TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA — Nyeri lutut kronis akibat osteoarthritis sering kali dianggap sebagai bagian dari proses penuaan.
Padahal, ketika kerusakan sendi semakin berat, kondisi tersebut dapat membatasi kemampuan seseorang untuk bekerja, berolahraga, beribadah, hingga menikmati waktu bersama keluarga.
Di sisi lain, tidak sedikit pasien yang menunda operasi karena kekhawatiran terhadap prosedur, masa pemulihan, atau harus mencari layanan berteknologi tinggi ke kota lain bahkan ke luar negeri.
Menjawab kebutuhan tersebut, Siloam Hospitals Bali resmi menghadirkan layanan Robotic Total Knee Replacement (TKR) menggunakan teknologi robotic surgical system, menjadikannya rumah sakit pertama di Bali dan di Indonesia Timur yang menyediakan layanan operasi penggantian sendi lutut berbantuan robot.
Baca juga: Bali International Hospital Sukses Gelar Bedah Robotik, Layanan Kesehatan Standar Internasional
Kehadiran layanan ini memperluas akses masyarakat terhadap tindakan ortopedi modern dengan standar pelayanan internasional tanpa harus meninggalkan Indonesia.
Direktur Siloam Hospitals Bali, dr. Ni Gusti Ayu Putri Mayuni, MM., mengatakan bahwa kehadiran layanan ini merupakan bagian dari komitmen Siloam untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan ortopedi modern tanpa mengesampingkan kualitas dan keselamatan pasien.
"Teknologi akan memberikan manfaat ketika digunakan oleh dokter yang tepat, didukung sistem pelayanan yang tepat, dan berfokus pada kebutuhan pasien. Melalui layanan ini, masyarakat Bali dan Indonesia Timur kini memiliki akses terhadap layanan ortopedi berteknologi tinggi dengan standar internasional tanpa harus bepergian ke luar negeri,” kata dr. Ayu Putri, Senin 29 Juni 2026.
Dengan hadirnya layanan ini, pihaknya berharap dapat memperkuat posisi Bali sebagai salah satu destinasi medical tourism di Indonesia.
Secara resmi Siloam Hospitals Bali memperkenalkan tindakan Robotic Total Knee Replacement pada Minggu 28 Juni 2026 di salah satu hotel di Kuta, Badung, dengan mengundang
Kebutuhan terhadap layanan penggantian sendi diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup masyarakat Indonesia dan meningkatnya kasus osteoarthritis yang menjadi salah satu penyebab utama disabilitas pada kelompok usia lanjut.
Ketika terapi konservatif seperti obat-obatan, fisioterapi, atau injeksi tidak lagi memberikan hasil yang optimal, operasi penggantian sendi lutut menjadi salah satu pilihan terapi yang dapat membantu pasien kembali bergerak lebih nyaman dan aktif.
Namun, keberhasilan operasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan.
Pengalaman dokter, ketepatan perencanaan tindakan, kesiapan tim multidisiplin, rehabilitasi yang komprehensif, serta standar keselamatan pasien merupakan faktor yang sama pentingnya dalam mencapai hasil klinis yang optimal.
Seluruh tindakan Robotic Total Knee Replacement di Siloam Hospitals Bali dipimpin oleh dr. Erwin Saspraditya, BMedSci, Sp.OT(K), Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Panggul dan Lutut.
Berbeda dengan persepsi yang berkembang di masyarakat, teknologi robotik tidak mengambil alih keputusan medis maupun melakukan operasi secara mandiri.
Seluruh tindakan tetap berada di bawah kendali dokter, sementara teknologi tersebut membantu memberikan informasi anatomi pasien secara lebih akurat untuk mendukung pengambilan keputusan selama operasi.
“Setiap pasien memiliki kondisi anatomi yang berbeda. Teknologi ini membantu kami merencanakan tindakan dengan lebih presisi sesuai kebutuhan masing-masing pasien, namun seluruh keputusan klinis tetap sepenuhnya berada di tangan dokter," ujar dr. Erwin.
Teknologi yang digunakan merupakan CORI Robotic Surgical System, sebuah sistem navigasi robotik yang membantu dokter memetakan anatomi lutut pasien secara real-time tanpa memerlukan CT Scan pra operasi.
Informasi tersebut membantu menentukan posisi dan ukuran implan secara lebih akurat sesuai kondisi masing-masing pasien, sekaligus mendukung tindakan yang lebih presisi dengan tetap mempertahankan jaringan lunak secara optimal.
Bagi pasien, manfaat layanan ini tidak berhenti di ruang operasi.
Sejak konsultasi awal, pasien dan keluarga mendapatkan pendampingan untuk memahami kondisi penyakit, pilihan terapi, proses operasi, hingga tahapan rehabilitasi.
Pendekatan tersebut membantu pasien mengambil keputusan berdasarkan pemahaman yang menyeluruh, sekaligus memberikan rasa aman selama proses pengobatan.(*)