TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Partai Gerindra memilih tidak ikut mencampuri safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) untuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Juru Bicara Partai Gerindra Bahtra Banong menegaskan partainya tidak ingin mengomentari dinamika politik yang terjadi di partai lain.
Menurut Bahtra, Gerindra saat ini lebih memprioritaskan pengawalan terhadap berbagai program strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
"Kami tidak ingin berkomentar mengenai partai-partai lain," kata Bahtra, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Wakil Ketua Komisi II DPR RI itu menegaskan, fokus utama Gerindra saat ini adalah memastikan program-program prioritas Presiden Prabowo berjalan optimal dan memberikan manfaat nyata bagi rakyat.
"Fokus kami di Gerindra adalah mengawal program-program prioritas Presiden Prabowo, terutama yang berkaitan dengan agenda-agenda kerakyatan," ucapnya.
Baca juga: Pengamat Sebut Jokowi Sengaja Pilih Lampung Jadi Titik Awal Safari Politik: Tunjukkan Basis Massa
Lebih lanjut, Bahtra berharap seluruh program yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo dapat terlaksana dengan baik sehingga dampaknya benar-benar dirasakan oleh masyarakat di seluruh Indonesia.
"Mudah-mudahan seluruh program beliau dapat sukses, berhasil, dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia," pungkas Bahtra.
Sebagai informasi, Jokowi memulai rangkaian safari politik keliling Indonesia, dengan kunjungan pertamanya ke Provinsi Lampung selama tiga hari pada 26-28 Juni 2026.
Dalam safari ini, Jokowi mengenakan kemeja dan topi berlogo PSI dan hadir sebagai motivator untuk membesarkan partai.
Pakar hukum tata negara, Feri Amsari menilai safari politik yang mulai dilakukan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memiliki dua tujuan.
Selain untuk mendongkrak elektabilitas PSI menuju Pemilu 2029, langkah tersebut juga dinilai sebagai sinyal bahwa Jokowi masih memiliki peran politik.
"Dia butuh untuk partai ini dapat angka-angka yang layak untuk masuk parlemen sedari dini untuk maju," kata Feri kepada wartawan di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (28/06/2026).
"Sekaligus mau kasih tahu berbagai pihak bahwa dia masih bekerja, termasuk kepada Presiden Prabowo lah" lanjut dia.
Baca juga: Pengamat: Jokowi Gunakan Safari Politik untuk Pastikan Gibran Tetap Berpeluang di Pilpres
Meski menilai safari politik tersebut sah dilakukan, Feri mengkritik Jokowi karena dinilai tidak konsisten dengan pernyataannya usai mengakhiri masa jabatan sebagai presiden.
"Katanya mau istirahat tetapi malah kemudian terjun ke dunia politik yang menurut saya seharusnya sudah masuk ke fase berwibawa sebagai guru bangsa," ujarnya.
Feri juga menyinggung pernyataan Jokowi yang sebelumnya menyebut akan kembali menjadi rakyat biasa.
Namun, menurutnya, Jokowi justru aktif menjadi bagian dari mesin politik PSI.
"Dia menyatakan akan istirahat, akan pulang kampung menjadi warga negara biasa, ternyata kemudian menjadi mesin politik partai tertentu yaitu partai anaknya sendiri," kata Feri.
Menurut Feri, tidak ada larangan bagi Jokowi untuk melakukan safari politik.
Namun, ia mempertanyakan kepatutan langkah tersebut karena dianggap bertolak belakang dengan pernyataan yang pernah disampaikan Jokowi.
Jokowi memulai rangkaian safari politik keliling Indonesia, dengan kunjungan pertamanya ke Provinsi Lampung selama tiga hari pada 26-28 Juni 2026.
Dalam safari ini, Jokowi mengenakan kemeja dan topi berlogo Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan hadir sebagai motivator untuk membesarkan partai.
Dikutip dari Tribun Lampung, Jokowi menerima gelar adat kehormatan 'Baginda Pemuka Bangsa' yang dianugerahkan oleh perwakilan lima kerajaan adat besar di kawasan cagar budaya Kedatun Keagungan, Kota Bandar Lampung, kemarin.
Kemudian, Jokowi memberikan pengarahan taktis dalam agenda Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) DPD PSI Kota Bandar Lampung di Pondok Rimbawan, Bandar Lampung.
Baca juga: Saat Komarudin Watubun Enggan Bahas Soal Jokowi: Bagian Masa Lalu PDIP
Namun, Rangkaian kegiatan Jokowi di Lampung rupanya diwarnai aksi penolakan dari warga. Khususnya sejumlah ibu-ibu.
Pada Sabtu, ratusan massa aksi yang didominasi ibu-ibu mengenakan gamis hitam nekat menggelar aksi demonstrasi besar di kawasan Bundaran Adipura.
Mereka meneriakkan 'Usir Jokowi' di Tugu Adipura ketika aksi berlangsung.
Massa yang terafiliasi dalam Forum Suara Masyarakat Lampung (FSML) ini, mengancam akan melakukan aksi long march untuk mengepung dan menggeruduk Gedung Rimbawan, lokasi di mana Jokowi tengah menghadiri Rakorda PSI Kota Bandar Lampung.