Kasubsi Operasi Kansar Pangkalpinang Ungkap Detik-detik Pencarian 4 Remaja Tersesat di Bukit Maras
Ardhina Trisila Sakti July 01, 2026 01:42 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Operasi pencarian empat remaja yang sempat tersesat di kawasan Bukit Maras, Kabupaten Bangka, menjadi salah satu misi penyelamatan yang menyita perhatian publik.

Di balik keberhasilan tim SAR Gabungan menemukan seluruh korban dalam keadaan selamat, tersimpan proses pencarian yang berlangsung sepanjang malam dengan tantangan medan hutan yang terjal, vegetasi lebat hingga keterbatasan sinyal komunikasi.

Dalam wawancara eksklusif Dialog Ruang Tengah Bangka Pos, Kepala Subseksi Operasi Kantor Pencarian dan Pertolongan (Kasubsi Operasi Kansar) Pangkalpinang, Danu Wahyudi mengungkap kronologi dan proses pencarian empat remaja tersesat. 

Mulai dari sejak laporan pertama diterima, strategi pembagian regu pencarian, kendala evakuasi korban yang mengalami cedera hingga evaluasi dan pesan penting bagi masyarakat yang gemar melakukan pendakian agar kejadian serupa tidak terulang.

Q: Bisa diceritakan bagaimana dinamika di posko utama saat laporan pertama kali diterima pada Minggu malam? Apa pertimbangan utama hingga akhirnya tim dibagi menjadi beberapa regu pencarian?

A: Saat itu Kantor Pencarian dan Pertolongan Pangkalpinang menerima laporan langsung dari para korban. Mereka menghubungi hotline kami dan menyampaikan bahwa mengalami disorientasi medan atau tersesat saat melakukan pendakian menuju Air Terjun Meruyan di kawasan Bukit Maras.

Korban sempat mengirimkan titik koordinat lokasi mereka. Pada awalnya mereka belum meminta bantuan evakuasi, sehingga kami memberikan arahan melalui WhatsApp agar berusaha kembali menemukan jalur utama pendakian.

Secara bersamaan kami berkoordinasi dengan BKSDA selaku pengelola kawasan, melakukan pengumpulan data awal di posko, sekaligus mengerahkan personel menuju lokasi.

Setelah komunikasi dengan korban terputus, kami memutuskan untuk melaksanakan operasi pencarian.

Dalam operasi SAR di kawasan gunung maupun hutan, pembagian regu merupakan prosedur standar. Berdasarkan informasi titik awal korban serta keterangan bahwa mereka mengikuti aliran sungai, personel kemudian dibagi menjadi tiga regu.

Tim pertama bergerak dari Pos Meruyan bersama unsur SAR gabungan, sedangkan dua tim lainnya melakukan penyisiran melalui jalur Bukit Maras sesuai rencana operasi.

Q: Jika dibandingkan dengan operasi SAR lainnya di Bukit Maras, seberapa tinggi tingkat kesulitan medan pada pencarian yang berlangsung semalaman tersebut?

A: Bukit Maras memiliki ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut dengan karakteristik medan yang cukup terjal.

Bagi pendaki berpengalaman, perjalanan menuju puncak biasanya dapat ditempuh dalam waktu tiga hingga lima jam. Namun bagi pendaki pemula tentu membutuhkan waktu yang lebih lama.

Tantangan terbesar dalam operasi pencarian ini adalah vegetasi hutan yang sangat rapat serta kontur medan yang curam. Karena itu pencarian dilakukan secara estafet sesuai rencana operasi agar seluruh area dapat disisir secara maksimal.

Q: Melihat kondisi korban yang mengalami kelelahan ekstrem dan cedera, apa evaluasi utama dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Pangkalpinang untuk jalur pendakian Bukit Maras kedepan?

A: Evaluasi utama kami adalah memperkuat koordinasi dengan pengelola kawasan, yaitu BKSDA.

Apabila ada pendaki yang membutuhkan pertolongan, koordinasi yang baik akan mempercepat proses pencarian maupun evakuasi. Sinergi dengan seluruh unsur potensi SAR menjadi faktor penting dalam keberhasilan setiap operasi penyelamatan.

 Q: Tim pertama berhasil menemukan keempat remaja pada pukul 04.55 WIB menjelang subuh. Bagaimana kondisi mereka saat pertama kali ditemukan?

A: Korban ditemukan sekitar 800 meter dari Air Terjun Meruyan.

Saat ditemukan, kondisi keempat korban sudah sangat kelelahan. Salah satu korban mengalami cedera pada kaki kanan akibat terjatuh.

Dari sisi psikologis, mereka tampak sangat lega. Terlihat luapan emosi karena akhirnya berhasil ditemukan oleh tim SAR dalam keadaan selamat.

Informasi titik lokasi yang sempat dikirimkan korban sebelumnya sangat membantu tim gabungan sehingga proses pencarian dapat berlangsung lebih cepat.

Q: Salah satu korban mengalami cedera pada kaki kanan sehingga proses evakuasi berlangsung lebih lama. Apa kendala terbesar saat mengevakuasi korban dari lokasi penemuan?

A: Korban yang mengalami cedera harus dievakuasi dengan sangat hati-hati.

Jarak dari lokasi penemuan menuju titik evakuasi membutuhkan waktu lebih dari satu jam perjalanan kaki. Karena mengalami cedera pada kaki kanan, proses evakuasi dilakukan secara perlahan untuk menjaga kondisi korban tetap stabil dan mencegah cedera semakin parah.

 Q: Seberapa besar peran masyarakat lokal maupun pengelola Bukit Maras dalam membantu proses pencarian?

A: Potensi SAR gabungan memiliki peran yang sangat besar dalam operasi ini.

Kami mendapat dukungan dari BKSDA, para relawan serta masyarakat setempat. Karena pencarian dilakukan di kawasan hutan dan pegunungan, pengetahuan masyarakat lokal mengenai medan sangat membantu dalam menentukan jalur pencarian yang paling efektif.

 Q: Hutan Bukit Maras dikenal memiliki vegetasi yang sangat rapat. Seberapa efektif penggunaan drone thermal saat operasi pencarian pada malam hari?

A: Drone thermal digunakan untuk mendeteksi suhu tubuh manusia.

Namun pada operasi kali ini efektivitasnya cukup terbatas karena vegetasi Bukit Maras sangat rapat sehingga panas tubuh korban sulit terdeteksi dari udara.

Meski demikian, penggunaan drone tetap kami maksimalkan. Apabila korban berada di area yang lebih terbuka, tentu proses deteksi dapat dilakukan dengan lebih cepat.

Q: Jalur pendakian Bukit Maras memiliki sejumlah titik tanpa sinyal. Bagaimana Starlink membantu menjaga komunikasi selama operasi berlangsung?

A: Starlink kami gunakan ketika tim berada di lokasi yang tidak memiliki jaringan komunikasi.

Di sepanjang jalur pendakian Bukit Maras memang terdapat beberapa titik blank spot. Dalam kondisi tersebut, Starlink menjadi sarana utama bagi tim di lapangan untuk mengirimkan informasi kepada posko utama sehingga koordinasi selama operasi tetap berjalan dengan baik.

Q: Seperti apa kondisi jalur yang dilalui oleh empat remaja tersebut saat menuju Air Terjun Meruyan?

A: Sebenarnya jalur menuju Air Terjun Meruyan tidak terlalu berat. Medan yang lebih menantang justru berada di jalur menuju puncak Bukit Maras, karena posisi air terjun sendiri berada di bagian tengah kawasan.

Perlu kami sampaikan, sejak awal keempat remaja tersebut memang memiliki tujuan untuk menuju Air Terjun Meruyan, bukan melakukan pendakian hingga ke puncak Bukit Maras.

 Q: Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa keempat remaja tersebut mendaki melalui jalur yang tidak resmi. Apakah informasi tersebut benar?

A: Berdasarkan informasi yang kami terima, sejak awal keempat remaja tersebut sudah terdata atau melaporkan keberadaan mereka di Pos Meruyan.

Artinya, mereka menggunakan jalur yang resmi. Namun, dalam perjalanan mereka mengalami disorientasi atau kehilangan arah sehingga keluar dari jalur yang seharusnya.

Q: Selain penanganan fisik, apakah ada pendampingan khusus bagi korban untuk memulihkan kondisi psikologis setelah sempat tersesat di hutan?

A: Setelah seluruh korban berhasil dievakuasi dan dibawa ke Pos Meruyan, penanganan selanjutnya kami serahkan kepada tim medis yang telah disiagakan di posko.

Tim medis melakukan pemeriksaan kesehatan sekaligus memberikan pendampingan sesuai dengan kondisi masing-masing korban setelah proses evakuasi selesai.

Q: Terakhir, apa pesan atau himbauan dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Pangkalpinang kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang gemar mendaki atau beraktivitas di alam terbuka, agar kejadian serupa tidak terulang?

A: Bagi masyarakat yang memiliki hobi berwisata alam atau melakukan pendakian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, kuasai jalur pendakian dan pahami orientasi medan sebelum memulai perjalanan. Pengetahuan tentang medan merupakan bekal utama agar tidak mudah tersesat.

Kedua, pastikan kondisi fisik benar-benar prima. Jangan memaksakan diri apabila kondisi tubuh tidak memungkinkan karena aktivitas pendakian membutuhkan stamina yang baik.

Ketiga, siapkan logistik yang cukup, perlengkapan medis, serta peralatan yang dibutuhkan selama perjalanan untuk mengantisipasi kondisi darurat.

Keempat, jangan lupa melaporkan rencana pendakian kepada pengelola kawasan. Dengan adanya pendataan tersebut, proses pencarian dan pertolongan akan jauh lebih mudah apabila terjadi keadaan darurat.

Terakhir, apabila belum menguasai jalur pendakian, sebaiknya menggunakan jasa pemandu (guide) atau meminta pendampingan dari pengelola kawasan. Hal ini akan meminimalkan risiko tersesat maupun potensi bahaya lainnya selama beraktivitas di alam terbuka.

(Bangkapos.com/Vigestha Repit)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.