TRIBUNTRENDS.COM - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi kembali mengalami penyesuaian mulai Rabu (1/7/2026).
Meski demikian, harga Pertamax RON 92 masih dipertahankan dan belum mengalami perubahan, berbeda dengan Pertamax Turbo hingga Dexlite yang justru turun.
Sebelumnya, pada 10 Juni 2026, harga Pertamax RON 92 telah lebih dulu mengalami kenaikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta masyarakat menunggu keputusan resmi pemerintah terkait kemungkinan perubahan harga Pertamax RON 92.
Pernyataan itu disampaikan Bahlil saat berada di Komplek Parlemen, Jakarta, pada Senin (29/6/2026).
"Kita lihat saja, teman-teman juga harus fair dong. Pada saat harga minyak lagi naik, dua bulan lebih hampir tiga bulan kan enggak kita naikkan. Masa baru naik (harga Pertamax 92) dua minggu atau tiga minggu? teman-teman sudah tanya itu," ujarnya.
Di sisi lain, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth M.V. Dumatubun menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan pasar energi global yang terus bergerak dinamis.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun, Tarif BBM Jenis Pertamax juga Ikut Turun di Juli 2026? Ini Kata Pertamina
Menurutnya, evaluasi harga BBM non-subsidi dilakukan secara berkala dalam periode waktu tertentu sesuai kondisi yang terjadi di pasar.
"Evaluasi harga BBM non subsidi dilakukan secara berkala bisa dalam periode waktu tertentu," ujarnya.
Ia menambahkan, tren penurunan harga minyak dunia diharapkan dapat menciptakan kondisi yang lebih kondusif dalam perhitungan harga keekonomian BBM.
Apabila tren tersebut terus berlanjut dan harga pasar tetap bergerak stabil, peluang penyesuaian harga BBM non-subsidi tetap terbuka.
"Apabila fluktuasi harga pasar dalam kurun waktu tertentu ini cenderung positif stay menurun dan kondusif, karena mengikuti harga pasar maka potensi penyesuaian harga BBM non subsidi dapat dilakukan. Penyesuaian harga akan mengikuti harga pasar dan mempertimbangkan dua poin di atas," pungkasnya.
Sementara itu, perkembangan harga minyak mentah dunia juga menjadi salah satu indikator yang terus dipantau dalam penentuan harga BBM.
Saat ini, harga minyak mentah Brent berada di kisaran 72,40 dolar AS per barel, sedangkan satu acuan lainnya tercatat berada di level sekitar 73,51 dolar AS per barel.
Pergerakan harga komoditas energi global tersebut akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi pada periode berikutnya.
Harga Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite, dan Avtur mengalami penurunan harga mulai 1 Juli 2026 pukul 00.00 WIB.
Berikut daftar harga BBM non-subsidi per 1 Juli 2026 untuk daerah dengan PBBKB 5 persen:
Baca juga: Harga BBM Baru Jenis B50, Mulai Berlaku Juli 2026, Lebih Ramah Lingkungan, Catat Sederet Manfaatnya
Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal sebelumnya mengatakan, Indonesian Crude Price (ICP) atau harga patokan rata-rata minyak mentah Indonesia sekarang sudah menurun, seiring melemahnya harga minyak dunia.
Ia menjelaskan, ICP saat ini secara year to date atau dihitung dari awal tahun hingga sekarang sudah di bawah 84 dolar AS per barel, yang mana sebelumnya di atas 85 dolar AS per barel.
"Penurunan harga Pertamax itu berpengaruh ke daya beli masyarakat kelas menengah. Jadi sudah semestinya diturunkan untuk mendongkrak daya beli dan harga minyak dunia juga sudah turun," papar Faisal.
Policy and Program Director Prasasti Piter Abdullah menilai pemerintah memiliki ruang untuk menyesuaikan harga Pertamax mengikuti harga pasar, sekaligus menjaga BBM bersubsidi tetap tepat sasaran.
Menurutnya, penyesuaian semacam ini wajar selama dilakukan secara terukur.
"Penurunan harga minyak dunia membuka ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga Pertamax. Penyesuaian ini bukan mengembalikan ke harga lama, melainkan menurunkan secara wajar mengikuti perkembangan pasar. Seberapa besar angkanya, pemerintah dan Pertamina yang memegang perhitungannya," ujar Piter.
Piter menegaskan perlunya pembagian peran yang jelas antara BBM subsidi dan nonsubsidi. Prinsip ini membuat perekonomian lebih terkendali.
"Kewajiban pemerintah adalah menjaga BBM bersubsidi. BBM non-subsidi seharusnya dibiarkan mengikuti harga pasar. Dengan begitu masyarakat paham mana harga yang dijaga pemerintah dan mana yang mengikuti pasar," kata Piter.
Piter melanjutkan, penyesuaian harga Pertamax penting untuk mencegah perpindahan konsumen ke Pertalite. Sebab, gejala ini sudah terlihat di lapangan.
"Antrean Pertalite yang memanjang menandakan sebagian konsumen sudah beralih. Kalau dibiarkan, kuota Pertalite yang terbatas bisa tidak mencukupi. Pasokan dan permintaan tidak lagi cocok. Risikonya bisa sampai kelangkaan," ujarnya.
Hal yang sama juga disampaikan Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi.
Ia menjelaskan, harga minyak mentah dunia mulai menunjukkan tren penurunan setelah sempat terdorong oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Perkembangan harga minyak global menjadi faktor penting yang memengaruhi penetapan harga BBM nonsubsidi di Indonesia.
Ibrahim menyampaikan, harga minyak masih berpotensi turun lebih lanjut jika ketegangan geopolitik mereda dan pasokan minyak global tetap terjaga.
“Saya masih optimis BBM non-subsidi awal bulan (Juli) akan turun. Minyak mentah kemungkinan besar akan di bawah 70 dolar AS per barel,” kata Ibrahim.
(TribunTrends/Tribunnews)