TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah kasus perundungan di lingkungan sekolah menjadi alarm keras bagi seluruh stakeholders pendidikan mengenai pentingnya sistem pengawasan dan respons cepat terhadap aksi perundungan.
Pada Senin (18/5/2026) lalu, siswa SMP berinisial IL menjadi korban perundungan di sekolahnya di Lumajang, Jawa Timur.
Pelaku merupakan teman korban berinisial D yang memaksa korban duduk di kursi kemudian memukulnya berulang kali.
Kepala korban terbentur keras ke tembok, menyebabkan luka dan pusing hebat.
Setelah kejadian tersebut, kondisi kesehatan IL terus menurun dan sempat dirawat di RSUD dr. Haryoto Lumajang.
Pada Selasa (23/6/2026), korban dinyatakan meninggal dan keluarga baru membuat laporan.
Kasi Humas Polres Lumajang, Ipda Suprapto, mengatakan teman korban, D telah ditetapkan sebagai tersangka bullying.
Baca juga: Kemenkes Bergerak Usut Kasus Kematian dr. Icha: Tak Ada Ruang bagi Perundungan Nakes!
"Terduga pelaku sementara satu orang diamankan oleh PPA Polres Lumajang, statusnya sudah tersangka."
"Motifnya saat ini yang kita ketahui bullying di lingkungan sekolah," paparnya, Selasa (30/6/2026).
Keluarga menyebut pelaku berjumlah dua orang, namun penyidik masih mendalami keterlibatan siswa lain.
"Untuk kemungkinan pelaku lain masih dalam penyelidikan unit PPA," katanya, dikutip dari TribunJatim.com.
Awalnya, tersangka mengintimidasi korban untuk duduk di kursi yang berada di samping dinding.
"Terlapor (D) memukuli korban menggunakan tangan kanannya dengan kondisi mengepal sebanyak tiga kali. Pukulan pertama diarahkan keras ke bagian dada korban," bebernya.
Akibat pukulan keras, bibir korban robek berdarah dan korban langsung mengeluhkan pusing hebat.
Sehari setelah perundungan, pihak sekolah melakukan mediasi.
Baca juga: MW Bocah 6 Tahun Korban Perundungan di Jakpus Trauma dan Histeris Saat Bertemu Orang Asing
"Hingga pada hari Senin (22/6/2026), kondisi kesehatan anak ini drop total dan memburuk. Pihak keluarga yang panik langsung melarikannya ke RSUD dr. Haryoto Lumajang untuk mendapatkan perawatan intensif. Namun, setelah sehari semalam dirawat, korban dinyatakan meninggal dunia," sambungnya.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, menyoroti kasus perundungan yang menewaskan siswa SMP.
Ia mengaku kecewa dengan sistem pengawasan di sekolah swasta tersebut.
"Kami akan panggil kepala sekolahnya, pihak yayasannya, dan yang paling penting adalah para guru yang diduga kuat melihat atau mengetahui saat terjadinya bullying tersebut namun tidak mengambil tindakan pencegahan yang cepat."
"Penanganan hukum pelaku anak kini sudah dikawal penuh oleh Unit PPA Satreskrim Polres Lumajang," ucapnya.
(Tribunnwes.com/Mohay) (TribunJatim.com/Imam)