Surabaya (ANTARA) - Di balik deretan gedung, jalan raya, dan kawasan permukiman yang terus berkembang, Kota Surabaya, Jawa Timur, masih menyimpan ruang yang bekerja dalam senyap. Akar-akar mangrove menahan lumpur, menyaring air, meredam gelombang, sekaligus menyediakan rumah bagi satwa liar yang jarang terlihat mata. Di tempat itulah alam menunjukkan bahwa kota modern tidak harus kehilangan denyut ekologisnya.

Keberadaan burung yang datang silih berganti, kupu-kupu yang berkembang biak, kepiting pemanjat pohon, hingga kucing bakau yang hidup liar bukan sekadar daftar penghuni sebuah kawasan konservasi. Kehadiran mereka merupakan bahasa alam yang menyampaikan satu pesan penting bahwa sebuah ekosistem masih bekerja sebagaimana mestinya.

Pesan itu menjadi semakin bermakna ketika muncul dari sebuah kota metropolitan, seperti Surabaya. Di tengah tekanan pembangunan perkotaan, ruang hidup satwa justru semakin terbatas. Karena itu, setiap indikator keanekaragaman hayati bukan hanya menjadi kabar baik bagi lingkungan, melainkan juga menjadi ukuran keberhasilan sebuah kota menjaga keseimbangan antara pembangunan dan konservasi.

Kebun Raya Mangrove Surabaya memberikan gambaran tersebut. Kawasan yang dikelola Pemerintah Kota Surabaya itu, kini memiliki 74 spesies mangrove atau hampir 30 persen dari sekitar 245 spesies mangrove Indonesia.

Jumlah itu menjadikannya koleksi mangrove terlengkap dibandingkan kawasan mangrove lain di Indonesia. Lebih dari itu, kawasan ini menjadi satu-satunya kebun raya bertema mangrove di Indonesia, dengan fungsi konservasi, penelitian, edukasi, sekaligus wisata berbasis lingkungan.

Keberadaan sekitar 35 jenis burung yang menetap maupun singgah menunjukkan rantai makanan di kawasan itu masih berlangsung secara alami. Temuan kucing bakau melalui penelitian akademik, bahkan memiliki makna ekologis yang lebih dalam. Satwa liar tersebut dikenal sangat sensitif terhadap perubahan habitat, sehingga kemunculannya sering dipakai sebagai indikator kualitas lingkungan yang masih baik.

Semua fakta tersebut mengingatkan bahwa menjaga mangrove bukan sekadar menanam pohon. Hal yang dipertahankan sesungguhnya adalah sebuah sistem kehidupan yang saling terhubung.

Wisatawan menyusuri alur sungai di Kebun Raya Mangrove Surabaya, Jawa Timur. Wisata susur mangrove menjadi bagian dari upaya mengenalkan pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan keanekaragaman hayati. (ANTARA-HO/Diskominfotik Surabaya)

Ekologi kota

Mangrove sering dipahami sebatas benteng alami penahan abrasi. Padahal, fungsi ekologinya jauh melampaui itu.

Laporan Food and Agriculture Organization dan berbagai publikasi ilmiah menunjukkan hutan mangrove mampu menyimpan karbon beberapa kali lebih besar dibandingkan hutan daratan. Kemampuan menyerap karbon itu menjadikan mangrove sebagai bagian penting dalam strategi mitigasi perubahan iklim.

Bagi Surabaya yang berada di kawasan pesisir utara Jawa, fungsi tersebut semakin strategis. Kota ini menghadapi ancaman kenaikan muka air laut, penurunan muka tanah di sejumlah wilayah, serta meningkatnya kejadian cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

Dalam konteks itu, Kebun Raya Mangrove bukan hanya aset lingkungan, tetapi juga bagian dari infrastruktur kota. Jika jalan raya memperlancar mobilitas manusia, maka mangrove menjaga stabilitas ekosistem yang menopang kehidupan perkotaan.

Nilai lain yang mulai menguat adalah fungsi riset. Bergabungnya pengelolaan Kebun Raya Mangrove dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah membuka peluang pengembangan kawasan sebagai laboratorium mangrove berskala internasional.

Ambisi untuk mengoleksi seluruh spesies mangrove Indonesia memang terdengar besar. Namun, gagasan tersebut memiliki dasar yang kuat. Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman mangrove terbesar di dunia.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas mangrove Indonesia mencapai sekitar 3,4 juta hektare atau sekitar seperlima dari total mangrove dunia. Kekayaan tersebut merupakan modal penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan, konservasi, hingga inovasi ekonomi berbasis pesisir.

Jika seluruh koleksi mangrove nasional dapat dihimpun di Surabaya, maka kota ini tidak hanya dikenal sebagai pusat perdagangan dan industri, melainkan juga sebagai pusat pengetahuan mangrove tropis.

Namun, keberhasilan konservasi tidak dapat diukur hanya dari banyaknya spesies yang berhasil dikumpulkan.

Ukuran sesungguhnya adalah apakah kawasan tersebut mampu mempertahankan fungsi ekologinya dalam jangka panjang. Di sinilah tantangan mulai muncul.

Sampah kiriman dari sungai menjadi ancaman yang terus berulang. Sebagai wilayah hilir, Surabaya menerima limpahan sampah dari daerah-daerah di bagian atas daerah aliran sungai. Plastik yang tersangkut di akar mangrove dapat menghambat pertumbuhan tanaman, mengurangi kualitas habitat satwa, hingga mengganggu proses regenerasi alami.

Masalah ini menunjukkan bahwa konservasi mangrove sesungguhnya tidak mengenal batas administrasi. Apa yang terjadi di hulu akan menentukan kualitas lingkungan di hilir.

Artinya, menjaga Kebun Raya Mangrove tidak cukup hanya dilakukan di kawasan konservasi. Pengelolaan sampah, pengendalian pencemaran sungai, hingga perubahan perilaku masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Burung kuntul mencari makan di kawasan Kebun Raya Mangrove Surabaya, Jawa Timur. Keberadaan satwa tersebut menjadi indikator ekosistem mangrove yang tetap terjaga. (ANTARA-HO/Diskominfotik Surabaya)

Menjaga warisan

Di banyak negara, kawasan konservasi mulai berkembang menjadi pusat pendidikan publik. Pengunjung tidak hanya datang untuk berwisata, tetapi juga memahami bagaimana ekosistem bekerja. Surabaya memiliki peluang besar menuju arah tersebut.

Kebun Raya Mangrove dapat dikembangkan sebagai ruang belajar terbuka bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, hingga masyarakat umum. Teknologi digital dapat dimanfaatkan melalui sistem informasi spesies, pemantauan satwa berbasis kecerdasan buatan, hingga pengembangan basis data keanekaragaman hayati yang dapat diakses publik.

Kolaborasi dengan perguruan tinggi juga layak diperluas. Penelitian mengenai karbon biru, rehabilitasi pesisir, adaptasi perubahan iklim, hingga konservasi satwa liar akan semakin memperkuat posisi Surabaya sebagai pusat inovasi mangrove.

Tidak kalah penting adalah memperluas keterlibatan masyarakat. Pengalaman berbagai daerah menunjukkan kawasan konservasi akan lebih bertahan apabila masyarakat memperoleh manfaat ekonomi, tanpa merusak ekosistem.

Pengembangan ekowisata berbasis edukasi, pelatihan pemandu lingkungan, produk ekonomi kreatif, hingga program adopsi mangrove dapat menjadi pilihan yang memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap kawasan tersebut.

Langkah ini juga selaras dengan arah pembangunan berkelanjutan nasional, termasuk agenda penguatan ketahanan iklim, konservasi keanekaragaman hayati, serta pembangunan ekonomi hijau menuju Indonesia Emas 2045.

Pada saat yang sama, pengawasan terhadap alih fungsi lahan pesisir tetap harus menjadi perhatian. Pengembangan kota memang penting, tetapi pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan hanya akan memindahkan biaya ke masa depan dalam bentuk banjir, abrasi, penurunan kualitas udara, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Kebun Raya Mangrove Surabaya membuktikan bahwa pembangunan dan konservasi tidak selalu berada di dua kutub yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila dirancang dalam satu ekosistem kebijakan yang saling menguatkan.

Burung yang terus kembali, kupu-kupu yang tetap berkembang biak, serta kucing bakau yang masih memilih kawasan itu sebagai rumah adalah penanda bahwa alam masih memberikan kepercayaan kepada Surabaya.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kawasan itu layak dijaga, melainkan sejauh mana seluruh pemangku kepentingan mampu mempertahankan kepercayaan alam tersebut. Sebab, di tengah perubahan iklim yang semakin nyata, masa depan kota tidak hanya ditentukan oleh tinggi rendahnya gedung yang dibangun, tetapi juga oleh seberapa rimbun mangrove yang berhasil dipertahankan.