TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK - Direktur Institut Unggul Sinergi Byak Abadi (USBA), Charles Imbir menegaskan bahwa Hutan Papua menyimpan cadangan karbon untuk dunia yang berfunsi sebagai pengatur siklus air dan curah hujan.
"Hutan Papua adalah penyumbang karbon terbesar di dunia, menjaga keseimbangan suhu, serta menopang keanekaragaman hayati yang menjadi fondasi ketahanan ekosistem penghuni bumi," tutur Charles Imbir, dalam siaran pers kepada Tribunpapuabarat.com, Rabu (1/7/2026).
Pernyataan itu disampaikan di tengah sorotan global atas gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada Juni 2026.
Ia mengatakan bahwa suhu di sejumlah negara seperti Prancis, Spanyol, Italia, dan Jerman melampaui 40°C, memicu kebakaran hutan, gangguan kesehatan, penurunan produktivitas ekonomi, serta tekanan besar terhadap infrastruktur publik.
"Laporan awal menunjukkan lebih dari 1.300 orang meninggal dunia akibat dampak langsung maupun tidak langsung dari gelombang panas tersebut. Jumlah korban diperkirakan masih bertambah seiring proses verifikasi di berbagai negara," ulas Charles.
Baca juga: Pemerintah Cabut 4 IUP di Raja Ampat, Institut Usba: Tak Konsisten Jalankan Regulasi
Benteng Iklim Global
Tragedi ini, kata Charles Imbir, menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan krisis yang sedang berlangsung.
Menurut Charles, peran Papua jauh lebih besar daripada sekadar penyerap karbon.
"Papua adalah infrastruktur ekologis global yang menyediakan jasa iklim (global climate services) bagi seluruh umat manusia," tegasnya.
Bahwa pendekatan bentang alam dan bentang laut (landscape and seascape approach) menjadi relevan untuk menjaga hutan, sungai, pesisir, mangrove, padang lamun, hingga terumbu karang sebagai satu sistem ekologis yang saling terhubung.
Baca juga: Enam Gubernur di Tanah Papua Bersatu Wujudkan Pembangunan Rendah Karbon
Raja Ampat sebagai Benteng Laut
Ia berpandangan bahwa jika Papua adalah benteng iklim dunia di daratan, maka Raja Ampat menjadi benteng penting di wilayah laut.
Kawasan ini (Raja Ampat) berada di jantung Segitiga Karang (Coral Triangle), pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia.
Ekosistem mangrove dan padang lamun Raja Ampat menyimpan cadangan karbon biru (blue carbon), melindungi pesisir dari cuaca ekstrem, serta memperkuat ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim.
Charles menekankan, bahwa masyarakat adat Papua adalah pengelola utama ekosistem.
Praktik tradisional seperti pengaturan wilayah adat dan sasi laut di Raja Ampat menunjukkan bahwa mereka bukan objek konservasi, melainkan penyedia jasa iklim global.
“Pengakuan hak masyarakat adat, penguatan kelembagaan adat, dan pembagian manfaat yang adil bukan hanya soal keadilan sosial, tetapi bagian penting dari strategi global menghadapi krisis iklim,” ujarnya.
Investasi Global
Terakhir, ia menyatakan bahwa gelombang panas di Eropa menjadi pengingat bahwa tidak ada negara yang benar-benar aman dari krisis iklim.
Sebaliknya, kata Charles, ketika hutan Papua dan laut Raja Ampat tetap terjaga, manfaatnya dirasakan seluruh umat manusia.
“Menjaga Papua berarti memperkuat hak, peran, dan kepemimpinan masyarakat adat sebagai penjaga benteng terakhir iklim dan keanekaragaman hayati dunia,” pungkas Charles Imbir.