TRIBUNSORONG.COM, SORONG – Menjadi Pemenang I Duta Bahasa Papua 2026 merupakan impian yang telah lama dipendam Melani Tebuot Bame.
Namun, mimpi tersebut baru bisa diwujudkannya pada tahun 2026 setelah dua tahun menunda mengikuti ajang bergengsi itu.
Kisah perjalanannya diungkapkan saat menjadi narasumber dalam Serial Podcast Inspiratif TribunSorong.com yang dipandu host sekaligus jurnalis TribunSorong.com, Ismail Saleh, Selasa (30/6/2026).
Melani mulai tertarik mengikuti ajang Duta Bahasa sejak 2024.
Namun saat itu usianya belum memenuhi syarat karena masih berstatus sebagai siswi SMA dan memilih fokus menyelesaikan pendidikan.
“Kalau ditanya kenapa saya tertarik mengikuti Duta Bahasa, sebenarnya saya mulai melirik ajang ini sejak tahun 2024. Tapi waktu itu umur saya belum cukup karena masih SMA dan saya juga masih fokus belajar untuk mengejar nilai,” kata Melani.
Pada 2025, keinginannya kembali harus ditunda. Saat itu ia masih aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi dan program kepemudaan sehingga belum dapat mengikuti proses seleksi.
Baca juga: Kisah Melani Tebuot Bame: Dari Maybrat ke China, Kini Jadi Wakil 1 Duta DPD RI
Kesempatan tersebut akhirnya datang pada 2026. Setelah menyelesaikan berbagai agenda organisasi, Melani memutuskan mendaftarkan diri sebagai peserta Duta Bahasa Papua.
“Ketika sudah ada kesempatan, saya berpikir kenapa tidak mencoba. Akhirnya saya mendaftar, mengikuti seleksi administrasi, wawancara, hingga seluruh tahapan lainnya. Puji Tuhan saya bisa lolos,” ujarnya.
Persaingan dalam ajang tersebut juga berlangsung ketat. Lebih dari 100 peserta dari enam provinsi di Tanah Papua mengikuti seleksi.
Melani berhasil menembus 20 besar dan mengikuti karantina di Jayapura sebelum akhirnya dinobatkan sebagai Pemenang I Duta Bahasa Papua 2026 sekaligus mewakili Provinsi Papua Barat Daya.
“Tentu saya sangat bersyukur dan senang karena ini memang menjadi salah satu impian saya sejak lama,” ucapnya.
Dalam karya tulis yang disusun saat seleksi, Melani mengangkat persoalan rendahnya tingkat literasi anak-anak di Kampung Refui Kokoda, Kota Sorong.
Gagasan tersebut lahir dari pengalaman pribadinya ketika beberapa kali terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar bersama komunitas sosial.
“Saya melihat sendiri bagaimana literasi anak-anak di sana masih sangat minim,” katanya.
Baca juga: Kisah Melani Tebuot Bame: Dari Maybrat ke China, Kini Jadi Wakil 1 Duta DPD RI
Baca juga: Kemenko Polkam Ajak Warga Papua Barat Daya Jadi Duta Literasi Siber
Menurut Melani, persoalan literasi di wilayah pinggiran masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Ia menilai masih banyak anak yang belum memperoleh akses pendidikan yang memadai karena berbagai faktor, terutama keterbatasan ekonomi keluarga.
“Sebagai anak muda yang sudah diberi kesempatan untuk belajar, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut membantu meningkatkan literasi mereka,” ujarnya.
Selain aktif di bidang pendidikan, Melani juga dikenal aktif berorganisasi sejak duduk di bangku sekolah. Ia pernah bergabung di OSIS, PMR, hingga membentuk komunitas yang bergerak di bidang literasi.
Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi proses penting dalam membentuk karakter serta meningkatkan rasa percaya diri.
“Sebelumnya saya termasuk orang yang takut mencoba hal baru. Takut gagal, takut dikritik, bahkan terlalu memikirkan pendapat orang lain,” katanya.
Namun, setelah aktif dalam berbagai organisasi, ia mulai memahami bahwa setiap orang harus mampu membangun dirinya sendiri tanpa bergantung pada penilaian orang lain.
“Kita tidak bisa menutup mulut semua orang. Tapi kita bisa memilih untuk tidak mendengarkan hal-hal yang hanya menjatuhkan kita. Yang penting adalah mengambil kritik yang membangun,” jelasnya.
Melani juga mengajak generasi muda agar tidak mudah terjebak dalam overthinking yang justru menghambat perkembangan diri.
“Kalau memang kritik itu baik, ambil sebagai bahan evaluasi. Tapi kalau hanya menjatuhkan, tidak perlu dipikirkan terus-menerus sampai menghambat langkah kita,” ujarnya.
Melani mengatakan, semangatnya mengikuti berbagai kompetisi tidak lepas dari dukungan kedua orang tuanya yang selalu memberikan motivasi.
Meski demikian, keinginan untuk terus mencoba berbagai ajang prestasi lahir dari tekad pribadinya untuk memanfaatkan masa muda sebaik mungkin.
“Saya berpikir, sayang sekali kalau masa muda hanya dihabiskan dengan berdiam diri. Selama masih ada kesempatan untuk belajar, menambah pengalaman dan jaringan, kenapa tidak dicoba,” katanya.
Menurutnya, setiap kompetisi tidak hanya menghadirkan pengalaman baru, tetapi juga membuka kesempatan memperluas relasi hingga tingkat nasional.(tribunsorong.com/Ismail saleh)