TRIBUNMANADO.CO.ID - Obor Pemuda GMIM, renungan Rabu 1 Juli 2026.
Pembacaan alkitab terdapat pada Efesus 6:4.
Tema perenungan adalah Menjadi Tempat Pulang.
Khotbah:
Sobat Obor, di banyak rumah, luka tidak selalu datang dari dunia luar.
Kadang justru dari kata-kata yang seharusnya membangun, tetapi befubah menjadi tekanan.
Ada anak-anak yang tumbuh bukan tanpa kasih, tetapi dengan cara kasih yang melukai: dituntut terus, dibandingkan, bahkan tidak pernah merasa cukup.
Dan di situlah firman Tuhan dalam Efesus 6:4 berbicara dengan sangat tajam namun penuh kasih.
Rasul Paulus menulis, "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan."
Memang pada zaman itu, seorang ayah memiliki kuasa yang sangat besar dalam keluarga, bahkan hampir mutlak.
Namun justru di tengah konteks seperti itu, Injil datang mengoreksi. Kekuasaan tidak boleh digunakan untuk menekan, melainkan untuk membangun.
Juga kata "membangkitkan amarah" menunjuk pada sikap yang terlalu keras, tidak adil, atau tidak peka terhadap pergumulan anak.
Disiplin memang penting, tetapi disiplin tanpa kasih hanya meiahirkan pemberontakan atau luka yang tersembunyi.
Anak bisa saja tetap tinggal di rumah, tetapi hatinya menjauh. la bisa saja patuh, tetapi kehilangan sukacita.
Sebaliknya, Paulus mengarahkan para orang tua untuk "mendidik" dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
Ini bukan sekadar soal memberi aturan, tetapi menghadirkan teladan. Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Kasih, kesabaran, pengampunan. Semua itu menjadi bahasa iman yang paling kuat.
Sobat obor, ayat ini mungkin terasa seperti ditujukan kepada orang tua.
Namun firman ini juga mengajak kita untuk melihat relasi dalam keluarga dengan lebih utuh.
Jika kita adalah anak yang pernah terluka, Tuhan mengerti. Tetapi jika suatu hari kita menjadi orang tua, firman ini menjadi
peringatan sejakdini: jangan ulangi pola yang melukai.
Kasih dalam keluarga bukanlah kasih yang sempurna, tetapi kasih yang terus belajar.
Dan ketika Kristus menjadi pusat dalam relasi itu, didikan bukan lagi menjadi beban, melainkan jalan pertumbuhan.
Di sanalah rumah menjadi tempat pulang, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara hati. Amin.
Sumber: KPPS GMIM edisi Juni 2026