Voice of Baceprot Jadi Band Indonesia Pertama yang Manggung di Denmark, Sangar!
Moh. Habib Asyhad July 01, 2026 01:34 PM

Voice of Baceprot (VoB) menjadi band Indonesia pertama yang tampil di Denmark. Mereka juga jadi yang pertama tampil di Glastonbury Festival, festival musik tahunan terbesar di Inggris.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Sangar, Voice of Baceprot (VoB) manggung di Denmark. Persisnya di Copenhell Festival.

Lewat unggahan di IG mereka, BoV tampak berhasil mencuri perhatian penonton lewat penampilan energik mereka. VoB sukses mengajak penonton larut dalam penampilan mereka.

Mengutip Kompas.com, para penonton bahkan tampak membentuk moshpit sambil menikmati lagu-lagu yang dibawakan Firrda Marsya Kurnia (Marsya) dan kawan-kawan.

Penonton yang didominasi warga negara asing terlihat antusias mengikuti jalannya pertunjukan. Marsya yang menjadi vokalis juga tampil penuh semangat saat membawakan lagu-lagu VoB di hadapan banyaknya penonton.

Unggahan tersebut pun dibanjiri komentar positif dari warganet yang memuji pencapaian VoB di kancah internasional.

Banyak yang mengapresiasi perjalanan band asal Garut tersebut yang berhasil menembus industri musik dunia. Sebelumnya, Voice of Baceprot juga tampil di Glastonbury Festival 2024 di Inggris.

Penampilan itu menjadi momen pertama band asal Indonesia tampil di festival musik bergengsi tersebut. Ketika itu, Voice of Baceprot tampil di panggung Woodsies, yang juga menjadi tempat tampilnya sejumlah musisi dunia seperti Jamie xx, Kim Gordon, James Blake, dan Kneecap.

Majalah Intisari pernah menulis tentang band yang lahir di Garut, Jawa Barat itu. Lewat tulisannya di rubrik Photo Story, Agoes Rudianto menyebut mereka sebagai “mendobrak stereotipe pegiat musik berisik”.

“Gadis-gadis ini tak pernah sekali pun membayangkan, bakal menjadi buah bibir di dunia maya. Perhatian publik tiba-tiba tertuju pada sebuah potongan video mereka tengah memainkan musik dalam sebuah festival. Pasanya, musik mereka heavy metal!” tulisnya.

Tiga gadis ini, tambahnya, seakan mendobrak stigma bahwa musik cadas hanya pantas dimainkan oleh laki-laki, gondrong, dan belum mandi. Apalagi, penampilan mereka yang berhijab, menjadi fenomena langka di dunia musik cadas Indonesia. Bahkan mungkin dunia.

Adalah Firrda Marsya Kurnia (gitaris dan vokalis utama), Widi Rahmawati (pemain bass), dan Euis Siti (pemain drum) yang tergabung dalam Voice of Baceprot (VoB). Dalam bahasa Sunda, baceprot artinya berisik atau cerewet.

Namun mereka tidak mau mengartikannya dalam konotasi buruk. Melainkan untuk menyuarakan masalah-masalah negatif yang terjadi di sekitar mereka.

Gadis-gadis metal itu adalah jebolan dari sebuah madrasah tsanawiyah di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Mereka mendirikan band VoB pada 14 Desember 2014.

Awalnya, VOC terdiri atas tujuh personel. Namun empat orang kemudian mundur, karena sejumlah alasan, antara lain larangan dari keluarga dan lain sebagainya. Bahkan, mereka pernah harus lari dari rumah untuk sekadar berlatih musik sebagai persiapan mengikuti festival.

Pada awalnya, orangtua mereka juga takut anak-anak gadis mereka ini terjerumus ke hal-hal negatif. Tapi kini mereka justru mendukung, setelah VoB berhasil mendapat sejumlah prestasi hingga akhirnya tampil di televisi—bahkan manggung di luar negeri, seperti di Denmark.

Awalnya meng-cover lagu dari band-band luar, VoB akhirnya tampil dengan karya sendiri. Lagu-lagu seperti "Age Oriented", "The Enemy of Earth is You", atau "School Revolution", yang mereka tulis sendiri, adalah suara kegelisahan mereka sebagai musisi muda yang kerap mengalami diskriminasi di lingkungan sekitar mereka.

Sebagaimana dikutip dari Kompas.com, tiga personel VoB berasal dari Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ketiganya bertemu ketika menempuh pendidikan di Madrasah Tsanawiyah (Mts) Al Baqiyatussolihat Singajaya, persisnya di ekstrakurikuler teater.

“Dulu kita ekskul teater waktu kita duduk di Mts kelas 2. Terus kita mencoba drama musikal, tapi kita malah suka dengan musiknya,” tutur Marsya dalam wawancara dengan Kompas TV, 7 Juni 2017.

Rasa cinta mereka terhadap musik bermula ketika mendengar lagu-lagu kesukaan pengasuh teater mereka, Abah Erza Satia. Walau kini ketiganya metal habis, pada awalnya ketiganya punya kesukaan pada musik yang berbeda.

Marsya misalnya menyukai hip hop, sementara Widi menggemari musik funk seperti Red Hot Chili Peppers, dan Siti menikmati band metal seperti Lamb of God serta System of Down.

Menurut keterangan Marsya, mereka sering dianggap berisik dan bawel di sekolah karena sering melakukan protes. Dari kebiasaannya itu, pengasuh teater mereka memberi nama band Voice of Baceprot yang bermakna berisik atau bawel.

“Kalau ada hal yang enggak benar di sekolah, pasti kita protes. Kita juga sering bikin tulisan di mading. Kita disebut anak-anak berisik, makanya dinamakan Voice of Baceprot,” ujar perempuan kelahiran 27 Juni 2000 itu.

Jadi jangan heran jika lagu-lagu yang mereka ciptakan banyak berisi kritik-kritik sosial.

Bisa dibilang, karier mereka saat ini sedang bagus-bagusnya. Meski begitu, pada awalnya, mereka harus menghadapi tantangan dari berbagai pihak. Termasuk keluarganya sendiri.

Terlebih karena musik yang mereka bawakan dianggap terlalu keras sehingga keluarga takut dianggap buruk oleh tetangga. “Teteh (kakak) pernah menelepon sama Abah Erza sambil marah-marah. Aku kan sering pulang sore buat latihan setiap hari. Malu sama tetangga kan cewek,” ujar Euis Siti Aisyah.

Bahkan Siti sempat dikunci di kamar mandi agar tidak bisa berangkat latihan, namun akhirnya bisa kabur. Perjuangan mereka mulai terlihat hasilnya saat membawakan ulang lagu dari Rage Against The Machine dan diunggah ke media sosial.

Tak hanya Rage Against The Machine, mereka juga membawakan lagu-lagu milik band ternama seperti RHCP, Metallica, dan Slipknot.

Kerja mereka akhirnya membuahkan hasil. Pada 2018, agensi Amity Asia mengontrak mereka.

Bahkan produser musik yang juga personel band Musikimia, Stephan Santoso turut membantu mereka merilis lagu perdana berjudul “School Revolution” yang berisi tentang kritik sosial.

Dan pada 2021 kemarin, mereka melakukan tur dunia. Dimulai dari Belanda (Harlem, Nijmegen, dan Groningen) pada 28 November, lalu ke Belgia (Brussels), lalu Prancis (Rennes), dan kembali ke Belgia (Arlon), ke Prancis lagi (di Montbeliard), dan ditutup di Jenewa, Swiss, pada 10 Desember 2021.

Dan pada 2024 lalu, VoB menjadi band Indonesia pertama yang tampil di Glastonbury Festival, festival musik tahunan terbesar di Inggris. Dan sekarang, tahun 2026, Voice of Baceprot menjadi band Indonesia pertama yang tampil di Denmark. Sangar!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.