TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Fenomena El Nino 2026 diperkirakan akan membawa dampak besar terhadap pola iklim di Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai curah hujan di sejumlah wilayah akan mengalami penurunan signifikan, terutama di daerah yang berada di selatan garis khatulistiwa.
Kondisi ini diprediksi paling terasa pada puncak musim kemarau, yakni Juli hingga Oktober 2026.
BMKG menekankan pentingnya langkah antisipasi sejak dini.
Pemerintah daerah bersama sektor terkait diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi risiko kekeringan, gangguan produksi pangan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga penurunan kualitas udara.
Dengan fenomena iklim global yang semakin kompleks, kesiapan menghadapi dampak El Nino menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam krisis lingkungan maupun pangan.
Berikut wilayah yang diperkirakan terdampak El Nino 2026 beserta potensi dampaknya menurut BMKG:
• Waspada Sinyal El Nino Menguat Akhir April 2026, Prediksi BMKG Curah Hujan Mulai Berkurang
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, beberapa wilayah diperkirakan mengalami penurunan curah hujan di bawah kondisi normal selama periode Juli hingga Oktober 2026.
Wilayah tersebut meliputi:
1. Jawa, yang diperkirakan menjadi salah satu wilayah dengan penurunan curah hujan paling signifikan selama puncak musim kemarau.
2. Bali, yang berpotensi mengalami kondisi lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis.
3. Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sejak awal memang memiliki musim kemarau lebih panjang sehingga berisiko mengalami kekeringan.
4. Sebagian wilayah Sumatra bagian selatan, yang diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal.
5. Kalimantan bagian selatan, terutama wilayah yang rawan kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.
6. Sulawesi, yang diperkirakan mengalami penurunan curah hujan pada puncak musim kemarau.
7. Sebagian wilayah Papua bagian selatan, yang juga diprakirakan mengalami kondisi lebih kering dibandingkan biasanya.
• Pemkot Pontianak Perkuat Antisipasi Dampak El Nino dan Musim Kemarau
Menurut BMKG, wilayah di selatan garis khatulistiwa lebih berisiko terdampak karena El Nino bertepatan dengan musim kemarau yang memang terjadi setiap tahun di Indonesia.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menjelaskan, El Nino merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, sedangkan musim kemarau merupakan siklus tahunan.
"Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan," ujar Faisal dilansir dari Kompas.tv, Selasa 30 Juni 2026.
BMKG memperkirakan El Nino berlangsung sekitar 9 hingga 12 bulan.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode tersebut.
Dampak paling nyata diperkirakan terjadi ketika El Nino bertepatan dengan puncak musim kemarau.
(*)