tidak cukup strategis untuk diakses siswa terlalu jauh, juga persaingan antar sekolah jenjang pendidikan sederajat, utamanya persaingan dengan sekolah swasta yang lebih menarik dengan adanya tawaran fasilitas.
Biasanya dalam bentuk armada antar jemput sekolah, hingga seragam sekolah gratis.
Selain lima sekolah yang mengalami kekurangan siswa, lanjut dia, banyak juga sekolah yang kelebihan pendaftar, khususnya terjadi di sekolah-sekolah di wilayah perkotaan dan permukiman padat penduduk.
Hening menyebut, saat ini lulusan SD negeri dan swasta di Jepara ada sekira 13.484 siswa. Jumlah tersebut belum termasuk lulusan dari sekolah madrasah di bawah kewenangan Kementerian Agama (Kemenag).
Sementara daya tampung di SMP negeri dan swasta untuk tahun ajaran 2026/2027 mencapai 12.992 siswa.
Jumlah tersebut belum termasuk daya tampung di jenjang MTs dan Sekolah Rakyat (SR).
Lebih lanjut, khusus daya tampung di SMP negeri mencapai 8.064 siswa dengan jumlah pendaftar yang mengakses SPMB online mencapai 15.232 siswa.
Di antaranya pendaftar dari lulusan SD negeri dan swasta, juga ada pendaftar dari lulusan MI dan pendaftar dari luar kota melalui jalur mutasi.
"Yang jelas persaingan sekolah itu ada dalam hal mendapatkan siswa. Fenomena yang terjadi banyak orangtua menyekolahkan anaknya di sekolah swasta yang dinilai lebih bagus fasilitasnya."
"Dan itu pilihan, mau sekolah negeri atau swasta sama-sama untuk memajukan pendidikan," tuturnya.
SPMB online tahun ini memenuhi empat jalur penerimaan siswa baru. Jalur zonasi atau domisili sebanyak 45 persen, prestasi 30 persen, mutasi maksimal 5 persen, dan afirmasi 20 persen.
Khusus jalur prestasi, penghitungannya mempertimbangkan hasil tes kemampuan akademik (TKA) 50 persen, nilai raport 30 persen, dan piagam penghargaan 20 persen.
Hening menegaskan, sekolah yang belum memenuhi kuota siswa pada SPMB online gelombang I berhak mengikuti SPMB gelombang II secara online juga.
SPMB online gelombang dua di Kabupaten Jepara hanya berlangsung dua hari, yaitu pada 1-2 Juli 2026. Sedangkan pengumumannya digelar pada 3 Juli 2026.
Untuk tahun ajaran 2026/2027 dimulai serentak pada 13 Juli 2026 dimulai dengan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) selama lima hari.
• BREAKING NEWS, Tiga Pengurus Pokmas Bergas Lor Semarang Jadi Tersangka Korupsi Rp602 Juta
Pada penerimaan siswa baru untuk tahun ajaran 2026/2027 jenjang SMP di Jepara, tercatat hanya ada dua sekolah yang mengajukan kuota satu rombel atau kelas. Yaitu SMP Negeri 4 Kembang dan SMP Negeri 2 Karimunjawa.
Kuota siswa di SMP Negeri 4 Kembang hanya dibuka 32 siswa. Itu pun belum terpenuhi seluruhnya, masih memerlukan tambahan lima siswa lagi.
SMP Negeri 4 Kembang terletak di lereng pugunungan Muria, tepatnya di Desa Dudakawu, Kecamatan Kembang.
Setiap tahun minat jumlah siswa di sekolah itu berkurang. Mengingat letak sekolah di perbukitan jauh dari permukiman penduduk sekitar. Sehingga daya minat masyarakat untuk bersekolah semakin menurun.
Selain itu, SMP Negeri 2 Karimunjawa juga mengalami hal serupa. Dari daya tampung 32 siswa untuk satu rombel, baru terisi 15 siswa dan masih kekurangan 17 siswa.
Letak geografis SMP Negeri 2 Karimunjawa di Pulau Parang semakin memperburuk situasi pendidikan di sekolah tersebut. Dimana anak-anak dari Desa Karimunjawa lebih memilih bersekolah di SMP Negeri 1 Karimunjawa tanpa harus menyeberang ke Pulau Parang.
Sehingga SMP Negeri 2 Karimunjawa praktis hanya bisa mendapatkan siswa yang tinggal di Pulau Parang.
Terpisah, Bupati Jepara Witiarso Utomo menegaskan bahwa pendidikan adalah kunci bagaimana membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul.
Masyarakat bebas memilih sekolah mana yang disukai agar anak-anak calon generasi penerus enjoy mengakses pendidikan dengan optimal.
Bupati juga menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen membenahi pendidikan yang lebih berkualitas. Mulai dari penataan tata kelola satuan pendidikan, sistem pengajaran, inovasi pembelajaran, juga sarana dan prasarana pendukung pendidikan. (*)