TRIBUNNEWS.COM - Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis dalam beberapa hari terakhir memicu krisis kemanusiaan, meningkatkan angka kematian hingga membuat rumah duka di sejumlah wilayah kewalahan menampung jenazah.
Lonjakan korban meninggal membuat fasilitas penyimpanan jenazah di berbagai daerah mencapai kapasitas maksimal. Bahkan, sejumlah rumah duka terpaksa menolak permintaan penyimpanan karena seluruh ruang pendingin telah penuh.
Salah satu pengusaha jasa pemakaman di Kota Orly, dekat Paris, Zouhaier Hertelli, mengatakan kondisi tersebut mulai terasa sejak pertengahan pekan lalu.
Rumah duka miliknya yang memiliki kapasitas penyimpanan sebanyak 32 jenazah kini telah terisi penuh akibat meningkatnya jumlah korban meninggal.
"Kami sudah penuh. Kesibukan benar-benar dimulai pada hari Rabu, Kamis, dan berlangsung tanpa henti hingga akhir pekan. Dalam dua hari saya menerima sekitar 150 panggilan dan terpaksa menolak semuanya karena tidak ada lagi ruang penyimpanan," ujar Hertelli, dikutip dari Reuters.
Permintaan penyimpanan jenazah, kata Hertelli, datang dari berbagai pihak, mulai dari keluarga korban, panti jompo, rumah sakit, kepolisian, hingga pemerintah daerah. Bahkan, sesama pelaku usaha jasa pemakaman juga menghubunginya karena mengalami masalah serupa.
"Kami menerima telepon dari semua pihak. Semua orang mencari solusi karena hampir seluruh fasilitas penyimpanan sudah penuh," katanya.
Kondisi yang semakin mendesak membuat Hertelli mengajukan izin kepada pemerintah setempat untuk menggunakan trailer berpendingin sebagai tempat penyimpanan jenazah sementara.
Langkah darurat tersebut dilakukan agar jenazah tetap tersimpan dengan layak sebelum proses pemakaman maupun kremasi dapat dilaksanakan.
Menurut laporan Badan Kesehatan Masyarakat Prancis melaporkan sedikitnya 1.000 kematian berlebih terjadi dalam periode Rabu (1/7/2026) hingga Minggu pekan lalu.
Baca juga: Suhu Eropa Tembus 41 Derajat, 130 Juta Warga Dikepung Gelombang Panas
Jumlah tersebut masih bersifat sementara dan diperkirakan akan terus bertambah seiring proses pendataan dari berbagai wilayah yang masih berlangsung.
Adapun mayoritas korban meninggal diketahui berasal dari kelompok lanjut usia, terutama penghuni panti jompo dan lansia yang tinggal seorang diri di rumah.
Suhu udara yang sangat tinggi meningkatkan risiko dehidrasi, gangguan pernapasan, hingga serangan jantung yang dapat berujung pada kematian apabila tidak segera mendapatkan penanganan.
Meski suhu udara mulai sedikit menurun dibandingkan saat puncak gelombang panas, sebagian besar wilayah Prancis masih mencatatkan temperatur sekitar 30 derajat Celsius.
Badan Meteorologi Nasional Prancis, Meteo-France, bahkan memperkirakan suhu akan kembali meningkat pada akhir pekan dan berpotensi bertahan hingga pekan depan.
Perkiraan tersebut memunculkan kekhawatiran baru karena gelombang panas berikutnya dikhawatirkan kembali meningkatkan jumlah korban jiwa, terutama di kalangan masyarakat yang rentan.
Selain membuat rumah duka kelebihan kapasitas, lonjakan angka kematian juga berdampak pada layanan kremasi di berbagai wilayah. Hertelli mengungkapkan antrean di sejumlah krematorium kini semakin panjang sehingga jadwal kremasi baru tersedia hingga sekitar 10 Juli.
Akibat keterlambatan tersebut, jenazah harus disimpan lebih lama di ruang pendingin. Kondisi itu membuat kapasitas penyimpanan semakin cepat penuh dan memperburuk situasi yang sudah berada dalam tekanan.
Situasi ini menunjukkan bahwa dampak gelombang panas tidak hanya dirasakan sektor kesehatan, tetapi juga membebani sistem layanan pemakaman yang harus menangani jumlah korban jauh lebih banyak dibandingkan kondisi normal.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan dokter layanan darurat SOS Médecins di Melun, sebelah selatan Paris, Sebastien Chopin.
Ia menilai dampak gelombang panas belum sepenuhnya berakhir karena banyak warga lanjut usia yang kondisi kesehatannya sudah melemah akibat paparan suhu tinggi selama beberapa hari terakhir.
Menurut Chopin, apabila suhu kembali meningkat dalam beberapa hari ke depan, risiko kematian diperkirakan akan semakin besar.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya bersama rekan-rekannya menandatangani delapan sertifikat kematian di rumah-rumah warga hanya dalam waktu empat hari saat puncak gelombang panas pekan lalu. Jumlah tersebut meningkat sekitar empat kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut menjadi indikator bahwa dampak cuaca ekstrem terhadap kesehatan masyarakat semakin serius dan membutuhkan langkah antisipasi yang lebih cepat.
Sejauh ini, Pemerintah Prancis terus memantau perkembangan cuaca dan mengimbau masyarakat agar lebih memperhatikan kelompok rentan, khususnya lansia, penderita penyakit kronis, serta warga yang tinggal seorang diri.
Jika suhu kembali meningkat sesuai prakiraan, tekanan terhadap rumah sakit, rumah duka, krematorium, dan fasilitas pelayanan publik lainnya diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam beberapa hari mendatang.
(Tribunnews.com / Namira)